JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Info Aktual

Penyuluh Pertanian Harus Menguasai Teknologi Unggulan Hadapi Revolusi Empat

Manado, 07 April 2019---Badan Litbang Pertanian (Balitbangtan) sebagai ujung tombak penghasil inovasi pertanian Kementerian Pertanian, terus berbenah dalam penyiapan Sumber Daya Manusia (SDM) pertanian. Balitbangtan memiliki peneliti dan penyuluh, sebagai penghasil inovasi dan penderas inovasi.

Sesuai tugas dan fungsi (Tusi) nya, peneliti melakukan penelitian dan penyuluh melakukan hilirderas hasil-hasil para peneliti. Persandingan harmonis bagaikan dua pasang sayap burung, ujung tombak inovasi Kementerian Pertanian. Mereka diharapkan akan memantapkan smart agrikulture di era revolusi empat ini.

“Sayap” (Penyuluh) dalam hal ini pediseminasi inovasi teknologi hasil Balitbangtan, beberapa waktu lalu (4-6/04) berkumpul di Balai Besar pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian (BBP2TP), untuk mengikuti workshop Koordinasi dan Diseminasi Inovasi Teknologi Hasil Balitbangtan.

Penyuluh Pertanian di Balitbangtan, berperan penting dalam rangka perakitan materi hasil “Sayap" (Peneliti) untuk diramu materi diseminasi hasil penelitian dan pengkajian spesifik lokasi, untuk diderashiliran ke user pengguna teknologi di masyarakat.

Dr.Ir. Muhammad Prama Yufdy, M.Sc. selaku sekretaris Balitbangtan dalam arahan: “Penyuluh Harus Menguasai Inovasi Teknologi Unggulan Balitbangtan”, untuk dihilirderaskan ke petani. Karena kunci utama peningkatan produksi dan produktivitas pertanian adalah teknologi. Sehingga penyuluh harus kuasai. Dan diramu sistim penderasan menghadapi petani-petani milenial.

Lanjut Prama, Saat ini kita sudah berada pada kereta Revolusi Industri Keempat. Yang menuntut SDM Pertanian yang didalam gerbong revolusi industri ke empat, termasuk penyuluh meramu inovasi model Smart education yang mudah diakses dan diimplementasikan generasi milenial.  

Di tempat yang sama, kepala BBP2TP, Dr. Ir. Haris Syahbuddin, DEA. Dalam sambutan: meminta kepada para penderas inovasi, yang ada di BPTP, agar mengedepankan 3 (Tiga) kata kunci yaitu: Melakukan Komunikasi, Melakukan Koordinasi dan Diseminasi. Ini harus diterjemahkan sebagai sinergitas pelaksanaan program pembangunan pertanian.

Masih menurut kepala BBP2TP, bahwa sebagai ujung tombak penderas inovasi teknologi, peran penting dari penyuluh sebagai penghubung inovasi teknologi antara Balitbangtan, Balai Besar Puslit dengan pengguna, harus mengedepankan 3 kata kunci diatas. Kebeerhasilan Balitbangtan terukur dari termanfaatkanya teknologi inovasi yang dihilirderaskan ke pengguna.

BBP2TP memiliki Forum Komunikasi Penyuluh Pertanian Utama (FKPPU), forum ini harus mengambil peran dalam gerbong refolusi ke empat, dengan menciptakan Smart education yang handal, berkembampuan, entrepreneurial spirit, Creative, Innovative, Communicative, Professional, dan semangat milenial, tutup Haris.

Pertemuan yang berlangsung selama 3 (Tiga) hari mengemas materi-materi yang dibawakan para pakar di bidangnya seperti: Kepala Biro Organisasi dan Kepegawaian Kemtan Drs. Abdul Halim,MSi.; Biro Perencanaan Kemtan, Dr.Ranny Mutiara; Pusat Sosial Ekonomi-KP Dr. Syahyuti, Casdimin dari Karya Masyarakat Mandiri Dompet Dhuafa; dan Pusat penyuluhan Pertanian Kemtan, Ir. Sri Puji Rahayu,MM.

Kegiatan yang diawali dengan Self Assesment Pelaksanaan kegiatan T.A.2018, yang telah dikirimkan panitian. Ini dimaksudkan untuk mengetahui kegiatan penyuluhan pertanian di 33 BPTP Selindo. Dan sebagai bahan evaluasi perbaikan dan strategi menghadapi revolusi ke empat.

Dalam pertemuan ini,menghasilkan rumusan strategi pelaksanaan kegiatan peningkatan komunikasi, koordinasi dan diseminasi inovasi teknologi hasil-hasil Balitbangtan. Harapanya peserta yang hadir, dapat menderashiirkan hasil workshop. Dan diharapkan akan meningkatkan kapasitas para penyuluh pertanian dalam melaksanakan tranformasi dan hilir deras inovasi Balitbangtan.

Kepala BPTP Balitbangtan Sulawesi Utara, Dr.Ir.Yusuf,MP., saat dihubungi, membenarkan akan kegiatan yang dilaksanakan. Dan beliau menugaskan koordinator PP, mengikuti kegiatan ini. Untuk itu, Yusuf meminta petugas yang ditugaskan agar segera melaporkan hasilnya dan melakukan sosialisasi. "Tindak lanjuti apa yang diarahkan oleh pimpinan", mengingat pentingnya kegiatan ini diketahui oleh penyuluh yang tidak ikut. (*artur)

Sumber:  dikembangkan dari FB.BBP2TP

Bolaang Mongondow Melakukan Kegiatan Temu Teknologi Pembuatan Pupuk dan Pestisida Nabati

Manado, 01 April 2019---Kelangkaan pupuk terjadi saat tiba waktu memupuk, menjadi masalah petani. Ini dapat memicu gab di tingkat pelaku utama (Petani) dan pelaku antara  PPL (Penyuluh Pertanian Lapangan) dan menjadi  faktor penting yang mempengaruhi produksi dan produktifitas usahatani. Dipihak lain, seperti terungkap dari pertemuan dengan Kadis Pertanian  Sulut, beberapa waktu lalu bahwa: serapan pupuk sesuai target di setiap daerah tidak tercapai. Fenomena ini aneh tapi faktanya memang ada. Dan ini menjadi pekerjaan untuk ditatalaksana oleh pengambil kebijakan.

