JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение
 

Penanganan Pasca Panen Jagung

Apa Tahapan Pascapanen Jagung ?

Teknologi penanganan pascapanen jagung terdiri dari 5 (lima) kelompok kegiatan yaitu pemanenan, pengangkutan, pengeringan, pemipilan dan penyimpanan.

Apa Tujuan Penanganan Pascapanen Jagung?

Tujuan penanganan pascapanen jagung adalah untuk mendapatkan butiran jagung dengan kualitas yang baik yang dimulai dengan penentuan umur panen yang tepat, mengurangi susut panen dan perontokan, cepat melakukan penjemuran biji dan penyimpanan pada kadar air dan wadah yang tepat, sehingga mendapatkan harga jual yang tinggi.

Apa yang Perlu Diperhatikan pada Kegiatan Pemanenan Jagung?

Waktu panen menentukan mutu biji jagung, pemanenan yang terlalu awal menyebabkan banyak butir muda sehingga kualitas rendah dan tidak tahan simpan. Pemanenan yang terlambat menurunkan kualitas dan meningkatkan kehilangan hasil. Jagung siap panen ditandai dengan daun dan batang tanaman mulai menguning dan berwarna kecoklatan pada kadar air sekitar 35-40%. Panen optimum merupakan saat panen yang paling tepat untuk mendapatkan kualitas hasil panen yang baik. Pada umumnya kadar air jagung yang dipanen pada kondisi optimal tersebut sesuai untuk konsumsi sebagai pangan, pakan dan industri.

Penundaan kegiatan panen akan menurunkan kualitas jagung. Perlu dihindari tumbuhnya jamur dan cendawan dengan tanda-tanda klobot dan atau biji jagung berwarna kehitam-hitaman, kehijauan dan putih. Salah satu jamur yang menyerang jagung adalah Aspergillus sp. yang menghasilkan senyawa atau racun aflatoksin yang berbahaya bagi kesehatan manusia. Sedangkan jagung yang dipanen muda atau dipanen lebih awal, dimanfaatkan untuk sayur, dimana saat kondisi tongkol masih sangat muda dan lunak. Jagung bakar dan rebus biasa dipanen lebih awal dari biasanya. Jagung dipanen dalam bentuk tongkol berkelobot, kemudian dikupas untuk menghilangkan klobotnya. Petani sering melakukan pengeringan atau mengangin-anginkan jagung berklobot pada rak beratap maupun tidak beratap.

Apa saja Tahapan-tahapan Pemanenan yang Harus Dilakukan?

Pemanenan jagung bergantung pada lokasi penanaman, jenis lahan dan ketersediaan teknologi. Petani pada lahan tadah hujan dan kering umumnya memanen dalam bentuk tongkol berklobot yang umumnya masih cukup basah. Hal ini karena panen dilakukan pada musim hujan. Pada kondisi tersebut kadar air berkisar antara 35-40%. Sedangkan pada sawah irigasi pemanenan dalam bentuk klobot biasanya pada kadar air yang lebih rendah yaitu berkisar antara 25-30% karena dipanen pada bulan kering. Tongkol kemudian diangkut ke tempat pengumpulan, kemudian diangin-anginkan beberapa saat lalu dikupas, dan jagung bertongkol yang diperoleh dikeringkan lanjutan sampai siap dipipil. Panen dengan batang jagung yaitu dengan memotong batang setinggi pinggang, dimana jagung tongkol ini berkadar air sekitar 30-40%. Jagung dipotong pada bagian atas tongkol, kemudian dibiarkan dijemur di lapangan sampai pada kadar air sekitar 17-20% baru dipanen. Pemanenan dilakukan dengan cara memetik jagung dan mengupas kelobotnya langsung di batang pohonnya, tanpa dipotong batangnya terlebih dahulu.

Bagaimana Pengeringan Jagung Dilakukan?

