JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Info Aktual

Inovasi Hasil-Hasil Penelitian dan Pengembangan Pertanian Mengadopsi Revolusi Industri 4.0

 

Manado 18 Mei 2019---Kepala Badan Litbang Pertanian (Balitbangtan) Dr. Fadjry Djufry,MSi. mewakili Menteri Pertanian RI, menyampaikan pidato ilmiah “Inovasi Hasil-Hasil Penelitian dan Pengembangan Pertanian di Era Revolusi Industri ke Empat (four point zero)”, dalam rangka Dies Natalis ke-59 Fakultas Pertanian, Universitas Sam Ratulangi di Manado, Jumat (17/5).

Dihadapat rapat senat terbuka, Fadjry meguraikan terobosan-terobosan inovasi teknologi yang sudah dan akan dikembangkan lebih jauh untuk membantu manusia dalam meningkatkan pendapatan usahatani. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan), Kementerian Pertanian menyatakan telah siap dalam menghadapi era Revolusi Industri 4.0 yang akan berdampak pada segala bidang, termasuk pertanian.

Fadjry mengatakan bahwa balitbangtan sebagai lembaga riset di bawah Kementerian Pertanian memiliki peran strategis dalam konstelasi pembangunan pertanian nasional. Menurutnya, penelitian dan Pengembangan dalam perspektif ke depan harus berada di garda terdepan untuk menjawab tantangan di masa mendatang melalui riset yang berorientasi output dan outcome, “ Hal ini seperti yang telah digariskan Menteri Pertanian dalam Peta Sasaran Strategis Kementerian Pertanian.” Jelasnya.

Dalam mengambil peran dan memainkan peran pada era industri 4.0 ini tentunya menuntut kesiapan sumberdaya litbang pertanian untuk dapat menghasilkan inovasi pertanian yang sesuai dengan era industri 4.0. “Era revolusi industri 4.0 dicirikan dengan operasionalisasi sistem usaha pertanian berbasis Artificial Intelegence (AI), Internet of Things (IoT), serta Cyber Physical Systems (CPS).” Tambahnya.

Fadjry, dalam pidatonya, juga mengajak seluruh stakeholder Balitbangtan, termasuk dari kalangan akademisi untuk ikut berkontribusi dan mempersiapkan diri memasuki era industri 4.0 ini. “Badan Litbang Pertanian beserta segenap stakeholder, termasuk akademisi di Perguruan Tinggi agar bersama kita berkontribusi dan menggagas pemikiran-pemikiran untuk memformulasikan strategi adaptasi dan  tranformasi hadapi era industri 4.0.” tegasnya.

Dalam merumuskan strategi tersebut perlu mencermati beberapa hal antara lain: dengan memformulasikan perencanaan riset dan pemanfaatan hasilnya dengan memperhatikan teknologi AI, IoT serta CPS. Kemudian ciptan inovasi pertanian yang memanfaatkan teknologi digital dalam sistem usaha pertanian, penciptaan inovasi alat dan mesin pertanian yang dikontrol secara otomatis, serta penciptaan inovasi pertanian yang mendukung implementasi precision farming.

Lanjut Fadjry; beberapa strategi yang telah digagas  Balitbangtan secara operasional sebagian telah diimplementasikan dalam program dan kegiatan utama Balitbangtan. Seperti dalam inovasi KATAM (Kalender Tanam) Terpadu, salah satu inovasi berbasis teknologi informasi yang dapat memberikan pedoman waktu tanam, lokasi, kebutuhan input produksi yang sesuai, serta informasi lain yang dibutuhkan oleh pengguna, khususnya penyuluh dan petani.

Pada sisi lain, Balitbangtan telah mendukung salah satu Nawa Cita Presiden RI dalam membangun dan mengembangkan Taman Sains dan taman Teknologi Pertanian, yang juga dapat diintegrasikan dengan model kawasan pertanian berbasis korporasi petani. “dua model hilirisasi inovasi pertanian ini, telah sebagian besar menerapkan karakteristik pertanian era revolusi industri 4.0.”.