Permasalahan ini, menjadi pelajaran penting oleh Dinas Pertanian Bolmong, sehingga untuk memiliminer akan permasalahan tersebut, pihak Dinas Pertanian mengambil langkah proaktiv dengan merancang kegiatan Temu Teknologi. Ini menjadi sarana pembekalan bagi para pelaku utama, dengan teknologi pembuatan pestisida nabati dan pupuk organik. Kegiatan ini, menghadirkan BPTP Balitbangtan Sulawesi Utara sebagai narasumber utama.

Bertempat di Gedung Serba Guna Dinas Pertanian Bolaang Mongondow (28/03), Pelaku Utama (Petani) sekitar 60 orang, berkumpul dan mendapatkan penderasan terkait teknologi pembuatan pestisida Nabati dan Pengolahan pupuk organik.  Teknologi ini menggunakan bahan baku dari limbah pertanian di sekitaran kegiatan usahatani.

Pada temu teknologi tersebut, materi yang disampaikan meliputi: teknik pembuatan pestisida nabati yang dibawakan oleh: Meivi Lintang,SPT.MSi dibantu oleh Supratman Siri. Demonstrasi pembuatan pupuk organik oleh Ir. Derek Polakitan,MSi. dibantu oleh Denny Mamesa.

Lintang, dalam pemaparan materi menguraikan tanaman-tanaman potensi untuk berkontribusi untuk pengendalian pengganggu tanaman utama pada padi jagung dan kedelai. Tanaman-tanaman tersebut adalah tanaman yang spesifik di daerah dan sudah dilakukan uji kaji pembuatan dan penggunaan serta dosis yang dapat dianjurkan.  Lanjut Lintang, tanaman-tanaman spesifik yang dimaksud yaitu: tanaman cengkeh, buah mitung, sirsak, gamal, jahe, Mimba, Sereh Wangi, Tembelakan atau rumput macan.

Ditempat yang sama, Polakitan mengawali dengan teknik pembuatan Micro Organisme Lokal (MOL) bahan baku bonggol pisang. Bongol pisang dihaluskan dan dicampur dengan testes tebu atau gula mera dan air cucian beras dan air kelapa. Setelah difermentasi sekitar 14 hari, adonan sudah dapat digunakan. 

Untuk pembuatan pupuk organik, berbahan baku lokal dari jerami padi, kotoran ternak , abu sekam dan MOL. Diadon dan digunakan dalam tumpukan jerami padi yang sudah disiapkan. Dengan teknik menumpukkan jerami pada wadah yang sudah dibuat ukuran 100 cm x 200 cm x 100 cm. jerami padi dimasukkan dalam wadah ini setiap ketebalan 20 cm, disiram basah oleh mol yang sudah dicampurkan pada air.

Kadis Pertanian Bolaang Mongondow melalui sekretaris Dinas Nyoman Sukra, mengapresiasi pemaparan dan simulasi yang dipaparkan tim kerja BPTP Balitbangtan Sulawesi Utara terkait dengan teknologi yang lebih akrab lingkungan dan berbahan baku di sekitar lingkungan kegiatan usahatani.

Tentunya kami menyambut baik penderasan ini, dan berharap agar para petani dapat mengikuti kegiatan ini dengan baik. Karena kegiatan seperti ini, sengaja dirancang untuk mengatasi permasalahan kelangkaan pupuk yang menjadi momok petani ketika beraktivitas dalam usahatani. Lanjut Sukra bahwa ini bagain dari dukungan kegiatan #Bekerja Kementerian Pertanian.

Di tempat yang sama, Syanne Kumendong selaku kepala bidang Penyuluhan menjelaskan bahwa:  kegiatan ini, sebagai upaya untuk meningkatkan kapasitas dari para petani, agar permasalahan kelangkaan pupuk dapat diatasi dengan teknologi spesifik yang ada di sekitar usahatani. Demikian dengan permasalahan penggunaan pestisida yang semakin masif, agar dapat ditekan dengan menggunakan produk nabati yang lebih akrab lingkungan (*Artur).

Mantapkan Kualitas Layanan Kerja ASN Dengan Aplikasi e-Kinerja Hadapi issu Revolusi Industri 4.0

 

Manado, 29 Maret 2019---Bertempat di ruang Cengkeh (Eugenia) kepala BPTP Balitbangtan Sulawesi Utara, membuka secara resmi kegiatan Workshop Penyiapan Kinerja Pegawai Melalui Aplikasi e-Kinerja dan Analisis Beban Kerja. Kegiatan ini diatur selama dua hari (Kamis-Jumat), dan dilaksanakan sejak diterimanya edaran pak Sekretaris Badan (Sesba) Balitbangtan.

Kepala BPTP Balitbangtan Sulawesi Utara, Dr.Ir.Yusuf,MP., dalam arahan menyampaikan bahwa: saat ini Kementerian Pertanian, sudah mengembangkan farming precision di dalamnya Smart Agriculture dan beragam derivasinya, menghadapi tuntutan zaman di era revolusi industri 4.0. Hal ini harus didukung dengan kondisi Sumber Daya Manusia (SDM)-nya yang harus smart pula.

