JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Peningkatan Hasil Padi, Jagung dan Kedelai melalui Pendampingan SL-PTT pada Lahan Kering di Kabupaten Jeneponto

PENINGKATAN HASIL PADI ,JAGUNG DAN KEDELAI MELALUI PENDAMPINGAN SL-PTT PADA LAHAN KERING DI KABUPATEN JENEPONTO

M.Basir Nappu dan Herniwati

Balai Pengakajian Teknologi Pertanian Sulawesi Selatan

Jl. Perintis Kemerdekaan km 17,5 Makassar

ABSTRAK

Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) merupakan suatu usaha meningkatkan hasil dan pendapatan dengan memperhatikan penggunaan sumber daya alam secara bijak. Tujuan utama dari SL-PTT adalah  mempercepat penyebaran teknologi PTT dari peneliti ke petani peserta dan diharapkan terjadi difusi secara alamiah dari alumni SL-PTT kepada petani di sekitarnya. Kegiatan pendampingan dilaksanakan di kabupaten Jeneponto yang merupakan daerah kering mencakup SL-PTT Padi, Jagung, dan Kedelai, berlangsung mulai Januari hingga Desember 2010.  Kegiatan ini dilakukan berdasarkan pendekatan “Pendampingan dan Pengawalan Teknologi” terutama melalui kegiatan Demonstrasi Plot (Demplot) varietas unggul baru (VUB), penyebaran bahan informasi inovasi teknologi, dan sebagai narasumber pada pelatihan dan pertemuan kelompok.  Sebaran lokasi pendampingan SL-PTT di kabupaten Jeneponto terdiri atas  150 lokasi padi dengan demplot 54 unit;  84 lokasi jagung dengan  demplot 16 unit;  dan  12 lokasi kedelai dengan  demplot 4 unit. Berdasarkan hasil evaluasi produktivitas rata-rata yang dicapai  untuk padi,  yakni:  5,51;  4,70; dan 4,67 t/ha masing-masing pada LL; SL; dan non-SL.  Produktivitas rata-rata untuk jagung berturut-turut yakni: 5,04;  4,65; dan  2,46 t/ha masing-masing pada LL; SL; dan non-SL. Sedangkan produktivitas rata-rata untuk kedelai yakni: 1,31; 0,93; dan  0,70 t/ha masing-masing pada LL; SL; dan non-SL. Dari hasil pengujian VUB padi pada lokasi demplot ternyata varietas Inpari-4 unggul di setiap lokasi dengan tingkat produktivitas mencapai > 6 t/ha. Pada  jagung, varietas Bima-5 unggul produktivitasnya dapat mencapai > 6/ha, sedangkan varietas Bima-2, dan Bima-3 masing-masing  5,0 dan 5,3 t/ha, dan Bima-4 unggul mencapai 5,95  t/ha.  Untuk pengujian  kedelai,  hanya varietas Gopek Kuning yang memiliki daya tumbuh dan adaptabilitas cukup tinggi. Varietas lainnya yaitu Panderman, Grobogan, dan Burangrang daya adaptasinya rendah.

Kata kunci :  SL-PTT, pendampingan, varietas, produktivitas, padi, jagung, kedelai

PENDAHULUAN

Pemerintah bertekad mempercepat upaya peningkatan produksi padi, jagung, dan kedelai nasional untuk memenuhi kebutuhan pangan yang terus meningkat, seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk setiap tahun.  Produktivitas jagung nasional baru mencapai 3,60 t/ha, sementara di tingkat penelitian mampu mencapai 5,0 -10,0 t/ha. Demikian pula produktivitas nasional kedelai baru mencapai 1,3 t/ha, sedangkan di tingkat penelitian sudah mencapai 1,7 – 3,2 t/ha, bergantung pada kondisi lahan dan teknologi yang diterapkan.  Angka-angka ini menunjukkan bahwa produksi pangan di tingkat petani masih bisa dinaikkan melalui inovasi teknologi (Hermanto at al.,, 2009).

Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian telah menghasilkan beberapa inovasi teknologi yang mampu meningkatan produktivitas tanaman pangan, diantaranya varietas unggul. Varietas unggul ini merupakan salah satu teknologi yang berperan penting dalam peningkatan kuantitas dan kualitas produk pertanian (Badan Litbang, 2007b). Keberhasilan desiminasi teknologi varietas unggul ditentukan antara lain oleh kemampuan industri benih untuk memasok benih hingga ke petani. Oleh karena itu, sistem perbenihan yang tangguh (produktif, efisien berdaya saing, dan berkelanjutan) sangat diperlukan untuk mendukung upaya peningkatan produksi dan mutu produk pertanian (Balitpa, 2004)

Sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, Badan Litbang Pertanian juga telah menghasilkan dan mengembangkan pendekatan Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) yang ternyata mampu meningkatkan produktivitas tanaman pangan dan efisiensi input produksi. Dalam upaya pengembangan PTT secara nasional, Departemen Pertanian meluncurkan program Sekolah Lapang (SL)  PTT padi, jagung, dan kedelai (Badan Litbang, 2009).

Potensi komoditas pertanian termasuk cukup besar untuk dikembangkan, dan ditingkatkan pemanfaatannya melalui implementasi teknologi dan optimalisasi pemanfaatan sumberdaya lahan. Baik melalui peningkatan produktivitas maupun pemasaran hasil secara profesional. Beberapa permasalahan yang dihadapi dalam peningkatan produksi adalah: (1) belum semua varietas unggul yang dilepas dapat diadopsi petani; (2) ketersediaan benih belum dapat terpenuhi secara tepat (varietas, mutu, jumlah, waktu, lokasi, dan harga); (3) belum optimalnya kinerja lembaga produksi dan pengawasan mutu benih; dan (4) belum semua petani menggunakan benih unggul bermutu/bersertifikat (Badan Litbang, 2007a).

Komoditas yang dapat dikembangkan di kabupaten Jeneponto yang merupakan daerah kering antara lain padi, jagung, dan kedelai. Rata-rata luas panen dan produktivitas tanaman padi sawah selama lima tahun terakhir, masing-masing adalah 16.642,60 ha dan 48,15 ku/ha; selanjutnya jagung masing-masing 38.314,60 ha dan 35,25 ku/ha;  sedangkan  perkembangan produktivitas kedelai selama lima tahun terakhir sekitar 2,37% per tahun (Anonim, 2006).

Permasalahan produktivitas, penyediaan benih unggul bermutu, dan implementasi teknologi merupakan dasar pertimbangan dalam pelaksanaan kegiatan pendampingan di kabupaten Jeneponto.  Melalui  pendampingan SL-PTT dari Badan Litbang Pertanian diharapkan dapat  mempercepat   penyebaran teknologi  PTT dari peneliti ke petani peserta dan  terjadi difusi secara alamiah dari alumni SL-PTT kepada petani di sekitanya.  Selain itu, juga diharapkan dapat mempercepat pengembangan varietas unggul yang mampu meningkatkan  produksi, produktivitas, dan mutu hasil serta mewujudkan pengembangan sistem perbenihan dan produksi tanaman pangan.

METODOLOGI

Ruang Lingkup

Persiapan, kegiatan dalam persiapan SL-PTT adalah pemilihan desa,  hamparan lahan dan kelompok tani, pendatataan calon petani dan calon lahan, kemudian dilakukan pemilihan petani peserta, pemilihan lokasi dan areal laboratorium lapang (LL) untuk proses pembelajaran seluas 1 ha, bahan alat belajar, materi, dan waktu belajar. Kegiatan persiapan ini dilakukan  dalam pertemuan di masing-masing desa dan kelompok tani.

