JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Kajian Sistem Tanam Legowo mendukung Peningkatan Produktivitas Padi Sawah di Kecamatan Kulawi Selatan

KAJIAN SISTEM TANAM LEGOWO MENDUKUNG PENINGKATAN PRODUKTIVITAS PADI SAWAH

DI KECAMATAN KULAWI SELATAN

Irwan S. Padang, A. Irmadamayanti dan T. Febrianti

Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Sulawesi Tengah

Jalan Lasoso 62 Biromaru, Sigi, Sulawesi Tengah

This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

ABSTRAK

Sistem tanam jajar legowo (2:1 dan 4:1) merupakan salah satu komponen teknologi dalam paket Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) yang diharapkan dapat meningkatkan produktivitas padi.  Kajian  bertujuan untuk mengetahui pengaruh penerapan sistim tanam jajar legowo terhadap pertumbuhan dan peningkatan hasil, serta pertambahan pendapatan petani. Kajian dilaksanakan di lahan petani di Kecamatan Kulawi Selatan,  pada MT II tahun 2010,  dengan sistim tanam jajar legowo 2:1, jajar legowo 4:1 dan biasa (pola petani). Parameter pertumbuhan yang diamati meliputi  tinggi tanaman, jumlah anakan maksimum, jumlah anakan produktif, panjang malai, jumlah biji gabah/malai dan hasil panen. Selain itu dilakukan pencatatan harga input - output yang digunakan. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa semua parameter pertumbuhan tanaman dengan sistim tanam jajar legowo memberikan hasil  lebih baik dari sistem tanam biasa.  Penerapan sistem legowo 2:1 dapat meningkatkan hasil padi sebesar 30,23%  atau 1.330 kg dibanding sistem tanam biasa.  Rata-rata produktivitas yang diperoleh pada sistem legowo adalah 8.650 kg dan pada sistem biasa 6.140 kg.  Berdasarkan hasil analisis, tingkat keuntungan usahatani padi sawah pada sistem tanam legowo adalah Rp. 19.678.250,-/ha/mt, dan pada sistem tanam biasa Rp. 12.336.500,-/ha/mt. sedangkan R/C ratio pada sistem tanam legowo berkisar antara 3,29 hingga 3,37 dan 2,62 pada sistem tanam biasa.

 

Kata kunci : sistem tanam,  padi, produktivitas

PENDAHULUAN

Permintaan terhadap beras sebagai makanan utama sebagian  besar  penduduk Indonesia  terus  mengalami peningkatan  setiap tahun.  Menurut  Swastika et al,. (2000),  proyeksi  permintaan  beras  mengalami  peningkatan dan pada tahun 2025 diperkirakan  sampai 78 juta (Balai Penelitian Tanaman Padi, 2002), dan defisit beras diperkirakan sebesar 13,50 %  per tahun apabila  tidakdilakukan peningkatan produktivitas dan perluasan areal panen. Arifin et al,. (2000) melaporkan bahwa jika tidakterdapat  terobosan  teknologi  yang efisien  danef ektif,maka keamanan pangan akan terganggu.Tanaman padi sawah merupakan salah satu komoditi pertanian tanaman pangan yang sangat strategis. Hampir 90 % rakyat Indonesia setiap hari mengkonsumsi beras. Rendahnya produkifitas tersebut disebabkan oleh karena teknologi yang diterapkan petani dalam usahatani padi sawah masih mengabaikan persyaratan teknis budidaya diantaranya penggunaan varietas yang tidak berlabel dan penggunaan pupuk yang tidak berimbang serta kurangnya perlindungan dari Organisme Pengganggu Tanaman (OPT).  Penerapan  PTT  didasarkan  pada  empat  prinsip yaitu: 1) PTT merupakan suatu pendekatan pengelolaan sumberdaya  tanaman,  lahan  dan air;  2) PTT  memanfaatkan  teknologi  pertanian  yang sudah  dikembangkandan  diterapkan  dengan  memeperhatikan  unsur  keterkaitan sinergis antar teknologi; 3) PTT memeperhatikan kesesuaian  teknologi  dengan  lingkungan  fisik maupun sosial  ekonomi  petani;  dan  4) PTT  bersifat  partisipatif dimana  petani  terlibat  secara  langsung dalam  memilih dan melakukan pengujian.

METODELOGI

Kegiatan dilakukan pada lahan sawah di Kecamatan Kulawi Selatan Kabupaten Sigi Provinsi Sulawesi Tengah pada bulan Februari-Mei 2010.  Lahan yang digunakan seluas 1 ha.