Terkait tuntutan itu, Kementerian Pertanian untuk tingkatkan pelayanannya, sudah kembangkan e- Kinerja sebagai wujud dari pengembangan Aparatur Sipil Negara (ASN) yang melek teknologi menghadapi issu Revolusi Industri 4.0. Untuk itu beliau meminta agar setiap ASN harus dapat membuat sendiri proses pengisian e-Kinerjanya, karena kontrak kerja ini berhubungan dengan tunjangan kinerja (Tukin) anda, tutur beliau.

Lanjut Yusuf, mengingat SDM merupakan salah satu komponen penting serta faktor penentu dalam melaksanakan kegiatan-kegiatan pemerintahan, maka kualitas SDM pun menjadi faktor penilaian untuk mengetahui sejauh mana ia mampu berkompetisi dan menghasil output yang baik.


Klik Edisi Video


Masih menurut Yusuf, Kementerian Pertanian (Kementan) menargetkan mulai 1 April 2019, resmi menerapkan aplikasi online e-kinerja sebagai upaya pengawasan kinerja pegawai Aparatur Sipil Negara (ASN), dan wujud dari layanan smart di era revolusi empat ini.

Lanjut ketua Paguyuban BPTP Selindo: selama ini tidak ada data yang terekam, untuk mengukur tingkat optimalisasi kerja para ASN di lingkungan Kementerian Pertanian, bila di butuhkan dalam waktu cepat. Oleh karenanya, dengan sistem digitalisasi ini, maka ada solusi untuk peningkatan optimalisasi kerja. Inilah sebenarnya yang ingin di capai oleh Kementerian Pertanian. Bukan hanya smart agriculture tapi berjalan lurus dengan smart pengisian e-kinerja.

Di tempat yang sama Kepala Sub Bagian Tata Usaha (Ka.Subag TU) BPTP Balitbangtan Sulut, Ir. Hartin Kasim menjelaskan: dalam pengisian kinerja, kita menggunakan aplikasi yang telah dibuat oleh Kementerian Pertanian yang dapat di buka melalui akun: http://ekinerja.pertanian.go.id/epersonalv2/ekinerjav2/index2.php .

Setiap ASN harus dapat mengakses dan harus melakukan pengisian sendiri sesua dengan Sasaran kerja Pegawai (SKP) setiap ASN. Lanjut Kasim bahwa e-Kinerja, adalah tanggung jawab penuh ASN bersangkutan dan diketahui dan disahkan oleh atasannya, bukan tanggung jawab Pimpinan. Untuk itu setiap ASN wajib membuat dan paling lambat hari ini (29/03) sudah selesai. Jangan ada yang tidak membuat, sehingga akan menghambat semua termasuk di tingkat Kementerian Pertanian.

Dalam Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2019, Tentang Penilaian Kinerja Pegawai Lingkup Kementerian Pertanian, itu sangat jelas dan di Kementerian Pertanian serentak diberlakukan mulai April ini. Untuk itu, wajib ASN lingkup Kemtan mengisinya, tutup Kasim saat mempresentasekan hasil Workshop tingkat Pusat.

Workshop yang dilaksanakan di BPTP Balitbangtan Sulut yang dilaksanakan selama 2 hari, diikuti oleh seluruh Peneliti,Penyuluh, Teknisi Litkayasa, Administrasi dan Pramusaji, Caraka dan petugas kebun, melakukan pengisian dengan pendampingan dari tim yang sudah mengikuti di tingkat pusat serta teman-teman yang sudah trampil mengisi. (*artur)

Bagaimana Kesiapan Sektor Pertanian Menyongsong Era Revolusi Industri 4.0

Manado, 22 Maret 2019--Populasi global dunia terus bertumbuh mendorong permintaan makan tinggi. Perjuangan mengimbangi ketika produksi turun, harus disikapi dengan inovasi teknologi yang smart. Sajian dalam artikel ini,akan memaparkan rekaman dialog Indonesia Hari Ini TV RI Nasional bersama Prof. Dedy Nursyamsi, Staf Ahli Menteri Pertanian (SAMP) di kemas dalam Versi Narasi.

Interviewer : Oki Satrial (OS); Interviewed : Prof. Dr.Ir. Dedy Nursyamsi, MAgr.

Oppening: Selamat siang saudara, kembali berjumpa di program dialog Indonesia hari ini, bersama saya Okki Satrial. Saudara revolusi Industri 4.0, membutuhkan kesiapan dari seluruh aspek dan juga semua sektor, termasuk juga sektor pertanian. Lalu, bagaimana dengan sektor pertanian di Indonesia, apakah kita sudah siap memasukki Industri 4.0, atau four point o ini. Kita akan membahasnya bersama dengan narasumber yang telah hadir di studio 4 TVRI, beliau adalah Profesor Dedy Nursyamsi, Staf Ahli Menteri (SAM) Bidang Infra Struktur Pertanian di Kementerian Pertanian.

OS: Pak Dedy, Selamat siang.../selamat sore..(DN) Selamat siang/ Sore...terima kasih...OS: terima kasih telah hadir di Studio 4 TVRI

OS: Baik Pak Dedy...,berbicara menganai revolusi Industri 4.0, ini...sebuah ke niscayaan yang harus kita hadapi begitu, termasuk juga di sektor pertanian...Bagaimana sektor pertanian, mau tidak mau kemudian harus masuk kemudian harus masuk ke erah ini. Bagaimana sektor pertanian kemudian menyikapi hal ini, begitu pak....?

Dedi Nursyamsi (DN):

DN), Jadi begini, (OS), ...Sejak akhir abad XX, kita memasukki awal abad ke XXI,...itu yang namanya pertanian, itu memang fokus di hasil-hasil produk: bio Sains, produk mekanisasi pertanian dan satu lagi produk Information Comunication Tecknology (ICT). Nah, itu meningkatkan produktivitas dan produksi pertanian, itu luar biasa.