Tahapan Pelaksanaan

Pertemuan di tingkat desa dan kecamatan, pertemuan di tingkat kelompok tani, dan   konsultasi/diskusi dengan Dinas Pertanian :  disepakati bahwa lokasi SL-PTT dipilih berdasarkan: 1) Produktivitasnya rendah dan masih berpotensi untuk ditingkatkan serta petaninya responsif terhadap teknologi; 2) Sebaiknya berada dalam satu hamparan yang strategis dan mudah dijangkau; 3) Lokasi yang dipilih bukan daerah endemis hama dan penyakit, bebas dari bencana kekeringan, kebanjiran dan sengketa. Sedangkan letak petak LL seluas 1 ha seyogyanya   LL diletakkan di bagian pinggir, sering dilewati, dan mudah dijangkau dengan harapan mudah dilihat dan ditiru oleh petani di luar SL-PTT. Demikian pula dengan penempatan  kegiatan demplot diletakkan di bagian pinggir agar mudah diakses oleh petani.

Kegiatan pendampingan SL-PTT dilaksanakan di kabupaten Jeneponto, berlangsung mulai bulan Januari sampai Desember 2010.  Proses pemilihan atau perakitan teknologi didasarkan pada hasil analisis potensi, kendala, dan peluang atau PRA (Participatory Rural Appraisal). Kegiatan PRA  dilakukan oleh peneliti, penyuluh dan petani  peserta,  agar komponen teknologi yang dipilih sesuai dengan kebutuhan setempat.

Pada tahun 2010 di Kabupaten Jeneponto dialokasikan 150 unit pendampingan, 54 unit demplot padi, 16 unit demplot jagung, dan 4 unit demplot kedelai. Satu unit SL-PTT padi in-brida dilaksanakan pada hamparan lahan sawah seluas 25 ha, 24 ha di antaranya untuk SL-PTT,  1 ha untuk Laboratorium Lapang (LL), dan 0,25 ha demplot padi inbrida. Untuk padi hibrida, satu unit SL-PTT dilaksanakan pada lahan sawah seluas 15 ha. Sedangkan satu unit SL-PTT jagung dilaksanakan pada hamparan lahan seluas 15 ha, 14 ha di antaranya untuk SL-PTT, 1 ha untuk  LL, dan 0,15 ha demplot jagung.  Selanjutnya satu unit SL-PTT  kedelai dilaksanakan pada hamparan lahan seluas 10 ha, 9 ha di antaranya untuk SL-PTT, 1 ha LL, dan 0,10 ha demplot kedelai.  Strategi ini diharapkan dapat memperluas penyebaran PTT yang akan berdampak terhadap percepatan implementasi program Nasional.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Sebaran Lokasi Pendampingan

Jumlah unit pendampingan SL-PTT  komoditas padi di kabupaten Jeneponto sebanyak 150 lokasi dengan demplot 54 unit, lokasi tersebut tersebar pada 11 kecamatan 72 desa. Demkian pula komoditas jagung teridiri dari 84 lokasi pendampingan dengan 16 lokasi demplot yang tersebar pada 11 kecamatan 75 desa. Sedangkan komoditas kedelai berjumlah 12 lokasi pendampingan dengan 4 demplot, lokasi kedelai hanya 1 kecamatan dan 1 desa. Dengan demikian sebaran lokasi pendampingan SL-PTT di kabupaten Jeneponto berjumlah 246 lokasi dengan 74 demplot.

Pelaksanaan Pendampingan Inovasi Teknologi

a. Efektifitas Demplot

Lahan yang digunakan untuk PTT atau areal SL-PTT adalah lahan milik petani.  Satu unit areal SL-PTT terdiri atas 15-25 ha lahan  petani peserta SL-PTT.   Untuk setiap unit areal SL-PTT dipilih lahan seluas 1 ha untuk LL, dan areal percontohan (demplot) seluas 0,10-0,25 ha.

Untuk LL dan demplot disediakan bantuan sarana produksi berupa benih unggul bermutu, pupuk Urea, NPK, dan pupuk organik.  Bagi petani di areal SL-PTT hanya diberikan bantuan berupa benih unggul bermutu. Keberadaan LL (laboratorium lapang) dan demplot diharapkan dapat mempercepat alih teknologi melalui interaksi antara petani peserta SL-PTT dengan petani non-peserta SL-PTT.  Keragaan pelaksanaan demplot inovasi PTT di kabupaten Jeneponto dapat dilihat pada Tabel 1.