Pengeringan adalah upaya untuk menurunkan kadar air biji jagung agar aman disimpan. Tahapan pengeringan dapat dikatagorikan menjadi: 1) pengeringan jagung tongkol di pertanaman, cara ini biasa dilakukan para petani di daerah tadah hujan dan kering, dimana periode persiapan pertanaman berikutnya tidak mendesak; 2) pengeringan dalam bentuk jagung tongkol dan 3) pengeringan dalam bentuk jagung pipilan. Dianjurkan untuk menggunakan alas dari lembaran plastik yang kedap udara, untuk mencegah kontaminasi benda asing dan melindungi kondisi cuaca yang tidak menentu (hujan sewaktu-waktu). Proses pengeringan jagung tongkol dilakukan hingga kadar air sekitar 17-18%, sehingga memudahkan untuk pemipilan. Selanjutnya jagung pipil tersebut dilanjutkan pengeringannya hingga kadar air penyimpanan, sekitar 13-14%. Pengeringan yang tidak memenuhi syarat (kadar air diatas 14%) akan menyebabkan jagung pipil mudah mengalami kerusakan dan turun kualitasnya di dalam penyimpanan. Dalam proses pengeringan perlu dilakukan pembalikan dari waktu ke waktu, antara lain setiap jam atau sesuai waktu yang diperlukan.

Pengeringan jagung juga dapat dilakukan dengan alat pengering. Hal ini dilakukan dalam kondisi cuaca yang tidak memungkinkan untuk mengeringkan, misalnya kondisi cuaca hujan terus menerus atau cuaca berawan. Banyak alat pengering yang dapat digunakan baik secara individu maupun secara berkelompok oleh petani. Contoh alat pengering Lister dryer 300 dan Surya Pala 500 serta pengering sederhana dengan kompor petromaks tipe IRRI dan Tipe Suryapala. Alat pengering mempunyai beberapa tipe, antara lain: 1) Alat pengering model sumur, 2) Alat pengering vortex, dan 3) Alat pengering model bak.

Bagaimana Proses Pemipilan Jagung untuk Menghasilkan Biji yang Baik?

Pemipilan jagung dilakukan setelah jagung dihilangkan klobot dan sudah kering, kadar air jagung tongkol, sekitar 18-19%. Dalam kondisi kadar air tongkol jagung tersebut dapat dipipil tangan dengan mudah. Pemipilan jagung dapat dilakukan dengan tenaga manusia maupun tenaga mekanis. Jenis pemipil secara tradisional adalah dengan tongkat pemukul, pemipil dari kayu, pemipil besi diputar, pemipil besi bergigi, grosokan, ban sepeda dan lain-lain. Alat yang digunakan juga mudah didapat dan dibuat sendiri atau bengkel setempat. Sedangkan alat pemipil mekanis dapat dibuat dengan mudah oleh bengkel lokal perdesaan atau industri skala besar. Yang perlu diperhatikan adalah mesin pemipil jagung dengan konstruksi gigi-gigi yang spesifik, sehingga dapat digunakan untuk pemipilan jagung pada kadar air rendah maupun tinggi, yaitu masing-masing kadar air sekitar 19% dan lebih dari 30%.

Sumber: Informasi Ringkas Bank Pengetahuan Tanaman Pangan Indonesia 2010.

Teknik Penanaman Kedelai

Latar Belakang

Kompetensi dasar:

Setelah pembelajaran peserta diharapkan dapat memahami tentang penyiapan dan penanaman benih kedelai sesuai dengan Standar Operasional Prosedur (SOP) budidaya kedelai.

Indikator Keberhasilan:

Setelah selesai mengikuti pembelajaran ini peserta dapat :

  1. Mengidentifikasi Keinginan Konsumen
  2. Menjelaskan ciri-ciri benih bermutu.`
  3. Menghitung kebutuhan benih.
  4. Menjelaskan cara  perlakuan benih pada kedelai.
  5. Menerapkan jarak tanam pada kedelai

Mengidentifikasi Keinginan Konsumen

  • Mempelajari kebutuhan kedelai yang bagaimana yang dikehendaki oleh para pembuat tahu dan tempe.
  • Waktu-waktu bagaimana mereka membutuhkan kedelai
  • Kondisi bagaimana kedelai yang dikehendaki konsumen
  • Kondisi bagai mana produk kedelai yang diinginkan konsumen