Diawal abad ke XXI ini, sejak ada hannover fair tahun 2011. Jadi Jerman sudah mendeklarasikan Industri 4.0. Sejak itu, perkembangan Industri 4.0, berkembang sangat pesat, termasuk di Indonesia.  Jadi, sebetulnya sektor pertanian kita di Indonesia, juga sudah mengimplementasikan Industri 4.0, apa yang kita sebut “smart agriculture”. Jadi, pertanian cerdas. Di dalam smart agriculture itu, ada yang namanya smart green house, artinya rumah kaca yang cerdas. Jadi kita tahu semua bahwa produksi tanaman, itu ditentukan oleh fotosintesis.

OS:, ok, dari proses tanaman itu sendiri mendapatkan cahaya mat.., dan macam-macam.

DN-betul, nah fotosintesis itu membutuhkan lingkungan yang favoreble, membutuhkan suhu yang optimal, kelembaban yang optimal, memerlukan air yang optimal, dsb. Nah, didalam smart green house ini, semuanya diatur oleh sensor, yang dihubungkan ke internet. Dengan menggunakan big data, sensor itu bisa bicara. Pada saat suhu melampaui suhu optimum, si sensor berkata: ini sudah lewat. Kemudian blower bekerja, dan suhu turun, sehingga fotosintesis akan berlangsung dengan optimal. Sehingga semua akan menghasilkan produksi yang maksimal.

Ini semua diatur oleh internet. Ini semua kita menggunakan artivicial intelegen, menggunakan kecerdasan buatan dan sebagainya. Ini semua kita sudah masuk disitu. Nah sudah terbukti bahwa, Industri 4.0 ini, itu betul-betul efisien, betul-betul cepat, betul-betul...dalam ruang lingkup yang sangat luas. Ia dapat menyediakan bahan pangan dalam jumlah sangat banyak. Ini sangat efisien, nah karena efisiensi ini, mau tidak mau, kita harus efisien, yang tidak efisien,kala dan ketinggalan, termasuk sektor pertanian.

OS. Karena efisiensi mempengaruhi hasil pertanian Betul, Efisiensi berpengaruh terhadap produktivitas, daya saing, berpengaruh terhadap ekspor. Salah satu indikasi keberhasilan pembangunan kita kan adalah apakah kita bisa menjual kenegara lain, melalui ekspor. Jadi Intinya,seperti itu.

OS: menarik terkait disebutkan ada Smart Agriculture: artinya penerapan yang memang bisa dikatakan masa depan pertanian di Indonesia. Tapi ini sudah diterapkan, atau masih merupakan model, begitu pak ?

DN. Sudah. Jadi untuk smart green house, itu terutama untuk komoditas hortikultura. Komoditas hortikultura, itu kan, dia mempunyai nilai ekonomi yang tinggi. Sehingga nilai jualnya tinggi, tentunya keuntungan juga banyak. Ada lagi, yang disebut Smart Irigation, itu terutama di daerah-daerah yang kering, untuk komoditas tebu. Jadi menggunakan irigasi dibawah permukaan tanah. Di situ juga bekerja sensor-sensor. Ada sensor yang menetapkan, wah: ini kadar airnya sudah menuju kering. Begitu kadar airnya kering, yang kita sebutkan titik layu, itu sisensor berkata ini kekeringan. Kemudian dia akan printahkan keran, dan terbuka. Sampai dengan kebasahan tertentu, dan kelebaban tertentu, bagitu misalnya tanahnya sudah cukup kelembabanya, keran akan tertutup. Itu berdasarkan sensor, yang nyuruh.

OS: jadi tadi ada smart agriculture, smart green house, smart irigation. DN menyelah: bahkan kita juga sudah menciptakan apa namanya: automatik traktor roda empat SO menyela, untuk: lahan pertanian DN betul. ya, untuk mengolah tanah disawah. Bisa menggunakan traktor yang bisa dikendalikan dari rumah. Dengan menggunakan internet dan lain sebagainya.

OS. Baik, sudah terbayang bagaimana masa depan pertanian masa depan kita, dengan menjabarkan hal itu. Saat ini, dimana saja sudah diterapkan teknologi itu ?.

Betul, memang ini masih terbatas, belum masif. Kita memang masih genjot sekarang produktivitas...produksi itu dengan: ya, boleh kita katakan industri 3.0 melalui penggunaan alsin, melalui penggunaan culture jaringan,

OS (menyela), dengan cara konvensional. DN: boleh dikatakan dengan cara-cara konvensional. Namun demikian, teknologi-teknologi tersebut, dipadukan: dengan penggunaan internet, dengan penggunaan artificial intellegence, dengan penggunaan big data dan sebagainya, sehingga lahirlah 4.0. Menarik tadi, Smart Agriculture. Pastinya ini, bukan produk yang semata-mata dihasilkan oleh Kementerian Pertanian, butuh kerjasama juga dengan pihak-pihak lain. Siapa saja yang selama ini sudah kerjasama...pak..?

DN: jadi Kementerian Pertanian sudah lama membagun kerjasama dengan BPPT. Itu yang menciptakan sensor-sensor itu BPPT. Kemudian juga dengan perguruan tinggi. Kemudian juga dengan Lapan. Kita juga sudah kembangkan, bagaimana memanfaatkan citra satelit,ya untuk mendeteksi apa yang terkandung didalam tanah. Nanti akan keluar rekomendasi, apakah perlu pupuk urea, kalau perlu berapa?. Apakah perlu pupuk TSP, kalau perlu berapa. Apakah perlu pupuk KCl, kalau perlu berapa. Nah itu dengan menggunakan deteksi, citra satelit. Nah ini kita kerjasama dengan LAPAN. Nah Lapan itu bisa menterjemahkan, dari citra satelit, memoto permukaan tanah, mefoto lahan, dari situ bisa diterjemahkan, oh ya: kadar N sekian, sehingga peru pupuk N sekian untuk tanaman padi. Untuk Jagung sekian,dst.