Pada Tabel 1 memuat keragaan demplot inovasi PTT dan jenis inovasi teknologi yang diintroduksikan.  Ada 3 varietas unggul baru (VUB) padi yakni: Inpari-3, Inpari-4, dan varietas Ciherang.   Sedangkan, jagung ada 4   varietas yaitu Bima-2, Bima-3, Bima-4, dan Bima-5.  Selanjutnya, kedelai terdiri dari 4 varietas yaitu Gopek Kuning, Burangrang, Grobogan, dan Panderman. Selain varietas, diintroduksikan pula pemupukan berimbang.  Efektifitas demplot dapat dilihat dari jumlah petani yang mengunjungi demplot, seperti tampak pada Tabel 2.

 

Tabel 1. Keragaan Pelaksanaan Demplot Inovasi PTT di Kab. Jeneponto

No./Komoditas

Lokasi Demplot

Jenis Inovasi Teknologi

 

Luas Demplot

(ha)

Jumlah Petani yang berkunjung

(Orang)

I. Padi

Kec. Rumbia

1. Lebang Manai  Utara

 

1. Varietas Unggul Baru

2. Pemupukan NPK

 

1,0

 

18

14

Kec. Kelara

1. Tolo Barat

 

1. Varietas Unggul Baru

2. Pemupukan NPK

 

1,0

 

12

16

Kec. Turatea

1. Paitana

2. Langkura

3. Bontomate’ne

4. Bungungloe

 

1. Varietas Unggul Baru

2. Pemupukan NPK

 

8,50

 

19

11

22

19

Kec. Batang

1. Kaluku

2. Camba-Camba

 

1. Varietas Unggul Baru

2. Pemupukan NPK

 

3,25

 

11

12

II. Jagung

Kec. Rumbia

1. Lebang Manai Utara

 

1. Varietas Unggul Baru

2. Pemupukan NPK

 

0,60

 

20

13

Kec. Kelara

1. Tolo Utara

2. Tolo Selatan

 

1. Varietas Unggul Baru

2. Pemupukan NPK

 

0,75

 

12

19

Kec. Batang

1. Togo-Togo

2. Kaluku

3. Bontoraya

 

1. Varietas Unggul Baru

2. Pemupukan NPK

0,75

 

17

19

19

Kec. Arungkeke

1. Kalumpangloe

 

1. Varietas Unggul Baru

2. Pemupukan NPK

 

0,30

 

21

18

III. Kedelai

Kec. Tamalatea

1. Maero

 

1. Varietas Unggul Baru

2. Pemupukan NPK

 

0,40

 

22

15

Tabel 2. Keragaan efektifitas demplot inovasi PTT di Kab. Jeneponto

No.

Lokasi Demplot

Jumlah Petani yang Berkunjung

(orang)

Efektifitas Demplot

Permasalahan

Jumlah Petani yg Menyatakan tdk berminat

(orang)

Jumlah petani yg berminat tapi belum ada kepastian akan

Menggunakan

(orang)

Jumlah petani yang berminat dan akan melaksanakan

(orang)

I.

1.

Kec. Rumbia

Lebang Manai  Utara

 

32

 

-

 

30

 

2

 

-

II.

1.

Kec. Kelara

Tolo Barat

 

38

 

3

 

4

 

31

 

-

III.

1.

2.

3.

4.

Kec. Turatea

Paitana

Langkura

Bontomate’ne

Bungungloe

 

41

24

22

18

 

3

2

2

-

 

19

5

3

16

 

19

17

17

2

 

-

-

-

-

IV.

1.

2.

Kec. Batang

Kaluku

Camba-Camba

 

26

24

 

4

2

 

8

8

 

14

14

 

-

-

V.

1.

Kec. Rumbia

Lebang Manai Utara

 

28

 

6

 

11

 

11

 

-

VI.

1.

2.