Sarana yang digunakan yaitu benih 25 kg, Urea 100 kg, NPK Phonska 300 kg, pupuk organik 500 kg, herbisida 1 liter, fungsida 500 ml, insektisida  1 kg.

Metode yang dilaksanakan dalam kegiatan ini adalah demplot penelitian sederhana untuk melihat perbedaan perlakuan yang digunakan. Perlakuan yang digunakan adalah :

  1. Legowo 2 : 1, tanam 2-3 btg/rumpun
  2. Legowo 4 : 1, tanam 2-3 batang/rumpun
  3. Kontrol (pola petani) : jumlah bibit dan jarak tanam tidak teratur sesuai kebiasaan petani.

Parameter Pengamatan :

  1. Tinggi Tanaman

Tinggi tanaman diukur pada saat panen.

  1. Jumlah Anakan Maksimum

Jumlah anakan dihitung pada saat umur 50 HST yang dianggap sebagai umur pembentukan anakan maksimum.

  1. Jumlah Anakan Produktif

Jumlah anakan produktif dihitung pada bersamaan dengan panen

  1. Panjang Malai

Panjang malai diukur 1 kali yaitu pada saat panen.

  1. Jumlah Biji Gabah / Malai

Jumlah biji gabah/malai dihitung 1 kali yaitu pada saat panen.

  1. Hasil Panen

Hasil panen diukur pada saat panen yaitu berdasarkan hasil ubinan.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Tinggi tanaman, jumlah anakan maksimum disajikan pada tabel 1. Ketiga paramater ini tidak menunjukkan perbedaan nyata.  Sistim tanam legowo, baik legowo 2:1 maupun legowo 4:1 memberikan hasil tinggi tanaman yang paling tinggi (102,2 cm) dibandingkan dengan cara tanam biasa (96 cm).  Hal ini diduga karena pengaruh dari efek tanaman pinggir (border effect).  Jumlah anakan maksimum tertinggi ditunjukkan oleh cara tanam biasa (25,2) kemudian sistim tanam legowo, baik legowo 2:1 maupun 4:1 menunjukkan angka yang sama yaitu 21,6.  Ismunadji (1992) mengatakan bahwa jumlah anakan maksimum ditentukan oleh jarak tanam, sebab jarak tanam menentukan radiasi matahari, hara mineral serta budidaya tanaman itu sendiri. Tetapi pada pembentukan anakan produktif, jumlah anakan produktif tertinggi ditunjukkan oleh sistim tanan legowo 2:1 (17,6), kemudian legowo 4:1 (16,8) dan yang terendah yaitu sistim tanam biasa (16,2).  Hal diduga juga karena efek tanaman pinggir, karena diharapkan bahwa dengan sistim tanam legowo akan menghasilkan banyak anakan produktif.  Gardner (1991) berpendapat bahwa tanaman padi potensi pembentukan anakan produktif terlihat dari jumlah anakan, tetapi tidak selamanya demikian karena pembentukan anakan dipengaruhi oleh lingkungannya.

 

Tabel 1.  Rata-rata tinggi tanaman, jumlah anakan maksimum dan jumlah anakan produktif.

Perlakuan

Tinggi Tanaman (cm)

Jumlah Anakan Maksimum

Jumlah Anakan Produktif

Kontrol (Pola Petani)

96tn

25,2 tn

16,2 tn

Legowo 2 : 1

102,2tn

21,6 tn

17,6 tn

Legowo 4 : 1

100,2 tn

21,6 tn

16,8 tn

Angka-angka yang diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata menurut uji BNJ taraf 5%

 

Pada tabel 2, disajikan hasil dari pengukuran panjang malai, jumlah biji gabah/malai dan hasil panen.  Dari hasil tersebut didapatkan bahwa sistem tanam legowo 2:1 memberikan hasil rata-rata panjang malai yang tertinggi (25,6 cm), disusul legowo 4:1 (25,5 cm) dan sistim tanam biasa memberikan hasil yang terendah  (23,2 cm).  Untuk jumlah biji gabah/malai, sistem tanam legowo 2:1 juga memberikan hasil yang tertinggi yaitu 174, disusul legowo 4:1 (165) dan terendah adalah sistem tanam biasa yaitu 100,4.  Demikian pula untuk hasil, berdasarkan hasil ubinan, tertinggi ditunjukkan oleh sistem tanam legowo 2:1 (8,8 ton/ha), legowo 4:1 (8,5) dan terendah sistem tanam biasa (6,14 ton/ha).  Hal ini menunjukkan bahwa sistem tanam legowo memberikan hasil yang paling tinggi untuk ketiga parameter pengamatan tersebut.  Ini diduga berhubungan erat dengan sistim tanam legowo 2:1 yang semua tanaman berada pada barisan pinggir. Menurut Vegera dalam Yuhelmi (2002), faktor yang paling penting mempengaruhi hasil gabah yang tinggi adalah anakan dan jumlah malai yang terbentuk.