Fadjry juga menyebutkan bahwa, selain menghasilkan inovasi pertanian yang bersifat public domain, Balitbangtan hingga tahun 2018 juga telah berhasil menghasilkan 319 paten terdaftar, dan 148 diantaranya telah dikabulkan (granted) oleh Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual, Kemenkumham. “Diantara lembaga litbang pemerintah, jumlah paten granted yang diperoleh Balitbangtan merupakan yang terbanyak,” jelasnya.

Selain paten, Balitbangtan juga telah menghasilkan lebih dari 500 varietas terdaftar dan 102 diantaranya telah diajukan permohonan untuk dilindungi, dan saat ini telah terbit sertifikat Perlindungan Varietas Tanaman untuk 59 varietas.

Sebelum menutup orasinya, Fadjry apresiasi komitmen Gubernur Sulawesi Utara Sulawesi Utara Olly Dondokambey,SE. yang sangat komit mendukung penelitian terkait dengan tanaman perkebunan di Indonesia dan lebih khusus di Sulawesi Utara. Belia sangat konsen dan mendorong Balai Penelitian Palma (Balitpalma) untuk kembangkan kelapa di Sulawesi Utara guna mendukung Sulawesi Utara sebagai daerah Nyiur Melambai.

Orasi ilmiah di Aula Universitas Sam Ratulangi Manado, yang dihadiri oleh Rektor Unsrat, Gubernur Sulawesi Utara, Kapolda Sulut, Mewakili Kasdan, Korem,Danlantamal, Instansi terkait, Alumni Fakultas Pertanian dari semua angkatan, mahasiswa, BPTP Balitbangtan di Sulut, Balitpalma, berakhir dengan Penanda Tanganan Kerjasama Balitbangtan dan Unsrat Manado dalam kerjasama Penelitian tanaman Kepala, Kopi, Aren, Cengkeh (*Artur).

 

Dinas Ketahanan Pangan Dan Pertanian Kota Bitung Gandeng Bptp Balitbangtan Sulut Laksanakan Pelatihan Petani Dan Pelaku Agribisnis

BPP Madidir, Bitung 7 Mei 2019.--BPTP Balitbangtan Sulut semakin diakui keberadaannya sebagai sumber teknologi pertanian, dan kali ini oleh Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kota Bitung dipercayakan sebagai narasumber pada Kegiatan Pelatihan Petani dan Pelaku Agribisnis Kota Bitung tahun 2019.

Kegiatan yang diikuti oleh 77 peserta yang terdiri dari petani 40 orang dari 8 kecamatan dan 27 orang petugas.  Kegiatan ini bertujuan meningkatkan pengetahuan, ketrampilan dan sikap terutama kemampuan dan kecakapan para petani dan pelaku agribisnis dalam berinovasi, menggali, memanfaatkan dan memperoleh nilai tambah yang lebih dari sumber daya alam pertanian yang mereka miliki.

Pelatihan difokuskan pada komoditas jagung karena sebagai salah satu komoditas yang lagi digalakkan pemerintah melalui program UPSUS Pajale. Selain itu diberikan juga materi tentang komoditas tomat dan pala karena selain merupakan komoditas yang banyak diusahakan petani juga karena Bitung merupakan sentra pengembangan kedua komoditas tersebut.

Tim BPTP Balitbangtan Sulut yang diwakili oleh Kelji Pasca Panen dan Pengolahan Hasil Pertanian yang dikomandani bapak Ir. G. H. Joseph, M.Si dalam kesempatan ini menyampaikan materi dan praktek tentang 

aneka pengolahan buah pala, buah tomat dan pengolahan beras jagung (pengolahan dodol pala,  selai dan saus tomat, dan pengolahan beras instan jagung). Pada kesempatan ini pun peserta pelatihan langsung mempraktekkan bagaimana melakukan uji rasa hasil olahan yang diproduksi saat itu sehingga mereka pun nantinya diharapkan dapat mengevaluasi bahkan berinovasi dalam meningkatkan kualitas produk olahan mereka.