Kec. Kelara

Tolo Utara

Tolo Selatan

 

36

37

 

5

8

 

13

12

 

18

17

 

-

-

VII.

1.

2.

3.

Kec. Batang

1. Togo-Togo

2. Kaluku

3. Bontoraya

 

25

23

24

 

3

3

2

 

11

13

12

 

11

7

20

 

-

-

-

VIII.

Kec. Arungkeke

1. Kalumpang Loe

 

22

 

2

 

8

 

12

 

-

IX

Kec. Tamalatea

1. Maero

 

19

 

3

 

6

 

10

 

-

 

Di Kecamatan Rumbia efektifitas demplot dapat dilihat dari jumlah petani yang menyatakan berminat dan akan melaksanakan penanaman kembali terutama pada Varietas Unggul Baru padi, khususnya varietas Inpari-4.  Sedangkan, di kecamatan Kelara petani pada umumnya menyukai jagung varietas Bima-5. Pada umumnya petani tertarik dengan inovasi teknologi pemupukan berimbang, sangat berminat, dan akan melaksanakan cara pemupukan seperti yang dicontohkan pada demplot.   Di kecamatan Turatea misalnya, terdapat  41  petani yang berkunjung dan 19 petani berminat untuk melaksanakan. Demikian pula di kecamatan Kelara ada 73 petani yang berkunjung dan 35 orang petani yang akan melaksanakan.

b. Uji Varietas Unggul Baru  (VUB)

Salah satu faktor penyebab rendahnya produktivitas tanaman adalah masih terbatasnya penggunaan benih bermutu di tingkat petani, meskipun ada kecenderungan terjadi peningkatan penggunaan benih bermutu setiap tahun. Hal ini  antara lain disebabkan masih mahalnya harga benih bermutu, terbatasnya stok benih pada saat dibutuhkan petani. Keengganan petani menjadi penangkar benih (terutama padi) karena biaya produksinya lebih tinggi sementara harga jualnya hampir sama dengan harga gabah untuk konsumsi (Hermanto at al.,, 2009)

Petani lebih senang menggunakan benih yang mereka produksi sendiri atau dari sesama  petani karena tingkat kepercayaannya lebih tinggi. Sementara benih yang dihasilkan dari pengusaha benih seringkali tidak sesuai dengan labelnya, misalnya tingkat kemurnian dan daya tumbuhnya.  Benih yang secara morfologis kelihatan bersih dan mempunyai bentuk yang baik, belum menjamin benih tersebut telah bermutu atau sehat. Karena itu, peserta SL-PTT diharapkan dapat memahami konsep, prinsip, dan implementasi teknologi PTT secara benar, sehingga uji varietas yang dilakukan dapat menarik perhatian petani (Departemen Pertanian, 2008).

Keragaan hasil pelaksanaan uji varietas unggul baru padi, varietas jagung, dan beberapa varietas kedelai dapat dilihat pada Tabel 5.  Dari hasil pengujian varietas unggul baru padi pada lokasi demplot ternyata  Inpari-4  unggul di setiap lokasi dengan capaian produktivitas > 6 t/ha.  Sedangkan varietas Inpari-3 dan Ciherang produktivitasnya masing-masing > 5 t/ha dan > 4 t/ha.  Jika dibandingkan dengan varietas yang telah eksisting di setiap lokasi, Membramo produktivitasnya hanya sekitar 2 - 3 t/ha.  Varietas Inpari-3 dan Inpari-4 selain produktivitasnya cukup tinggi, daya adaptasinya juga luas.

Pada pengujian varietas jagung, ternyata varietas Bima-5 unggul pada 2 kecamatan yaitu di kecamatan Kelara dan Batang, produktivitasnya dapat mencapai > 6 t/ha, sedangkan varietas Bima-2, dan Bima-3 masing-masing  5,0 dan 5,3 t/ha.  Di kecamatan Arungkeke, varietas Bima-4 memperlihatkan keunggulan dengan produktivitas  5,95  t/ha,  sementara Bima-5 hanya mencapai 4,68  t/ha.  Varietas Bisi-2 yang eksisting di setiap lokasi hanya mencapai 3,4  –  4 t/ha.  Sedangkan, hasil  pengujian kedelai menunjukkan bahwa hanya varietas Gopek Kuning yang memiliki daya tumbuh dan adaptabilitas yang relatif tinggi.   Sebaliknya, varietas lainnya yaitu Panderman, Grobogan, dan Burangrang memiliki daya adaptasi yang rendah.