Pemilihan Varietas

  • Hal-hal yang perlu dipertimbangkan dalam pemilihan varietas, adalah mempertimbangkan hasil identifikasi keinginan konsumen, kemudian mempertimbangkan faktor-faktor seperti :

1.  Umur panen,

2.  Ukuran dan warna biji,

3   Tingkat adaptasi terhadap lingkungan tumbuh yang tinggi.

Contoh deskripsi beberapa Varietas Kedelai

Nama Varietas

Tahun

Dilepas

Umur

Masak (hari)

Kadar

Protein (%)

Kadar

Minyak (%)

Potensi Hasil

(ton/ha)

Meratus

1998

75

39,5

25,0

2,00

Mahameru

2001

87

44,3

18,2

2,,16

Anjasmoro

2001

88

42,1

18,6

2,25

Lawit

2001

84

41,0

15,0

2,07

Meyapa

2001

85

42,0

20,0

2,03

Merubetiri

2002

95

40,0

22,0

3,00

Baluran

2002

80

40,0

22,,0

3,50

 

Benih Bermutu dan Berlabel

ü  Murni dan diketahui nama varietasnya

ü  Berdaya kecambah tinggi, >80%

ü  Vigor baik, pertumbuhan benih serentak, cepat dan sehat

ü  Benih sehat, bernas, tidak keriput atau luka bekas gigitan serangga (hama),  bebas penyakit

ü  Bersih tanpa campuran benih lain

ü  Benih masih baru (< 6 bln)

ü  Kadar air  12 % - 13 %

Adaptasi Varietas Unggul Sesuai Agroekosistem

Nama varietas

Tahun dilepas

Umur (hari)

Ukuran biji

(g/100 biji)

Sifat lain

Kaba

2001

85

Sedang (10,4)

PTMP

Sinabung

2001

88

Sedang (10,7)

TR

Anjasmoro

2001

85

Besar (15,0)

TR

Mahameru

2001

85

Besar (16,0)

TR

Baluran

2002

80

Besar (16,0)

-

Merubetiri

2002

95

Besar (13,5)

-

Ijen

2003

88

Sedang (11,2)

ATUG

Panderman

2003

85

Besar (18,5)

ATUG

Gumitir

2005

81

Besar (15,7)

RUG CMMV

  • Keterangan:

TR=Tahan rebah, PTMP=Polong tidak mudah pecah, ATUG=Agak tahan ulat   grayak, RUGCMMV=Rentan ulat grayak dan cowpea mild mottle virus, RCMMV=Rentan Cowpea mild mottle virus, TK=Toleran kekeringan

Varietas Kedelai Terbaru

Nama varietas

Tahun dilepas

Umur (hari)

Ukuran biji

(g/100 biji)

Sifat lain

Mallika

2007

88

Sedang (11,0)

-

Detam-1

2008

89

Besar (12,5)

Protein tinggi, biji besar

Detam-2

2008

92

Besar (11,5)

Protein tinggi, tol. kekeringan

Varietas Kedelai Berkarakter Apesifik

Nama varietas

Tahun dilepas

Umur (hari)

Ukuran biji

(g/100 biji)

Adaptasi

Pangrango

1995

88

Sedang (10,0)

Toleran penaungan

Gumitir

2005

81

Besar (15,7)

Sesuai tahu dan tempe

Argopuro

2005

84

Besar (17,8)

Kadar lemak tinggi

Gepak Ijo

2008

73

Kecil (8.25)

Sesuai untuk tahu dan taoge

Gepak Kuning

2008

76

Kecil (6.82)

Sesuai untuk tahu

Kebutuhan dan Perlakuan Benih Kedelai

Indikator Menghitung Kebutuhan Benih

  • Prosentase Daya Tumbuh Benih  ( % )
  • Bobot Biji per 100 butir atau 1.000 butir
  • Jumlah Biji per lobang tanam
  • Jarak tanam

Cara menghitung prosentase daya tumbuh

P=t/bx100%

Keterangan:

P  = Prosentase Daya Tumbuh

t   = Jumlah benih yang tumbuh/berkecambah

b  = Jumlah benih yang dikecambahkan

 

Sumber:

Penanganan Pascapanen Untuk Meningkatkan Mutu Gabah dan Beras

Pendahuluan

Beras adalah bahan pangan sumber karbohidrat penting dan merupakan bahan pangan pokok bagi sebagian besar rakyat Indonesia dengan tingkat kebutuhan beras penduduk yang cukup tinggi yang saat ini mencapai 113,48 kg per kapita per tahun. Pascapanen padi adalah tahapan kegiatan yang meliputi pemungutan (pemanenan) malai padi, perontokan, pengangkutan, pengeringan, penyimpanan dan penggilingan sampai beras siap dipasarkan atau dikonsumsi. Tujuan penanganan pascapanen adalah untuk mengurangi terjadinya susut hasil, menekan tingkat kerusakan meningkatkan daya simpan dan daya guna komoditas pertanian agar dapat menunjang usaha penyediaan bahan baku industri, meningkatkan nilai tambah, kesempatan kerja dan melestarikan sumber daya alam.

Untuk mencapai tujuan tersebut semua tahapan maupun rangkaian proses harus dikerjakan dengan benar. Penurunan mutu dapat terjadi karena proses metabolisme di dalam biji tetap berlangsung, walaupun padi telah dipanen. Aktivitas nikroorganisme dapat terjadi bila kadar air gabah masih tinggi, sehingga dapat terjadi reaksi browning enzymatis yang dapat berakibat butir beras berwarna kuning, busuk, rusak maupun hitam. Kerusakan dapat terjadi apabila terjadi keterlambatan dalam proses perontokan padi. Keterlambatan perontokan padi sampai 3 hari dapat menyebabkan terjadinya susut hasil sebesar 3,12%, butir kuning/ rusak 2,84% dan biji tumbuh 2,22%.

Tujuan

Tulisan ini bertujuan untuk memberikan informasi tentang penanganan pasca panen agar mutu beras lebih baik.

 

Panen

Umur panen optimal padi dicapai setelah 90-95% butir gabah pada malai padi sudah berwarna kuning atau kuning keemasan. Padi yang dipanen pada kondisi tersebut akan menghasilkan gabah yang berkualitas sangat baik, dengan kandungan butir hijau dan butir mengapur yang rendah serta rendemen giling tinggi. Di lapangan dikenal ada 3 cara panen, yaitu cara panen potong bawah, cara panen potong tengah dan cara panen potong atas. Cara panen ini akan dipilih berdasarkan jenis atau cara perontokan yang digunakan.

Jika perontokan padi dengan cara digebot atau dengan alat perontok cara umpan pegang (hold-in) menggunakan pedal thresher atau power thresher, padi akan dipanen dengan cara potong bawah bersama jeraminya. Cara panen potong atas atau potong tengah ditempuh jika padi di rontok dengan alat perontok power thresher dengan cara umpan langsung atau umpan telan (through-in). Cara perontokan dengan sistem through-in memberikan harapan besar dalam usaha menekan terjadinya susut panen dan susut penumpukan sementara yang selama ini memberikan angka susut yang sangat besar. Pemanenan akan bisa dikembangkan dengan cara panen potong tengah atau potong atas, kemudian hasil panen langsung masuk ke dalam karung. Cara ini bisa menekan terjadinya susut pada saat penumpukan sementara yang bisa mencapai 2% dan susut pengangkutan sekitar 1%.

Pengeringan

Pengeringan adalah proses mengeluarkan sebagian atau seluruh air yang terdapat dalam biji gabah. Untuk menghasilkan beras berkualitas baik, gabah hasil panen harus secara cepat, dapat dengan cara penjemuran dengan sinar matahari langsung atau dengan alat pengering buatan.