Kegiatan ini dibuka oleh Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kota Bitung, bapak Sony Wenas, S. Sos, MM.  Dalam arahannya disampaikan bahwa luas areal pertanian kota Bitung tidak sebesar daerah lainnya di Sulut dan lebih dikenal sebagai kota industri dan kota Pariwisata. Oleh karena itu maka fokus pembangunan pertanian pemkot Bitung  adalah menggalakan pengembangan pemanfaatan lahan pekarangan, dimana untuk itu kota Bitung telah mendapatkan penghargaan lewat program KRPL. Disampaikan juga bahwa khusus untuk komoditas pala, tanaman pala di kota Bitung memiliki karakteristik yang khas yang berbeda dengan tanaman pala dari daerah lain dan sudah memperoleh sertifikasi sehingga saat ini pun pemkot Bitung memberi perhatian khusus untuk pengembangannya.

Harapan beliau melalui kegiatan ini petani yang hadir sudah bisa memproduksi hasil olahan sendiri seperti dodol pala, serta produk olahan dari jagung dan tomat dalam meramaikan home industry di kota Bitung.(*artur).

Sumber: Kasie KSPP

Penyuluh Pertanian Harus Kuasai Inovasi Teknologi Hadapi Revolusi Industri 4.0

Manado, 25 April 2019. Dalam canda ria sarat makna, terlontar pendapat “nakal”: “Lima sampai sepuluh tahun kedepan, Penyuluh Pertanian (PP) tidak lagi diperlukan di lapangan”. Satu pendapat yang pernah dilontarkan penulis ketika diberikan kesempatan pada satu diskusi penyusunan programa penyuluhan pertanin tingkat provinsi di BPTP Balitbangtan Sulawesi Utara, medio Desember 2018. forum ini dihadiri oleh para senior penyuluh pertanian, se Sulawesi Utara dan stakeholders terkait penyusunan Program Kerja Penyuluhan 2019.

Beragam tanggapan dalam “perspektifnya”, dapat dipotret dari ekspresi gesture peserta. Ada yang terlontar spontan atraktif “ya, brenti jo ta’re jadi penyuluh kalo bagitu (dialek Manado) yang artinya: berhenti saja jadi penyuluh, bila demikian”. Ada juga mencibir, sedikit emosional tanpa introspeksi “Asbun (Asal Bunyi) saja”. Ada juga sedikit emosional rasional “bisa saja kedepan akan demikian”. Itulah sedikit potret, dinamika para pelaku antara yaitu Penyuluh Pertanian(PP) ketika menerima sesuatu. Apa lagi menyandang senior dijamannya dan terus “mempertahankan” eranya, tanpa “update” masanya hadapi kekinian. 

Pendapat penulis, ketika melontarkan ide “nakal” tersebut, berangkat dari fenomena global dan zaman kekinian dan isyarat pengertian sesungguhnya penyuluh dan penyuluhan, sesuai aturannya (Permentan No.35/Permentan/OT.140/7/2009, dan regulasi lain terkait PP) serta pengalaman penulis merekam pendapat pelaku utama di lapangan. Demikian gema-gema lain terkait globalisasi melanda dunia, dengan upaya-upaya para inovatornya. Mereka gencar mencari dan mencari solusi inovasi untuk ketentraman mahluk penghuni bumi, agar dinamis efisien efektif berkelanjutan, merawat bumi kediaman bersama sebagai ciptaan Tuhan.

“Locomotif” globalisasi dengan revolusi industri ke-empat (Four Point Zero) saat ini, yang sedang bergelinding melintasi dunia, termasuk negeri yang kita pijak menjadi fokus perhatian. Fenomena ini bergema global dan menyita perhatian serta menuntut energy untuk bersanding bersamanya (gema revolusi ke-empat), agar kita tidak tertinggal dari locomotif perkembangan zaman.

Revolusi Industri 4.0, mulai bergema, sejak ada Hannover Fair tahun 2011. Saat itu, Jerman telah mendeklarasikannya. Sejak itu, perkembangan Industri keempat, sangat cepat dan pesat, termasuk di Indonesia. Saat ini pergerakan teknologi informasi begitu cepat. Menurut google consumer barometer (2017), dari basis yang rendah saja 29 persen pada tahun 2013, saat dilaporkan orang yang mengakses internet di Indonesia telah tumbuh siqnifikan menjadi 56 persen pada tahun 2017.