 

 

 

Tabel 3. Keragaan hasil pelaksanaan uji varietas unggul  baru (VUB)

No.

Nama Lokasi Uji VUB

Agroekosistem

Varietas Unggul Baru

Varietas Pembanding

(eksisting)

Tingkat Adaptabilitas

Jenis VUB

Produkvitas (t/ha)

I.

1.

Kec. Rumbia

Lebang Manai  Utara

 

LKIB

Inpari-3

Inpari-4

Ciherang

5,28

6,03

4,53

Membramo

 

Tinggi

Tinggi

Sedang

II.

1.

Kec. Kelara

Tolo Barat

LKIK

Inpari-3

Inpari-4

Ciherang

5,75

6,53

4,90

Membramo

Sedang

Tinggi

Sedang

III.

1.

2.

3.

4.

Kec. Turatea

Paitana

Langkura

Bontomate’ne

Bungungloe

LKIK

Inpari-3

Inpari-4

Ciherang

5,74

6,74

5,06

Membramo

Sedang

Tinggi

Tinggi

IV.

1.

2.

Kec. Batang

Kaluku

Camba-Camba

LKIK

Inpari-3

Inpari-4

Ciherang

5,53

6,01

5,03

Membramo

Sedang

Tinggi

Tinggi

V.

1.

Kec. Rumbia

Lebang Manai Utara

LKIK

Bima-2

Bima-3

Bima-4

Bima-5

5,35

5,10

4,90

5,56

Bisi-2

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

VI.

1.

2.

Kec. Kelara

Tolo Utara

Tolo Selatan

LKIK

Bima-2

Bima-3

Bima-4

Bima-5

5,55

6,80

-

6,60

Bisi-2

Tinggi

Tinggi

-

Tinggi

VII

1.

2.

3.

Kec. Batang

Togo-Togo

Kaluku

Bontoraya

LKIK

Bima-2

Bima-3

Bima-4

Bima-5

5,65

5,25

5,40

6,13

Bisi-2

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

VIII.

Kec. Arungkeke

Kalumpangloe

LKIK

Bima-2

Bima-3

Bima-4

Bima-5

-

5,63

5,95

4,68

Bisi-2

 

-

Tinggi

Tinggi

Sedang

IX

Kec. Tamalatea

1. Maero

LKIK

Gopek Kuning

Panderman

Grobogan

Burangrang

1,30

0,71

0,70

0,71

Wilis

Orba

 

Tinggi

Rendah

Rendah

Rendah

Ket.  :  LKIB = Lahan Kering Iklim Basah

LKIK = Lahan Kering Iklim Kering

 

Tingkat adaptabilitas pada semua varietas padi dan jagung pada hampir semua varietas yang dikembangkan.  Hal ini mengindikasikan bahwa penggunaan VUB yang ditanam sesuai dengan kondisi spesifik lokasi.  Benih varietas unggul tidak hanya berperan sebagai pengantar teknologi, tetapi juga menentukan potensi hasil yang bias dicapai, kualitas gabah yang akan dihasilkan dab efisiensi produksi (Zaini, 2009)

 

 

Evaluasi Perkembangan Produktivitas

SL-PTT yang dilakukan di kabupaten Jeneponto sudah menunjukkan hasil yang cukup menggembirakan.  Data menunjukkan bahwa produktivitas yang dicapai di kecamatan Kelara di SL mencapai 5,5 t/ha, sementara di LL bisa mencapai 6,0 t/ha, sedangkan pada non-SL hanya mencapai 4,20 t/ha.  Hasil evaluasi produktivitas rata-rata padi di kabupaten Jeneponto pada SL 4,70 t/ha, pada LL 5,58, pada non-SL 4,67 t/ha (Tabel 10).