Nah, artificial intellegen-nya, big datanya itu dari kita. Kita sudah punya berbagai penelitian analisis tanah di seluruh Indonesia. Kita juga sudah punya berbagai penelitian, bagaimana memupuk kalau tanahnya sudah begini. Bagaimana memupuk kalau tanahnya seperti itu, dsb.

OS: ok dan penelitian ini sudah komperhensip belum untuk seluruh wilayah, atau memang masih terbatas pada beberapa daerah saja, seperti itu...

DN: kalau untuk penelitian tanah, penelitian pemupukan lahan dan sebagainya, itu seluruh wilayah di tanah air, sudah kita petakan. Jadi data-datanya ada di kementerian pertanian. Dan semua stakeholders boleh gunakan data-data itu, tentunya untuk pembangunan pertanian kedepan.

OS: Ini tentunya kita harapkan bisa dilakukan secara masif atau masalah, karena lahan kita besar sekali di Indonesia. Dan hampir dari separoh dari masyarakat kita masih bergantung hidupnya dari sektor pertanian. apa kira-kira yang perlu di lakukan untuk bisa menerapkan hal ini, secara lebih luas lagi ?

DN: untuk implementasi, jadi yang perlu kita lihat adalah pelaku, pelaku pertanian itu, siapa. Ya petani. Jadi didalam pelaku petani kita itu rancenya lebar. Dari mulai dari petani tradisional, petani konfensional, petani moderen dan petani milenial, itu ada. Terkait dengan Industri 4.0 ini petani yang milenial dan petani yang moderen, ini mempunyai khans yang sang sangat besar. Kenapa ?, karena petani milenial, itu melek teknologi. Dia akan dengan mudah mengadopsi teknologi. Kemudian dia juga melek ICT.

Dia gampang sekali menggunakan Information Communication Technology . Menggunakan internet, menganalis data. Karena memang mereka hidup seperti itu. Selain itu, mereka juga punya ide-ide yang luar biasa. Kemudian semangatnya juga tinggi, energinya juga tinggi. Jadi saya yakin dengan kita mengembleng, kita membimbing petani milenial, kedepan ya, implementasi Industri 4.0 di sektor pertanian itu akan berjalan dengan baik. Bahkan si petani-petani milenial itu, nanti akan menciptakan teknologi-teknologi baru di era 4.0 ini.

OS: jadi bisa dikatakan juga, image sekarang gambaran tentang petani itu: adalah, orang desa, yang kemudian dilakukan hampir sebagian orang yang sudah berumur, itu dulu,anak muda kita jarang mau jadi petani, tapi sekarang bagaimana menjadi petani yang milenial, yang memanfaatkan ICT tadi, sehingga mindset masyarakat terkait petani ini, berubah.

DN: jadi di dalam program kementerian pertanian ada yang namanya: bagaimana kita menciptakan petani milenial, 1 juta orang per tahun yang berorietnasi ekspor. Jadi kita gembleng, melalui: ada di pertanian namanya Politeknik Pembangunan Pertanian (Pelbangtan). Itu dalam dua tiga tahun terakhir, itu minat untuk menjadi mahasiswa Pelbangtan, itu luar biasa. Ada peningkatan 11 kali lipat. Itu kan artinya apa ?, minat anak-anak muda ke pertanian itu meningkat, kemudian kita lihat juga: mahasiswa pertanian di seluruh tanah air, itu juga meningkat sampai dengan 60%. Dalam dua tiga tahun terakhir. artinya itu apa...? mereka itu sangat minat. Mereka itulah yang akan membangun pertanian kita 5-10 tahun yang akan datang.

OS: kita mungkin, pasti ingin tahu juga. Apa sebetulnya kendala yang dihadapi dalam penerapan teknologi pertanian, adakah petani-petani kita sudah bisa menerima hal ini, terutama petani yang masih tinggal di daerah perdesaan begitu pak. kemudian apakah juga ada juga semacam target penerapan, seberapa lama jangka waktunya.


 Jedah.....................................IKUTI DI VERSI VIDEO


OS: Anda kembali bergabung di dialog Indonesia hari ini “Bagaimana Kesiapan Sektor Pertanian Menyongsong Era Revolusi Industri 4.0” itulah yang kita perbincangkan siang ini...

OS: pak Dedy menarik tadi kita sempat membahas smart agriculture dengan berbagai turunannya. Ada smart irigation dan lain-lain. Lebih jauh tadi juga kita membahas bagaimana anak-anak muda bisa mengambil peran dalam hal ini- Saat ini mungkin beberapa kendala dihadapi terutama dari segi SDM kita, terutama di perdesaan berapa petani yang masih menggunakan pertanian dengan cara konvensional kadang kala sulit menerima sesuatu yang baru. Kendala-kendala yang dihadapi untuk bisa menerapkan teknologi ini, seperti apa ?

DN: ya, jadi setiap perubahan ada distraction, ada semacam gangguan, termasuk Industri 4.0 orang menghawatirkan, dengan masifnya Industri 4.0 nanti angka penggangguran semakin meningkat,

OS menyela: karena banyak robot dan sebagainya.