 

Tabel 2.  Rata-rata panjang malai, jumlah biji gabah/malai dan hasil panen

Perlakuan

Panjang Malai (cm)

Jumlah Biji Gabah/Malai

Hasil Panen

(GKP/ha)

Kontrol (Pola Petani)

23,2 a

100,4 a

6,1 a

Legowo 2 : 1

25,6 b

174,0 c

8,8 b

Legowo 4 : 1

25,5 b

165,0 b

8,5 b

Angka-angka yang diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata menurut uji BNJ taraf 5%

 

Penerapan sistem legowo 2:1 dapat meningkatkan hasil padi sebesar 30,23%  atau 1.330 kg dibanding sistem tanam biasa.  Rata-rata produktivitas yang diperoleh pada sistem legowo adalah 8.650 kg dan pada sistem biasa 6.140 kg.  Berdasarkan hasil analisis, tingkat keuntungan usahatani padi sawah pada sistem tanam legowo adalah Rp. 19.678.250,-/ha/mt, dan pada sistem tanam biasa Rp. 12.336.500,-/ha/mt. sedangkan R/C ratio pada sistem tanam legowo berkisar antara 3,29 hingga 3,37 dan 2,62 pada sistem tanam biasa (pola petani).

KESIMPULAN

  1. Dari hasil pengujian menunjukkan bahwa penggunaan sistem tanam legowo 2:1 memberikan hasil (produksi) yang terbaik yaitu 8,8 t/ha
  2. Berdasarkan perhitungan R/C ratio, sistem tanam legowo memberikan hasil terbaik yaitu 3,37.

Dengan pengujian ini, diharapkan petani dapat mengaplikasikan penggunaan sistem tanam legowo untuk mendukung peningkatan produktivitas padi sawah serta keuntungan dari sisi ekonomi.

DAFTAR PUSTAKA

Arifin, Z, I. Sumono & L.I. Mangestuti.  2000.  Keragaan dan Analisis Sistem Usahatani Berbasis (SUTPA) di Kecamatan Rejoso, Kabupaten Pasuruan.  Buletin Teknologi dan Informasi Pertanian 3:59-67. BPTP Karangploso

Balai Penelitian Tanaman Padi. 2002.  Pengelolaan Tanaman Terpadu Inovasi Sistem Produksi Padi Sawah Irigasi (Brosur).  Balai Penelitian Tanaman Padi.  Badan Litbang Pertanian.

Gardner, P, F, R, B, Pearce dan R, I, Michell. 1991.  Fisiologi Tanaman Budidaya.  Terjemahan oleh H. Susilo.  Universitas Indonesia Press, Jakarta.

Ismunadji, M., dkk. 1992.  Padi Buku 2.  Penelitian dan Pengembangan Pertanian Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, Bogor.

Swastika, D.K.S., P.U. Hadi, & N. Ilham. 2000.  Proyeksi Penawaran dan Permintaan Komoditas Tanaman Pangan: 2000-10.  Pusat Peneltiian Sosial Ekonomi Pertanian.  Bogor.

Yuhelmi, R.  2002.  Pengaruh Interval Penyiaraman Terhadap Beberapa Varietas Padi Gogo dari Kabupaten Kuantan Singingi dan Siak Sri Indrapura.

Pertanyaan :

  1. Bagaimana teknik mempermudah proses penanaman legowo ?

Jawab :

Untuk mempermudah penanaman legowo 2 :1, dapat menggunakan caplak roda.  Dengan penggunaan caplak roda ini, akan terbentuk langsung pola tanam legowo seperti yang diinginkan.

  1. Mengapa sistem tanam legowo memberikan hasil yang paling tinggi?

Jawab :

  1. Adanya pertambahan populasi
  2. Adanya ruang yang lebih baik untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman padi berupa efek tanaman pinggir (side border effect).