Gabah yang terlambat dikeringkan akan berakibat tidak baik terhadap kualitas berasnya. Hal ini disebabkan gabah hasil panen dengan kadar air tinggi dan kondisi lembab mengalami respirasi dengan cepat. Akibatnya butir gabah busuk, berjamur, berkecambah maupun mengalami reaksi “browning enzimatis” sehingga beras berwarna kuning/kuning kecoklatan. Kehilangan hasil pada tahapan penjemuran umumnya disebabkan oleh (1) fasilitas penjemuran seperti lantai jemur maupun alas lainnya yang kurang baik, sehingga banyak gabah yang tercecer dan terbuang saat proses penjemuran dan (2) adanya gangguan hewan seperti ayam, burung dan kambing.

Ada 2 cara pengeringan yang lazim digunakan oleh petani yaitu : (1) pengeringan dengan cara penjemuran langsung menggunakan sinar matahari, dan (2) pengeringan dengan menggunakan alat pengering buatan (artificial dryer). Pengeringan dengan sinar matahari (penjemuran) harus memperhatikan itensitas sinar, suhu pengeringan yang selalu berubah, ketebalan penjemuran dan frekuensi pembalikan. Penjemuran yang dilakukan tanpa memperhatikan hal-hal tersebut diatas dapat menyebabkan penurunan kualitas beras, misalnya beras akan menjadi pecah waktu proses penggilingan. pengeringan gabah dengan menggunakan instore drying memberikan hasil yang cukup baik dengan tingkat keretakan gabah berkisar 1,25 – 1,50% pada varietas ciherang dan berkisar 2,75 – 4,75% pada varietas pandan wangi.

Pengeringan dengan alat pengering buatan akan menghasilkan gabah berkualitas lebih baik, hal ini disebabkan suhu pengering, aliran udara panas dan laju penurunan kadar air dapat dikendalikan. Teknologi pengeringan gabah dengan bahan bakar sekam merupakan teknologi unggulan yang mudah untuk diimplementasikan karena biaya pengeringan yang murah, efisien dengan kualitas yang baik.

Penyimpanan

Kehilangan hasil saat penyimpanan disebabkan oleh kondisi kemasan, tempat penyimpanan, gangguan hama dan penyakit gudang dan keadaan cuaca setempat. Kadar air gabah akan mengikuti kondisi keseimbangan udara luar. Untuk keperluan penyimpanan yang aman agar diperoleh mutu beras yang tinggi, maka diperlukan kadar air berkisar dari 12-14%. Lama penyimpanan akan berpengaruh terhadap kualitas gabah yang dihasilkan. Pada kondisi kadar air tinggi yang akan diikuti dengan kelembaban yang tinggi, kerusakan gabah selama penyimpanan akan makin cepat.

Teknologi penyimpanan gabah menggunakan teknologi hermatically sealed storage (super bag), merupakan teknologi introduksi dari International Rice Research Institute (IRRI) telah diaplikasikan di Indonesia bekerjasama dengan Balai Besar Pascapanen dan Balai Besar Padi. Sistem penyimpanan hermatic adalah menempatkan gabah pada ruang kedap udara, sehingga mikroorganisme maupun jamur yang merusak gabah tidak bisa tumbuh dan berkembang, sampai dengan 5 bulan penyimpanan. Gabah yang disimpan dengan super bag menghasilkan rendemen giling 69,25% dengan kandungan beras kepala 80,62% serta daya tumbuh dari biji gabah masih 88,75%.

Penggilingan

Proses pengilingan adalah proses pengupasan gabah untuk menghasilkan beras yaitu dengan cara memisahkan lapisan lemma dan palea serta mengeluarkan biji beras. Rendemen giling sangat tergantung bahan baku, varietas, derajat masak, cara perawatan gabah dan konfigurasi penggilingan. Ukuran butir gabah juga berpengaruh terhadap rendemen giling. Gabah dengan ukuran panjang akan menghasilkan rendemen giling dan butir beras kepala yang lebih tinggi dibandingkan dengan gabah yang berukuran lebih pendek. Susut yang terjadi pada tahapan penggilingan umumnya disebabkan oleh penyetelan blower penghisap, penghembus sekam dan bekatul.

