JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

POTENSI PRODUKSI DAN KEBUTUHAN PUPUK ORGANIK PADA SISTEM USAHATANI INTEGRASI TANAMAN TERNAK DI LAHAN MARGINAL MENGGUNAKAN ANALISIS SISTEM DINAMIK

POTENSI PRODUKSI DAN KEBUTUHAN  PUPUK ORGANIK  PADA SISTEM USAHATANI INTEGRASI TANAMAN TERNAK  DI LAHAN MARGINAL MENGGUNAKAN ANALISIS SISTEM DINAMIK

(Studi Kasus Kecamatan Gerokgak Kabupaten Buleleng Provinsi Bali)

 

I Made Rai Yasa1, I N Adijaya1, dan Paulus  C Paat1

1Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Bali

Jl. By Pass Ngurah Rai Pesanggaran Denpasar Selatan

2Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Sulawesi Utara

Jl. Kampus Pertanian Kalasey Manado

 

ABSTRAK

Kecamatan Gerokgak memiliki wilayah beriklim kering, tofografi berbukit, miskin unsur hara, dan solum tanahnya tipis (lahan marginal); meskipun demikian,  Gerokgak memiliki kepadatan populasi sapi mencapai 129 ekor/km2 lebih padat dibandingkan Bali yakni 113 ekor/km2; berpotensi menghasilkan pupuk organik yang dapat digunakan untuk meningkatkan kesuburan lahan di daerah ini. Terkait dengan kondisi tersebut dilakukan analisis untuk mengetahui potensi produksi dan kecukupan pupuk organik apabila usahatani dilakukan secara terintegrasi.  Karena permasalahan produksi dan kebutuhan pupuk organik merupakan permasalahan kompleks dan dinamis,  yakni terkait dengan perubahan tataguna lahan, jenis tanaman serta dinamika populasi ternak,  maka model disusun dengan pendekatan sistem dinamis didukung pendekatan Participatory Rural Appraisal (PRA).Penelitian dilaksanakan dari bulan April  2010 sampai Maret  2011, menggunakan software Powersim Constructor versi 2.5d untuk simulasi. Hasil penelitian menunjukkan berdasarkan hasil PRA, teridentifikasi model  usahatani ternak sapi di wilayah Gerokgak adalah model integrasi; namun pupuk organik yang dihasilkan  dimanfaatkan terbatas untuk  untuk memupuk  tanaman jagung, cabe, dan anggur. Penerapan model usahatani integrasi yang diintroduksi (pupuk organik juga digunakan  untauk tanaman selain jagung, anggur, dan cabe) berpotensi meningkatkan kebutuhan pupuk organik yaitu  dari 14,207 t pada  tahun 2012 menjadi 33,721 t pada tahun 2014, bahkan menjadi 56,739 t pada tahun 2034. Peningkatan kebutuhan tersebut menyebabkan dosis pupuk  yang akan  tersebar pada lahan budidaya untuk tahun 2009, 2012, dan 2034 berturut-turut  untuk  kondisi aktual yakni dari 1,7 t/ha,  1,72 t/ha, dan  2,19 t/ha; berbeda dengan model introduksi yakni dari 1,7 t/ha, 3,9 t/ha, dan 5,21 t/ha; yang berpotensi meningkatkan kesuburan lahan di wilayah Gerokgak.

 

Kata kunci : Pupuk organik, sistem integrasi, lahan marginal, sistem dinamis