Berdasarkan hasil evaluasi produktivitas rata-rata jagung per kecamatan pada Table 10 terlihat bahwa di kecamatan Batang dan Rumbia capaian produktivitas  paling tinggi yaitu masing-masing 5,2 t/ha dan 5,0 t/ha pada SL;  5,8 t/ha dan 5,3 t/ha pada LL, serta hanya  4,8 t/ha dan 2,6 t/ha pada non-SL.  Hasil evaluasi produktivitas rata-rata tingkat kabupaten dapat   mencapai 4,65 t/ha;  5,04 t/ha ; dan 2,50 t/ha masing-masing pada SL;  LL; dan  non-SL (Tabel 11).

Tabel 4. Hasil evaluasi produktivitas rata-rata padi per kecamatan di LL, SL, dan Non-SL

No.

Kecamatan

Jumlah Unit SL yang disampling

Produktivitas (t GKP/ha)

SL

LL

Non-SL

1.

Bangkala Barat

18

4,55

5,35

2,50

2.

Tamalatea

10

4,21

5,38

2,42

3.

Batang

12

4,20

5,51

2,61

4.

Kelara

12

5,52

6,00

4,20

5.

Arungkeke

13

4,.19

5,55

2,61

6.

Rumbia

13

4,27

5,52

2,78

7.

Taroang

10

4,26

5,60

2,90

8.

Turatea

18

4,24

5,58

2,65

9.

Binamu

12

4,26

5,58

2,80

10.

Bangkala

12

4,23

5,56

2,86

11.

Bontoramba

13

4,2

5,55

2,85

Jeneponto

 

4,70

5,51

4,67









Tabel 5. Hasil evaluasi produktivitas rata-rata jagung per kecamatan di LL, SL, dan Non-SL

No.

Kecamatan

Julah Unit SL yang disampling

Produktivitas (t/ha)

SL

LL

Non-SL

1.

Bangkala Barat

10

4,92

5,23

2,62

2.

Tamalatea

8

4,79

5,05

2,53

3.

Batang

10

5,23

5,87

4,82

4.

Kelara

18

4,81

5,10

2,55

5.

Arungkeke

10

4,00

4,03

2,13

6.

Rumbia

12

5,06

5,33

2,67

7.

Taroang

12

4,77

5,02

2,51

8.

Turatea

15

4,75

5,07

2,54

9.

Binamu

6

4,70

4,97

2,48

10.

Bangkala

11

4,93

5,24

2,62

11.

Bontoramba

6

3,41

5,10

1,79

Jeneponto

 

4,65

5,04

2,46









 

Hasil evaluasi produktivitas rata-rata kedelai per  kecamatan di LL, SL dan non-SL masih jauh dari yang diharapkan.   Hal ini disebabkan daya tumbuh benih yang tidak maksimal. Produktivitas tertinggi di kecamatan Bontoramba 1,0  t/ha pada SL;  1,36  t/ha pada LL, dan 0,75   t/ha pada  non-SL.   Produktivitas rata-rata tingkat kabupaten hanya mencapai 0,93;  1,3; dan 0,70 t/ha masing-masing pada SL;  LL;  dan  non-SL (Tabel 6).

Tabel 6. Hasil evaluasi produktivitas rata-rata kedelai per kecamatan di LL, SL, dan Non-SL

No.

Kecamatan

Jumlah Unit SL yang disampling

Produktivitas (t /ha)

SL

LL

Non-SL

1.

Bangkala

6

0,91

1,30

0,68

2.

Bangkala Barat

5

0,93

1,31

0,70

3.

Tamalatea

4

0,85

1,24

0,64

4.