Jadi Indonesia saat ini, telah berada di tenah-tengah percepatan digital yang belum pernah terjadi sebelumnya. Orang-orang di Asia tenggara ini, “Raksasa” yang sedang log-on ke internet. Dan orang Indonesia yang terbesar tumbuh paling cepat diantara mereka.

Industri 4.0 (four point zero) adalah nama tren otomatis dari sebuah proyek dalam strategi teknologi canggih pemerintah di Jerman, yang mengutamakan komputerisasi pabrik. Melalui internet untuk segalanya, internet of things (IoT), sistim siber-fisik saling berkomunikasi dan bekerjasama satu sama lain dalam kontrol manusia secara bersama. Melalui komputasi awan (cloud) dan komputasi kognitif, hasilkan pabrik cerdas. Di dalam pabrik cerdas berstruktur monuler, sistem siber-fisik, mengawasi proses fisik. Ciptakan salinan dunia fisik secara virtual dan membuat keputusan terpusat dan akurat.

Kementerian Pertanian (Kemtan), melalui Balitbangtan telah mengurai konsep ini untuk diaplikasi hulu dan hilir. Konsep ideal pertanian pedesaan yang mulai dikembangkan Kemtan yaitu; precision farming and connectivity, pertanian pinter yang terkoneksi dengan perangkat pinter sensorik, mudah dikontrol dan efisien.

Sebagai contoh saat ini Kemtan dengan Smart Agriculture, didalamnya smart green house basis android atau rumah pertanian pinter, untuk hasilkan produk pertanian sehat sudah dimulai. Teknologi ini dirancang Balitbangtan, untuk melakukan kontrol dan pengawasan rumah pertanaman dengan remote sensorik dimanapun kita berada. Semua kebutuhan tanaman akan nutrisi, air dan teamprature terkontrol melalui sensor yang telah terkoneksi dan hanya dikelolah 2 orang saja.

Demikian dengan teknologi robotik untuk oprasional smart tractor. Teknologi mekanisasi yang teraplikasi basis android yang dapat di operasikan dari rumah. Kegiatan usahatani mulai dari pengolahan tanah, pengendalian hama dan panen, dengan menggunakan remote control. Demikian juga untuk pemanfaatan lahan. Bagaimana memanfaatkan citra satelit, untuk mendeteksi apa yang terkandung di dalam tanah. Output dari teknologi ini adalah rekomendasi. Apakah perlu pupuk urea, kalau perlu berapa?. Apakah perlu pupuk TSP, kalau perlu berapa. Apakah perlu pupuk KCl, kalau perlu berapa. Nah, itu dengan menggunakan deteksi, citra satelit.

Teknologi ke empat ini, yang dimulai Kemtan terintegrasi perangkat lunak, perangkat keras dan sumber daya manusianya, untuk hasilkan pertanian presisi di era industri ke empat. Tentunya dalam hal ini Kemtan membangun kerjasama internal, eksternal dengan institusi lain seperti perguruan tinggi, Lapan, BPPT, bahkan dengan negara yang sudah lebih dahulu, untuk pertukaran ilmu pengetahuan.

Industri 4.0 adalah peluang yang sangat besar yang harus dimanfaatkan. Teknologi era industri ke empat ini, membuat proses produksi akan semakin efisien, cepat, murah dan juga dalam skala masif besar. Untuk memanfaatkannya, tentunya dengan belajar dan belajar. Baik itu agen penderasnya, yaitu pelaku antara dan pelaku utamanya milenial dan old generatioan. Informasi-informasi ini tentunya butuh agen pedisseminasi, yaitu Penyuluh Pertanian.

Memang setiap perubahan, tentunya ada distraction  semacam gangguan. Termasuk Industri 4.0 orang menghawatirkan. Karena dengan masifnya industri 4.0 dikhawatirkan nanti angka penggangguran semakin meningkat. Termasuk yang di khawatirkan penyuluh seperti potret diawal tulisan ini. Tapi sebetulnya, tidak seperti itu. Jadi robot itu di ciptakan bukan untuk menghilangkan manusia (peran manusia). tetapi justru untuk membantu manusia dalam pekerjaan yang beresiko bagi manusia.