Penyetelan yang tidak tepat dapat menyebabkan banyak gabah yang terlempar ikut kedalam sekam atau beras yang terbawa kedalam dedak. Hal ini menyebabkan rendemen giling rendah. Kualitas beras akan ditentukan dalam proses penyosohan (polish). Proses yang baik akan menghasilkan beras dengan penampakan yang cerah dan mengkilat, derajat sosoh yang tinggi. Proses penyosohan yang tidak baik akan menghasilkan beras kusam, miling meter yang rendah dan persentase beras pecah dan menir yang tinggi. Konfigurasi penggilingan akan berpengaruh terhadap kualitas beras yang ditentukan dengan besaran derajat sosoh, persentase beras pecah maupun butir menir yang terjadi.

Susut Mutu dan Nutrisi Beras

Penurunan mutu fisik dapat menyebabkan susut bobot maupun susut atau kehilangan nutrisi beras. Kedua hasil tersebut dapat menyebabkan jatuhnya harga jual gabah maupun beras. Selain susut bobot, perlakuan penanganan pascapanen yang salah dapat menyebabkan susut mutu kimiawi, misalnya kadar amilosa berkurang, sehingga rasa nasi menjadi pera dan tidak pulen lagi. Susut tersebut dapat terjadi karena (1) terjadi penundaan atau keterlambatan perontokan, (2) penumpukan padi di sawah yang terlalu lama, (3) terjadinya keterlambatan dalam proses penjemuran/pengeringan dan (4) kerusakan yang terjadi karena kondisi penyimpanan yang terlalu lama dan kondisi lingkungan yang tidak memenuhi syarat. Terjadinya susut mutu fisik antara 0,49-150%, yang terjadi pada saat penundaan perontokan sebesar 0.27-0.77% dan terjadi pada saat penyimpanan gabah diikuti petani sebesar 0.22-0.73%.

Terjadinya penurunan kadar air gabah selama penyimpanan 1.53-2.61%, penurunan kadar air terjadi karena adanya kadar air keseimbangan antara suhu dan kelembaban masing-masing lokasi penyimpanan. Dengan terjadinya perubahan kadar air, maka akan terjadi pula perubahan keseimbangan unsur-unsur mikro yang terdapat dalam beras.

Selain itu terjadi perubahan kenaikan kadar abu antara 0.12-0.7%, kadar serat antara 0.87-1.41%, dan kadar karbohidrat antara 1.42-2.33%. Penyimpanan gabah selama 5 bulan belum menunjukan adanya perubahan yang nyata terhadap kandungan asam lemak bebas, sehingga belum menimbulkan bau tengik pada beras. Hal ini karena pada penyimpanan gabah lapisan aluron atau lapisan bekatul yang banyak mengandung asam lemak masih tertutup kulit sekam (karyopsis), sehingga terjadi oksidasi asam lemak bebas dapat dihindari, beda kalau penyimpanan tersebut dilakukan pada beras pecah kulit.

Sumber  :

Sigit Nugraha. 2012. Inovasi Teknologi Pascapanen Untuk Mengurangi Susut Hasil Dan Mempertahankan Mutu Gabah/Beras Di Tingkat Petani Buletin  Teknologi Pascananen Pertanian Vol 8 (1).

Pembuatan Briket dari Arang Sekam Padi

Pendahuluan

Sekam padi merupakan lapisan keras yang meliputi kariopsis, terdiri dari belahan lemma dan palea yang saling bertautan, umumnya ditemukan di areal penggilingan padi. Dari proses penggilingan padi, biasanya diperoleh sekam 20–30%, dedak 8–12 %, dan beras giling 50–63,5% dari bobot awal gabah. Sekam padi sering diartikan sebagai bahan buangan atau limbah penggilingan padi, keberadaannya cendrung meningkat yang mengalami proses penghancuran secara alami dan lambat, sehingga dapat mengganggu lingkungan juga kesehatan manusia. Sekam memiliki kerapatan jenis bulk density 125 kg/m3 , dengan nilai kalori 1 kg sekam padi sebesar 3300 k.kalori dan ditinjau dari komposisi kimiawi, sekam mengandung karbon (zat arang) 1,33%, hydrogen 1,54%, oksigen 33,645, dan Silika (SiO2) 16,98%, artinya sekam dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku industri kimia dan sebagai sumber energi panas untuk keperluan manusia. Kadar selulosa sekam yang cukup tinggi dapat memberikan pembakaran yang merata dan stabil, untuk memudahkan diversifikasi penggunaannya, maka sekam terlebih dahulu melalui proses pembuatan arang sekam kemudian dipadatkan, dibentuk dan dikeringkan, disebut dengan Briket Sekam Padi.