Bontoramba

5

1,01

1,36

0,75

Kabupaten  Jeneponto

 

0,93

1,31

0,70









KESIMPULAN

Hasil pengujian varietas unggul baru padi pada lokasi demplot menunjukkan bahwa varietas Inpari-4 unggul di setiap lokasi demplot dengan capaian produktivitas  > 6 t/ha, sedangkan  Inpari-3 dan Ciherang produktivitasnya masing-masing sekitar  > 5 t/ha dan > 4 t/ha.  Dibandingkan Membramo yang telah eksisting di tingkat petani,  produktivitasnya hanya  2 - 3 t/ha.

Pada jagung, hasil-hasil pengujian yang dilaksanakan di berbagai lokasi demplot,  produktivitas varietas Bima-5 mencapai > 6 t/ha unggul  pada 2 kecamatan yaitu  di kecamatan Kelara dan Batang.   Di kecamatan Arungkeke,  Bima-4 lebih unggul dari varietas Bima lainnya.  Produktivitas Bima-4 adalah  5,95  t/ha, sedangkan Bima-2 dan Bima-3 masing-masing hanya 5,0 dan 5,3  t/ha.  Tingkat adaptabilitas semua varietas jagung cukup tinggi pada setiap lokasi.

Sedangkan hasil uji varietas kedelai diperoleh bahwa  hanya varietas Gopek Kuning yang memiliki  daya adaptasi  cukup luas dan daya tumbuh yang optimal. Varietas lainnya yaitu Panderman, Grobogan, dan Burangrang daya adaptasinya rendah.

Hasil evaluasi produktivitas rata-rata padi di kabupaten Jeneponto pada SL, LL, dan Non-SL berturut-turut yakni 4,70;  5,58; dan 4,67 t/ha. Selanjutnya hasil rata-rata jagung  sekitar 4,65;  5,04 ; dan  2,5 t/ha  masing-masing pada SL; LL; dan non- SL. Sedangkan kedelai tingkat kabupaten produktivitasnya hanya   0,93 t/ha pada  SL;  1,3 t/ha pada LL; dan  0,70 t/ha pada non-SL.

Diperlukan pendampingan  yang intensif untuk lebih menambah pengetahuan, keterampilan dan semangat petani. Guna mencapai potensi yang diharapkan, petak-petak percontohan (LL) dan demplot BPTP perlu diperluas dalam skala Demfarm agar petani dapat melihat dengan jelas hasil inovasi teknologi lewat petak percontohan tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2006a. Rencana Pembangunan Jangka Panjang Kabupaten Jeneponto Tahun 2006 -2026. Jeneponto

Anonim,  2006b. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Jenponto.  Tahun 2006-2008. Jeneponto.

Badan Libang Pertanian, 2007a. Produksi Benih Sumber Padi (Pedoman Umum). Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Departemen Pertanian.

Badan Litbang Pertanian. 2007b.  Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) Padi Sawah Irigasi.  Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Departemen Pertanian. 40 Hal.

 

Badan Litbang Pertanian. 2009.  Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) Padi Sawah.  Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Departemen Pertanian. 21 Hal.

 

Balitpa. 2004.  Inovasi Teknologi untuk peningkatan Produksi padi dan Kesejateraan petani.  Balai Penelitian Tanaman Padi. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Departemen Pertanian

 

BPTP Sulawesi Selatan. 2010.  Petunjuk Pelaksanaan Pendampingan Sekolah Lapangan Pengelolaan Tanaman Terpadu (SL-PTT).  Balai Pengkajian Teknologi Pertanian. 9 Hal.

 

Departemen Pertanian, 2008.  Panduan Pelakasanaan Sekolah Lapangan Pengelolaan Tanaman Terpadu (SL-PTT) Padi.  Departemen Pertanian. 38 Hal.

 

Hermanto, Didik, S. W, dan Edi, H. 2009. Deskripsi Varietas Unggul Padi 1949 – 2009.  Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan.  Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian.  220 hal.

 

Zaini, Z. 2009.  Memacu Peningkatan Produktivitas Padi Sawah melalui Inovasi Teknologi Budidaya Spesifik Lokasi dalam Era Revolusi Hijaub Lestari.   Pengembangan Inovasi Pertanian Vol. 2 (1).  Hal