Demikian, disaat yang sama akan terbentuk situasi yang baru. Sehingga penggangguran itu bisa ditekan dengan sendirinya. Karena akan terbentuk lapangan kerja baru. Kemudian distraction kedua, petani-petani kita masih banyak yang tradisional, konvensional. Pelaku utama (Petani) dan Pelaku Antara (PP) “Tradisional” itu kan tidak terlalu melek dengan teknologi. Mereka juga belum terlalu mengerti tentang Information Communication Technology (ICT).

Kementerian Pertanian dengan program pemberdayaannya, terus mendorong, yang tradisional melek, sehingga meningkat produktivitasnya. Kedepan, pelaku Industri 4.0 ya anak muda milenial baik pelaku utama dan antara. Saat ini Kemtan dengan programnya menggembleng pelaku utama dan antara yang “mindset tradisional” untuk move on bersama generasi milenial. Mereka disiapkan untuk mengimplementasikan industri pertanian ke empat.

Persandingan generasi milenial dan old generasi, dalam satu komunikasi hadapi revolusi industri ke empat, diharapkan akan menjadi satu kekuatan bangsa dalam mengelola sumberdayanya yang kaya, untuk kesejahteraan anak bangsa. Persandingan generasi ini, akan terus berinovasi menggali kembangkan teknologi lain yang diinovasikan, agar lebih efisien. Terutama kedepanya revolusi industri ke empat lebih banyak diinovasikan hilirnya dan bisa ribuan kombinasi teknologi industri ke empat yang dapat dimodivikasi petani-petani milenial.

Tentunya kita harapkan, dengan berbagai kemajuan teknologi, bisa membuat Indonesia tidak hanya berswasembada. Nantinya Indonesia menjadi negara eksportir dari komoditas pertanian berkualitas. (*art)

Sumber: Harian Komentar Selasa, 23-25 April 2019 Edisi I, II,III

Perkembangan Kelompok Tani Penangkar Benih Krisan Di Kota Tomohon

Tomohon 12 April 2019---Bunga krisan mempunyai prospek yang sangat baik di Kota Tomohon, terutama mendukung event nasional maupun internasional bunga di Kota Tomohon sudah menjadi agenda rutin tahunan.  Kota Tomohon sudah mencanangkan sebagai “Kota Bunga” dan menggelar berbagai event atau acara diantaranya TIFF  yang dilakukan setiap tahun.

Balitbangtan melalui Balithi dan BPTP Sulawesi Utara bekerja sama dengan Kelompok Tani Penangkar Benih Krisan “Matuari” telah mengembangkan varietas Jayani, Asmarini, Cayapati, Irana, Yulita, Dahayu, Awlani, Sintanur, Harianti, Arasuko, dan Cintia.

Sebagai tindak lanjut kegiatan pembinaan Kelompok Tani Penangkar Benih Krisan yang dilaksanakan pada tanggal 10 Desember 2018 di Show Window Dinas Pertanian Kota Tomohon, menurut Ketua Kelompok Tani Matuari Bapak Indra Salam bahwa Kelompok Tani Matuari telah memproduksi dan menyalurkan benih krisan hingga saat ini sudah mencapai 40.000 stek. Namun benih yang disalurkan belum memenuhi kebutuhan semua petani krisan, apalagi untuk memenuhi kebutuhan dalam rangka kegiatan TIFF bulan Agustus 2019 mendatang.

Keberadaan penangkar benih krisan di Kota Tomohon sangat penting, dimana ketersediaan benih krisan di Kota Tomohon petani dapat memperoleh benih krisan yang segar sehingga tingkat mortalitas benih rendah dibandingkan dengan benih yang didatangkan dari luar daerah. Disamping itu kelebihan dari ketersediaan benih di Kota Tomohon, petani dapat mengatur jumlah pesanan benih dan diambil secara bertahap sesuai kesiapan lahan dan tenaga kerja yang tersedia. Masih menurut Ketua Kelompok Matuari, jika dilihat dari harga benih krisan yang dibeli dari kelompok penangkar di Kota Tomohon yaitu Rp 400/stek lebih murah dibandingkan dengan benih dari luar daerah dengan harga Rp 475/stek.