DN:Tapi sebetulnya, tidak seperti itu. Jadi robot itu di ciptakan bukan untuk menghilangkan manusia (peran manusia). tetapi justru untuk membantu manusia. Kemudian nanti disaat yang sama akan terbentuk situasi yang baru. Sehingga nantinya penggangguran itu bisa ditekan dengan sendirinya. Karena akan terbentuk lapangan kerja baru. Nah, jadi sebetulnya tidak terlalu khawatir kita. Kemudian tadi distraction kedua, petani-petani kita masih banyak yang tradisional, konvensional. Tradisional itu kan tidak terlalu melek dengan teknologi. Mereka juga belum terlalu mengerti tentang ICT. Namun demikian, mereka tetap kita dorong, sehingga meningkat produktivitasnya. Kedepan, siapa pelaku Industri 4.0 ya anak muda milenial. Nah oleh karena itu sekarang kita gembleng itu. Petani milenial itu, dia siap untuk mengimplementasikan industri pertanian 4.0

Jadi Kementerian Pertanian itu, ada program Pokasi dan Magang. Petani-petani Milenial itu di sekolahkan dimagangkan di negara-negara yang sudah maju pertaniannya OS menyela: di Jepang. DN: ya, betul. Di Jepang antara lain, di Taiwan. Mereka itu belajar bukan teknologi budidaya saja, tetapi juga mereka belajar bagai mana teknologi implementasi Industri 4.0 ini. Bahkan nanti diharapkan mereka pulang, mereka bisa mengimplementasikan ilmu yang didapat dari Taiwan dari Jepang, di Indonesia. Disaat yang sama dia juga, justru dia menciptakan teknologi Industri 4.0 yang baru di sektor pertanian.

SO: Secara umum, apa sih yang bisa kita pelajari dari negara-negara yang sektor pertaniannya sudah maju: seperti Jepang itu ?

DN: yang pertama adalah teknologinya. Jadi yang saya ceritakan tadi : Smart Agriculture, Green House Agriculture, Smart Irigation ada juga automatic tractor, otonomos staktor, itu di negara-negara seperti: Jepang taiwan Jerman, itu sudah biasa, sudah lama mungkin sudah masif. Di kita juga sudah mulai di awal abad ke XXI ini. Kemudian selanjutnya, untuk memasuki Industri 4.0, pemanfaatan internet of things (IoT),  pemanfaatan Big Data, pemanfaatan artificial intelligence (AI), dan itu banyak di kita. Contoh Big data untuk data-data lahan, itu di Kementerian Pertanian lengkap di seluruh Indonesia. Artinya, yang namanya pertanian, pasti lahan. Kita tahu dulu lahanya seperti apa?. Kalau kita sudah tahu lahanya seperti apa, managemenya gampang. Informasi itu, ada. Lahanya seperti apa ada, dan harus diapakan, itu adalah teknologi hasil-hasil riset kita.  Itu sudah ada, tinggal kita kemas dengan bantuan internet of things IoT, dengan bantuan AI, muncul 4.0. begitu pak OS.

OS: ya, dengan kondisi geografi kita yang saat ini luas sekali, dari Sabang sampai Serauke: lahan pertanian juga luas sekali, Kementerian Pertanian, punya target kah dalam penerapan ini, mungkin jangka waktunya berapa lama lagi kita akan menyongsong hal tersebut atau seperti apa...?

DN: Saya yakin, di Kabinet berikutnya, jadi mulai akhir tahun ini,saya kira kedepan itu Pemerintah saya yakin akan lebih fokus bagaimana implementasi Industri 4.0 . Apalagi, bapk Presiden. Pak Jokowi sudah men- declare, bahwa kedepan kita akan implementasikan Industri 4.0  di seluruh sektor, termasuk di pertanian.

Jadi salah satu syarat implementasi Industri 4.0 itu adalah pertama dukungan dari pemerintah, dan itu sudah ada. Kemudian juga dukungan dari Dewan, legislatif dan itu juga sudah ada. Dan yang tidak kala penting adalah dukungan dari masyarakat dan seluruh stakeholders. Nah, masyarakat ini, sangat beragam. Tadi, petani saja sudah saya katakan, mulai dari petani tradisional, petani moderen, petani konfensional, sampai dengan petani milenial itu ada. Nah oleh karena itu, kita perlu pilih-pilih harus bergerak. Kementerian Pertanian, mengarahkan Industri 4.0 itu ke petani milenial, kenapa? Karena mereka nanti yang akan melaksanakan Industri 4.0 kedepan.

OS: Dukungan Pemerintah, Dukungan Anggota Dewan masyarakat juga butuh mendukung. Bagaimana dukungan regulasi, artinya, penerapan teknologi ini tentunya butuh payung hukum membuat petani merasa lebih aman menjalaninya, seperti apa pak ?

DN: nah, yang jelas, dukungan Legislasi, sekarang sudah luar biasa. Tentunya nanti outpunya dalam bentuk regulasi itu. Aturan-aturannya, tentunya dengan eksekituf ya, mulai dari Presiden, Meteri, kebawah sampai pemerintah daerah itu juga sangat respek terhadap ini, tentunya salah satunya outpunya adalah regulasi. Mulai regulasi tingkat pusat sampai tingkat perda di bawah.

OS: baik, teknologi yang digunakan tadi dalam pertanian, apakah sudah menyeluruh begitu pak sampai dengan produksi hingga dengan distribusi, outputnya seperti itu pak..?

DN: jadi, untuk Industri 4.0 justru lebih banyak di hilir. Terutama di distribusi. Bagaimana mendistribusikan komoditas pertanian, misalnya beras. Kalau dulu, orang perlu beras, tanya-tanya paling untung lewat telphon kan.  Nah sekarang menggunakan get-get, disitu ada big data, yang menjelaskan bahwa: produksi di kabupaten ini sekian ton. di kabupaten ini sekian ton, bulan anu, mei juni dst....berdasarkan itu, kita bisa setel. Kalau kita perlu beras, misalnya bulan Mei sekian, oh ya dapatnya dari sini...tinggal kontak dan kirim. Denganmenggunakan Industri 4.0 semua akan lebih cepat akan lebih muda dan akan lebih efisien. Jadi Industri 4.0 betul-betul menembus dimensi ruang dan waktu. Yang saat ini dimensi ruang jadi pembatas karena sangat jauh, yang tadi bapak OS bilang Indonesia ini sangat luas dan luas sekali... dan waktu kita saja ada 3 waktu kan. Nah, dengan menggunakan Industri 4.0 getjet dan sebagainya, dimensi ruang dan waktu itu akan bisa di tembus.tidak ada batasan lagi, begitu.