Pada proses penggilingan padi, sekam akan terpisah dari butir beras dan menjadi bahan sisa atau limbah penggilingan. Kadar sekam adalah 20-30% dari bobot gabah yang digiling, dedak  8-12 %, dan beras giling  50-53,5 %. Jadi semakin tinggi produksi padi maka semakin banyak sekam padi yang akan dihasilkan dan tentunya ini juga merupakan suatu permasalahan yang harus dicarikan jalan keluarnya. Pada setiap penggilingan padi akan selalu kita lihat tumpukan bahkan gunungan sekam yang semakin lama semakin tinggi.  Saat ini pemanfaatan sekam padi tersebut masih sangat sedikit.  Hanya sebagian kecil sekam yang telah dimanfaatkan antara lain untuk membakar bata merah, alas kandang ayam, abu gosok, membuat tungku, dan lain-lain. Sekam dapat dimanfaatkan untuk berbagai bahan baku indutri kimia, isolasi, filteraid, sebagai pemucat minyak kelapa, minyak wijen, dan minyak kelapa sawit.  Namun pemanfatannya masih terkendala pengangkutan, mutu sekam dan harga.

Arang sekam adalah sekam padi yang telah melalui proses pembakaran tidak sempurna sehingga tidak sampai menjadi abu.  Selanjutnya arang sekam tersebut dicampur dengan perekat , dipadatkan dan dikeringkan dan disebut sebagai briket.  Dalam proses pembuatan arang sekam ini ada dua macam tehnik yaitu dengan menggunakan alat pembakar dan tanpa alat pembakar. Agar lebih praktis dan membutuhkan sedikit tenaga sebaiknya membuat arang sekam tanpa menggunakan alat.

Dalam pembuatan briket bisa menggunakan perekat dari tepung kanji atau menggunakan tanah liat.  Bila menggunakan tanah liat, maka tidak perlu menambah biaya karena tanah liat banyak tersedia. Sebelum briket dibuat sebaiknya arang sekam terlebih dahulu dihaluskan atau ditumbuk, karena akan mempengaruhi kepadatan briket dan panas yang akan dihasilkan. Briket arang sekam bisa menjadi energi alternatif dalam rumah tangga. Dengan dimanfaatkannya sekam padi ini menjadi briket arang sekam, maka akan mengurangi limbah hasil pertanian, menambah pendapatan petani dan mengurangi  pengeluaran keluarga untuk membeli bahan bakar.

Komposisi sekam sebagai berikut,  Kadar Air   9,020 %, Protein Kasar  3,027 %,  Lemak 1,180 %, Serat Kasar  35,680 %,  Abu 17,710 %,  Karbohidrat kasar 33,710 %. Sedangkan sifat-sifat fisik dari sekam, adalah : Prosentase sekam 14 – 26 % dari berat gabah  (tergantung dari varietas padi), Kerapatan jenis bulk density 125 kg/m3, Nilai kalori 1 kg sekam = 1.300 kkal, Persentase abu 20 % berat pada pembakaran sempurna dan Kandungan air 10 %.

Untuk memafaatkan sekam menjadi bahan bakar pengganti minyak tanah, gas atau arang kayu, sekam harus diproses dulu menjadi arang sekam.  Proses pembuatan arang sekam cukup sederhana dan dapat dikerjakan sendiri oleh petani dan keluarganya tanpa membutuhkan  peralatan khusus dan tidak membutuhkan banyak tenaga.

