JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Anda Harus Tahu, Karat Daun dan Teknik Pengendaliannya

Kendala utama petani Krisan, dalam membudidayakan Krisan, adalah karat daun (Puccinian horiana P.Hann). Kehilangan hasil dari gangguan pathogen ini, dapat mencapai 100 persen (%). Penyakit karat ini, atau cendawan ini menyebar dari satu tanaman ke tanaman lain dengan cepat. Dengan sporanya atau basidiaspora dan teliosporanya berpindah dengan cepat.

Untuk itu, penting diketahui oleh pelaku utama (petani) keberadaan penyakit ini dan kenali cara mengendalikan agar tidak berdampak kerugian pada petani. Demikian juga petugas dan petani, harus ketahui varietas-varietas yang tahan terhadap penyakit ini serta tata cara proses produksi untuk menekan karat putih pada krisan.

Gejala Serangan

Pada umumnyam gejala penyakit timbul apabila terjadi interaksi antara tiga factor yaitu: Patogen yang virulen (bakteri yang dapat menyebabkan penyakit mampu menyerang jaringan tubuh, sehingga penyakit lebih parah), Inang yang rentan, dan kondisi lingkungan budidaya. Oleh Agrios (1988), ini dikenal dengan segitiga penyakit.

Gejala awal, serangan P.horiana pada daun Krisan, bermula munculnya bercak berwarna kuning pada permukaan atas daun. Kemudian diikuti dengan perubahan warna pusat bercak, dari putih menjadi cokelat tua. Pada permukaan bawah daun terbentuk pustula (semacam benjolan kecil yang dapat diamati), yang awal berwarna merah muda, selanjutnya pustule membesar, berwarna putih dan ahirnya tanaman mati (kering).

Menurut Hanudin dan Budimarwoto (2012) dalam Suhardi (2009a), Pustula karat sebenarnya merupakan kumpulan teliospora yang akan berkecambah membentuk basidiospora yang kembudian menginfeksi tanaman.

Cara Pencegahan

Pencegahan serangan penyakit karat putih dapat dilakukan dengan cara-cara yaitu

  1. menggunakan benih sehat dari penangkar benih yang kompeten,
  2. mengenali gejala penyakit karat untuk deteksi dini, dan daun atau bagian yang terinfeksi dibuang dan dimusnahkan,
  3. mengenalkan pentingnya penyakit karat dan cara pengendaliannya kepada petani krisan,
  4. melakukan disinfeksi sepatu kebun para pekerja dengan cara membuat kolam yang diisi desinfektan seperti Virkon S 1% (1:100) atau chemprocide  DDAC) konsentrasi 15 ml/l,
  5. mengganti desinfektan setiap minggu dan menggunakan test stripe untuk mempertahankan konsentrasinya,
  6. membatasi jumlah pegunjung ke pertanaman krisan dan bila perlu menggunakan pakaian satu kali pakai tiap saat,
  7. mengendalikan serangga yang mungkin membawa propagul (organisme sebagai alat penyebaran/ vector) penyakit dan
  8. melakukan penyemprotan dengan fungisida secara rutin tiap minggu

Pengendalian

Untuk mengendalikan penyakit Karat Daun pada tanaman Krisan dapat dilakukan dengan cara terintegrasi melalui penggabungan berbagai teknik pengendalian. Dari hasil penelitian para peneliti dari Balitbangtan dan Peneliti lain dalam dan luar negeri, pengendalian penyakit Karat Putih pada Krisan dapat dilakukan dengan berbagai cara seperti langkah-langkah sebagai berikut:

  1. Penggunaan Varietas yang toleran
  2. Perompesan Daun dan Penyiangan
  3. Penggunaan Mikroba Antagonis
  4. Aplikasi Fungisida

Implikasi Kebijakan dan Prospek

Sebagai daerah tropis, Indonesia memiliki kekayaan sumber daya genetic (SDG) dan microflora yang sangat beragam. Kekayaan tersebut, seperti mikroba antagonis dari spesies  B.subtilis, P.fluoresces, dan Corynebacterium yang prospek dikembangkan sebagai biopestisida ramah lingkungan dan efektif mengendalikan penyakit pada tanaman hortikultura.

Teknologi isolasi, perbanyakan inoculum dan konservasi inoculum telah dikuasai oleh para ilmuwan di Indonesia. Pengendalian penyakit karat putih (Karat Daun) pada krisan, diharapkan dapat meningkatkan daya saing komoditas krisan dan diikuti dengan peningkatan kesejahteraan petani serta ekspansi ekspor produk krisan ke manca negara.

Penutup

Penyakit karat putih pada krisan disebabkan oleh cendawan P. horiana. Cendawan tersebut menghasilkan dua jenis spora, yaitu: teliospora dan basidiospora.

Penularan patogen terjadi melalui berbagai media pembawa, yaitu bibit, angin, air, perlakuan pemeliharaan, pakaian pekerja, dan peralatan pertanian.

P. horiana dapat dikendalikan melalui perompesan daun yang terinfeksi, penyiraman tanaman pada pagi hari, aplikasi biopestisida berbahan aktif mikroba antagonis B. subtilis, P. fluorescens, dan Corynebacterium, serta fungisida sintetis berbahan aktif propineb, mankozeb, dan miklobutanil.(*ART)

Sumber dari hasil penelitian Balitbangtan dan dihilirkan kembali oleh: Anneke Turangan, Jansye Tutu dan Arnold C.Turang