OS: Kesiapan petani, tentu dari Kemtan dekat sekali dengan petani mengenal kondisi riil dilapangan. Apa kira-kira aspirasi disampaikan oleh para petani mengenai keniscayaan tadi Revolusi Industri 4.0 kemajuan teknologi apa yang mereka sampaikan pada kementerian.?

DN: tentunya, mereka sangat berharap agar pemerintah itu dalam hal ini kemtan mensupport terutama terkait dengan infra struktur. Jadi infrastruktur irigasi, jalan, dsb, kenapa, karena dengan infrastruktur akan semakin mudah dan semakin efisien. Jadi ada dua kunci sebetulnya, untuk meningkatkan produktivitas: infrastruktur dan inovasi teknologi, termasuk Industri 4.0 itukan inovasi teknologi. Jadi dua-duanya ini penting terutama dari pemerintah infrastruktur. Dan saya kira, kita semua tahu ya, betapa kita ini ya, bapak Presiden kita ini membangun infra struktur yang luar biasa, termasuk infra struktur pertanian, berapa bendungan yang sudah dibangun, berapa jaringan irigasi primer sekunder yang dibangun, kemudian pintu-pintu ari yang sudah diperbaiki dan sebagainya. Tentu saja itu, mengungkit produktivitas yang luar biasa. Dan itu sekarang sudah berlangsung dan tetap akan berlangsung. Terutama dalam pemeliharaan.

Nah kemudian, juga yang tidak kala penting adalah: teknologi. Tentunya teknologi ini, berbagai lembaga riset di Indonesia, ada dari Badan Litbang Pertanian, dari perguruan tinggi, dari BPPTP, dari Lapan, dasb. Dia nantinya akan menghasilkan produk-produk teknologi 4.0 yang bisa memudahkan mengefisienkan proses produksi. Nah ini tentunya, saja teman-teman stakeholder, dalam hal ini petani sangat mengharapkan informasi itu. Nah, lewat penyuluhan, lewat diseminasi, lewat dem farm, itu semuanya diberikan pada petani sedemikian rupa, sehingga petani itu melihat kemudian dia juga mulai belajar, merasahkan kemudian mengimplementasikan.

Contoh: produk bio-sains itu ada varietas yang berpotensi hasil tinggi misalnya untuk padi Ciherang tetap tinggi, ada sekarang Inpari sampai 42. Inpari-42 itu produktivitas tinggi, di Indramayu, itu bisa mencapai 14 ton per ha, itu kan luar biasa. Padahal rata-rata Indonesia baru 5,2 ton/ ha. dengan varietas itu bisa menghasilkan sampai 14 ton/ha, artinya dua kali lipat lebih. Nah informasi-informasi seperti itu, tentu saja petani sangat memerlukan. Selanjutnya kan tentu perlu logistik, kalau misalnya petani “dimana benihnya” kita harus siap. Nanti tentunya benih-benihnya ditaruh di sentra-sentra produksi dan kita latih petani-petani menjadi penangkar. Artinya apa? Bikin benih sendiri dia. Nanti benih sendiri tentunya untuk keperluan dia sendiri dengan keperluan teman-temannya. Nah misalnya itu, peran pemerintah di situ sangat luar biasa.

OS: di era revolusi 4.0 bagaimana sektor pertanian melihat ini sebagai sebuah harapan, dan dari bapak sendiri bagai mana pesan-pesannya, pada petani-petani kita juga yang sedang menyaksikan

DN: Jadi begini, Industri 4.0 ini, adalah peluang yang sangat besar yang harus kita manfaatkan, kenapa karena Industri 4.0 itu membuat proses produksi itu akan semakin efisien, semakin cepat, semakin murah dan juga dalam sekala yang masif besar. Ini peluang yang besar. Oleh karena itu kita harus manfaatkan ini. Bagaimana cara memanfaatkan ini, terutama belajar. Terutama petani-petani milenial. Dia harus tahu apa itu teknologi Industri 4.0 itu, seperti apa. Jadi dia bisa mengimplementasikannya di saat yang sama, dia juga harus menggali teknologi-teknologi lain agar lebih efisien. Terutama teknologi yang di hilir. Di hilir itu luarbiasa nanti kombinasinya. Bisa ribuan jutaan kombinasi teknologi Industri 4.0 yang bisa diciptakan generasi petani Milenial.

OS: tentu kita harapkan dengan berbagai kemajuan teknologi, bisa membuat Indonesia tidak hanya berswasembada, nantinya menjadi eksportir dari komoditas pertanian.

Terima Kasih : Prof. Dedy Nursyamsi, Staf Ahli Menteri Pertanian Bidang Infra Struktur Pertanian di Kementerian Pertanian . kita harapkan edukasi ini melalui gapoktan-gapoktan yang sudah tersebar di berbagai desa terima kasih kehadirannya.----demikian pemirsa perbincangan kita di Dialog Indonesia Hari Ini (time 14:30) (*Artur)

Sumber: https://youtu.be/YVl9kbZgOdw?t=20

Hilir Deras By: Arnold C. Turang,SP. Humas-PPID BPTP Sulut 22/02/2019

 

 

 

 

BKP Tegaskan: Mantri Tani di Minahasa Selatan Harus Bangun Kerjasama dan Dorong Petani Menanam Pajale

 

Minsel,19 Maret 2019.--- Dalam rangka memenuhi target produksi padi nasional, Kementerian Pertanian dalam hal ini Dirjen Tanaman Pangan melalui Badan Ketahanan Pangan (BKP), selaku koordinator Upaya Khusus (UPSUS) Padi Jagung dan Kedelai (Pajale) di Sulawesi Utara, terus berkoorniasi di daerah terkait Luas Tambah Tanam (LTT).