Selain kelompok tani Matuari terdapat 3 kelompok tani lain yang dikukuhkan sebagai kelompok tani penangkar benih krisan yaitu Kelompok Tani Kerklely, Suka Maju dan Ranoantangkor. Namun ketiga kelompok tani tersebut masih dalam proses pemeliharaan mother plant, dimana menurut Kabid Hortikultura Dinas Pertanian Kota Tomohon masing-masing kelompok mendapatkan benih krisan sebagai mother plant dari Balithi sebanyak 5.000 stek. Dengan adanya beberapa kelompok penangkar benih krisan diharapkan dapat menunjang ketersediaan benih yang dibutuhkan petani terutama menjelang kegiatan TIFF.(*HumasPPID)

Sumber: Laporan Kunjungan Petani oleh Louise A. Matindas dan Sudarti.

BPTP Balitbangtan Sulawesi Utara Hilirderaskan Teknologi Silase untuk Sapi Potong di Bolmut

Manado, 10 April 2019--- Bank Indonesia Perwakilan Manado bekerjasama dengan Dinas Pertanian Bolmut dalam Program Penguatan Kluster Integrasi Padi-Sapi, untuk meningkatkan SDM penyuluh dan petani. Kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) diikuti 60 petani dalam kluster integrasi padi sapi. Peserta tersebar pada 3 kecamatan di Bolaang Mongondow Utara masing-masing: Kecamatan Sangkup, Bintauna dan Kaidipang.

Pada kegiatan ini Bank Indonesia hadirkan narasumber dari BPTP Balitbangtan dengan materi Teknologi Silase. Materi ini, dibawakan oleh pakar nutrisi pakan ternak, yaitu Ir.Paulus C. Paat, MP. Beliau adalah ahli peneliti utama peternakan dari Balitbangtan dan sudah membina kelompok-kelompok peternak yang ada di Sulawesi Utara, sampai masuk istana Presiden. Selanjutnya materi Manajemen Pemeliharaan Sapi Potong, oleh Prof. Dr.Ir. Femmy H Elly, MP., dari Fakultas Peternakan Unsrat Manado.

Kegiatan dibagi dalam 3 sesi, yaitu sesi pemaparan, praktek dan kunjungan lapangan. Pada sesi pemaparan, Paat narasaumber BPTP Sulut menegaskan bahwa: teknologi silase adalah teknologi pengawetan hijauan pakan dalam bentuk tetap segar dan dapat bertahan lama sampai lebih setahun pada kondisi an-aerob.

Teknologi ini, berbasis fermentasi bakteri an-aerob. Bakteri ini mampu mempertahankan mutu pakan  sebagaimana level mutu saat panen. Sebagai contoh bahwa puncak nilai nutrisi tertinggi rumput gajah adalah umur 45 hari setelah panen sebelumnya. Dengan teknologi silase maka level mutu tersebut dapat dipertahankan terus sehingga ternak sapi, akan memperoleh pakan silase rumput gajah pada level mutu yang stabil tinggi dan tetap segar di dalam silo.

Lanjut pakar penulis buku Limbah Pertanian Padi dan Jagung Untuk Pakan dan Nutrisi Ternak Sapi, teknologi silase bermanfaat untuk menampung kelebihan produksi hijauan makanan ternak atau memanfaatkan hijauan pada saat pertumbuhan dan mutu terbaik, tetapi belum dipergunakan. Teknologi silase juga menjadi solusi masalah jumlah pakan yang sangat melimpah pada waktu musim panen atau musim hujan dan sebaliknya dalam jumlah yang sangat kurang pada musim tanam atau kering.

Dijelaskan pula bahwa; walaupun teknologi silase termasuk inovasi yang sudah sangat lama ditemukan akan tetapi masih tetap relevan diterapkan secara praktis dan mudah, baik peternakan skala kecil maupun skala industry, tutup Paat.

Kegiatan ini dilaksanakan di BPP Bintauna Bolaang Mongondow Utara (Bolmut) (05/04), yang dibuka secara resmi oleh Kadis Pertanian Bolmut, diwakili oleh Sekretaris  Pertanian M. Eko Praktikno,SP. Dan Tim kerja dari Bank Indonesia cabang Manado (*Artur)

Subcategories

Subcategories