Proses pembuatan arang sekam dengan menggunakan alat pembakar

Alat dan bahan :

  1. Cerobong besi sepanjang ± 1 meter
  2. Gembor untuk menyiram
  3. Sekam padi
  4. Kayu bakar

Cara kerja:

  1. Bakar terlebih dahulu kayu api sampai menjadi bara
  2. Tutup bara dengan cerobong besi yang telah disediakan
  3. Setelah cerobong panas, taburkan sekam disekeliling cerobong, biarkan sekam sampai menjadi arang, kemudian tarik menjauh dari cerobong
  4. Timbunkan kembali sekam baru kesekeliling cerobong, lakukan terus sampai semua sekam habis.
  5. Siram sekam yang telah menjadi arang sampai benar-benar dingin agar tidak menjadi abu.

Proses pembuatan briket arang sekam

Briket adalah hasil pemadatan arang sekam yang dicampur dengan perekat.  Tujuan dari pemadatan ini adalah agar bara yang terbentuk lebih tahan lama dan suhu panas yang dihasilkan lebih tinggi, tidak menghasilkan asap. Langkah kerja dalam proses pembuatan briket arang sekam adalah :

Tumbuk arang dengan menggunakan lesung  sehingga dihasilkan tepung arang sekam

  1. Siapkan bahan perekat berupa tanah liat yang telah dicairkan dengan air dengan perbandingan 5 : 1 (tanah liat : air)
  2. Campurkan bahan perekat kedalam tepung arang sekam dengan perbandingan 6 bagian sekam dan 1 bagian perekat, aduk sampai rata.
  3. Cetak adonan dengan menggunakan bambu atau paralon yang telah dipotong-potong dengan panjang 5 cm dan diameter 1 inchi.
  4. Jemur briket yang sudah dicetak sampai benar-benar kering (lama penjemuran tergantung cuaca)

 

Memanfaatkan sekam menjadi bahan bakar akan didapat beberapa keuntungan :

  1. Menekan biaya pengeluaran untuk membeli bahan bakar bagi rumah tangga petani
  2. Memanfaatkan limbah pertanian yang selama ini terbuang sebagai bahan bakar
  3. Sebagai media tumbuh tanaman hortikultura khususnya tanaman hias
  4. Memperoleh nilai tambah dari hasil samping padi
  5. Menjaga kebersihan lingkungan dari limbah yang menumpuk
  6. Menambah penghasilan petani, sehingga petani tidak saja mengharapkan hasil dari padi saja tapi bisa mengolah sekam menjadi produk yang bernilai ekonomis
  7. Tidak mengasilkan asap dan bau.  Sehingga kita dapat memasak dengan aman dan nyaman

Darmatasiah. 2012. Cara Mudah dan Murah Membuat Briket Arang Sekam. https://kurniaabadi6.blogspot.co.id/2013/06/cara-mudah-dan-murah-membuat-briket.html.

Teknik Menghitung Kebutuhan Pupuk di Sawah

Contoh perhitungan pupuk untuk padi sawah, diangkat dari satu permasalahan yang pernah terjadi dan dituliskan. Diharapkan akan menjadi solusi bagi para pendamping lapangan dan terutama petani untuk selalu menghitung kebutuan pupuk, agar usaha tidak merugi serta kita berkontribusi pada penyelamatan BUMI.

Diketahui Luas Lahan 750 m2.

Rekomendasi Pupuk yang dianjurkan N=200 kg/ha, SP36= 75 kg/ha dan KCl= 25 kg/ha.

Menghitung Kebutuhan Pupuk:

Rumus= Rekomendasi Pupuk : Luas Lahan x Luas Lahan Real

  1. N (Urea) : 200/10.000 x 750 = 150 kg/ha
  2. P (Phospor): 75/10.000 x 750 = 56,25 kg/ha
  3. KCl : 25/10.000 x 750= 18,75

Catatan:

Dalam menghitung pupuk, harus didasarkan pada rekomendasi yang tepat, dianjurkan mengacu pada KATAM TERPADU.

Selamat Mencoba