 BKP, selaku koordinator tim Upsus Pajale Sulawesi Utara pada Selasa 19 Maret 2019 mengadakan rapat koordinasi dan rekonsiliasi data LTT antara mantri tani, petugas data dan pihak Statistik Pertanian (SP), untuk tanaman padi di Kabupaten Minahasa Selatan (Minsel).

Rapat dihadiri oleh kepala Bagian Tanaman Pangan dan Holtikultura Distanak Kabupaten Minahasa Selatan Albrian Rantung, S.Pt., M.Si, Staf Bidang Tanaman Pangan Distanak Provinsi Sulawesi Utara Patris Saroinsong, SP., M.Si, Tim dari Badan Ketahanan Pangan (BKP) Kementerian Pertanian, dan para Mantri Tani di 17 (tujuhbelas) kecamatan di kabupaten Minahasa Selatan.

Rapat diawali dengan sambutan dan arahan dari Kepala Bagian Tanaman Pangan dan Holtikultura kabupaten Minahasa Selatan. Rantung, dalam sambutan menegaskan bahwa: dengan adanya pertemuan ini, maka diharapkan para mantri tani akan terdorong untuk berupaya semaksimal mungkin mendorong dan memotivasi petani untuk menambah luas tanam tanaman padi, jagung dan kedelai.

Lanjut Rantung, LTT berhubungan dengan luas panen. Dan ini jelasnya untuk kemajuan dan penuhi produksi dan konsumsi beras di kabupaten Minahasa Selatan. “Mantri Tani harus berani memanfaatkan potensi desa. Target yang ditetapkan harus direalisasikan dengan baik, tentunya kerjasama kita semua ”.Tidak terealisasinya target tahun lalu, diakibatkan karena anomali iklim, adanya banjir dibeberapa daerah di Kabupaten Minahasa Selatan, imbuh Rantung menutup sambutannya.

Ditempat yang sama, pihak BKP yang diwakili oleh Ir. Mulyana MM, mengapresiasi kehadiran peserta rapat. Lanjut Mulyana: hasil Rapat Pimpinan (Rapim) pusat, untuk Provinsi Sulawesi Utara (Sulut), keseluruhan target bulan maret naik. Dari 14.000 ha awalnya, menjadi 31.000 ha. Untuk itu, diperlukan upaya-upaya khusus, menambah luasan tanam tanaman padi di setiap kabupaten/kota yang ada di provinsi Sulawesi Utara.

Target Rapim untuk Kabupaten Minsel 1.280 ha menjadi 2.899 ha sampai pada bulan Maret 2019. Pihak BKP menambahkan adanya penambahan target tahun ini, dikarenakan target dari bulan Oktober 2018 belum terealisasi semua, sehingga harus diakumulasi dan dikejar dengan target bulan Maret 2019.

Berikut Data Target dan Realisasi Luas Tambah Tanam padi Oktober-Maret (Okmar) 2018/2019, untuk target Oktober 2.800 ha Realisasinya 1.498 ha, target November 1.196 ha realisasi 1.226 ha, target Januari 996 ha realisasi 979 ha, target Februari 1.270 ha realisasi 902 ha, target Maret 1.280 ha Realisasi 429 ha. Target-target yang belum tercapai tersebut diupayakan agar bisa terealisasi semaksimal mungkin.

Oleh karena itu, pertemuan ini diharapkan para Mantri Tani untuk mengambil sikap dengan membangun kerjasama untuk mendorong petani agar menambah luas tanam tanaman padi, entah itu dari padi sawah maupun padi ladang. Segera teman-teman lakukan cek lapangan dan segera laporkan ke petugas SP, sesuai waktu-waktu yang telah disepakati. Jangan saling menunggu, tapi terus berkordinasi dengan Penyuluh Pertanian (PPL) di masing-masing wilayah kerja.

Minahasa Selatan, dilakukan penambahan luas tanam, yang difokuskan pada 6 (enam) desa Potensi untuk ditanami padi, masing-masing: desa Ranoyapo, Maesaan, Tenga, Tatapaan, Tompaso Baru, dan Tumpaan. Untuk Desa penunjang lainnya ditambahkan luas tanam berdasarkan kemampuan dari luas tanam padi sawah dan diperluas lagi pada padi ladang. Mengingat untuk padi sawah harus berdasarkan luas lahan bahan baku sawah. Sedangkan padi ladang bisa disesuaikan dengan kondisi daerah setempat.

Para Mantri Tani di 17 (tujuh belas) kecamatan se Minsel,  merasa berat bila ini hanya parsial dalam penanganan. Apalagi hanya berharap pada PP dan Mantri Tani. Dari beberapa mantri tani yang dapat tertangkap keluhanya, berharap agar pihak dinas juga harus deraskan himbauw petani. Kalau bisa melalui ibu Bupati, saat pertemuan-pertemuan apa saja dengan masyarakat, harus mengingatkan LTT.  

Pada bagian akhir kegiatan Para Mantri Tani kemudian menandatangani Kesepakan penambahan Luas Tanam Padi sebagai Bahan Acuan Rapim BKP pada hari Senin 25 Maret 2019 dan komitmen Para Mantri Tani untuk #Bekerja (Berantas Kemiskinan Rakyat Sejahtera) #PetaniSejahteraRakyatBerjaya (*artur)

Sumber: Angel

Subcategories

Subcategories