JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Info Aktual

Perubahan Iklim Melanda Negeri Pertanian Sulawesi Utara Masih Ada Panen Dan Tanam Lagi

 

Kalasey, 16 September 2019.--- Perubahan adalah suatu ke Niscayaan yang tidak dapat dielakkan selain diikuti dinamikanya. Perubahan adalah hal mutlak yang terjadi secara alamiah, dan terus terjadi dalam segala bidang, baik sosail budaya politik dan trend lainnya termasuk dalam dunia pertanian yang menggantungkan sepenuhnya dalam iklim.

Sabagai manusia ciptaan sang khalik, kita terus mensyukuri anugerahNya, apapun itu termasuk perubahan-perubahan itu. Mengutip orang terkenal BillGates “Perubahan harus dimanfaatkan untuk diterima dari pada menunggu perubahan memanfaatkan kita. jadi, perubahan harus dimanfaatkan dengan kecerdasan, selaku mahluk termulia ciptaan sang Khalik.

Cengkraman iklim panas adalah fenomena alami terjadi, yang tidak lepas juga dari kontribusi ciptaan termulia dalam memanfaatkan dan menata kelola perubahan. Atas ketidak seimbangan positif antara kebutuhan dan keinginan, sampai fenomena la nino terjadi. Hal ini harus disikapi dengan meneladani kemampuan Yusuf membaca peluang dalam menghadapi perubahan iklim yang menyebabkan kekeringan yang luar biasa, di masanya.

Yusuf bin Yakub adalah putra pertama Yakub dari istrinya Rahel. Dia tahu ada masa kelimpahan selama tujuh tahun dan dia tahu juga, setelah masa itu akan datang masa kelaparan. Seorang tokoh Managemen Kepemimpinan di masanya, yang harus diteladani kemampuan membaca peluang dan mengelola Futuralnya. Kemampuannya membaca peluang, membuat dirinya bisa melewati krisis pangan selama tujuh tahun di Mesir. Dan menyelamatkan banyak orang termasuk Keluarganya.

Ketidak seimbangan alam, melanda negeri dan belahan bumi Selatan yang lebih dahulu mengalami kekeringan mulai gagal panen (Puso) dan cadangan air mulai terbatas, sehingga harus membeli air. Masih kecil ujiannya banding pengalaman Yusuf, namun harus dimaknai. Dan syukur pada Tuhan karena dalam prediksi di Sulawesi Utara dan daerah khatulistiwa, masih ada titik-titik potesi air yang dapat diberdayakan. Ini menjadi perhatian dan disikapi belajar dari Yusuf.

Sulawesi Utara dalam faktanya masih melakukan panen dan terus panen sambil menanam. Ini terlihat dari postingan media social yang diliput oleh para penyuluh pertanian di lapangan dan menghias media social seperi: group whats Apps, Face Book, Instagram, Twiter dan lainnya. Gambar on time via open kamera dengan kegiatan panen dan menanam (di daerah tertentu) menghias gropu media social.

Dr.Andriko Notosusanto. SP.MP., dalam satu kesempatan dalam Rapat Koordinasi Upsus Pajale di Sulawesi Utara, menjelaskan bahwa fenomena panas sesuai prediksi Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG), masi sampai akhir Oktober. Dan beliau selaku Koordinator Upaya Khusus (UPSUS) Padi Jagung dan Kedelai (Pajale) di Sulawesi Utara, mendorong para petugas pertanian lapangan (PPL) untuk memotivasi pelaku utama (petani), sambal berkomunikasi terpadu dengan semua pelaku pertanian di daerah untuk gerakan menanam dan memanen.

Tegas Kepala Pusat Ketahanan dan Kerawanan Pangan Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian: daerah-daerah yang masih ada tanaman dan jauh dengan air, agar segera dibantu fasilitas pompa air dan biaya bensin. Ini dilakukan agar tidak terjadi puso pada areal sudah menanam tapi kekurangan air, dan dekat dengan sumber air, tapi sulit hadirkan air di tanaman. Dengan demikian kita diharapkan dapat mensubtitusi daerah-daerah yang sudah mengalami puso saat ini.

Kadis Pertanian Ir. Novly Wowiling,MSi., menjelaskan dalam satu kesempatan : pihaknya sudah melakukan identivikasi titik-titik rawan kekeringan dan sudah menyalurkan bantuan pompa air dan fasilitas lain untuk kendalikan kekeringan. Beliau juga terus menggandeng para pelaku pertanian untuk bergerak untuk memanfaatkan perubahan, termasuk dengan Balitbangtan BPTP Sulawesi Utara.

Beberapa waktu yang lalu, tim Upsus Pajale Sulawesi Utara, melaksanakan panen dengan mesin pertanian di daerah sentra padi Sulawesi Utara. Dalam kesempatan tersebut Kapus Ketahanan dan Kerawanan Pangan bersama kepala Balitbangtan BPTP Sulut Dr.Ir.Yusuf,MP. dan Dr. Tria Trimartini Patria,SP. MP. Kepala Bidang Informasi dan Jaringan Laboratorium di Direktorat Jenderal TP.melakukan uji dan merasakan nikmatnya petani panen padi di Bolmong.

Hasil lapangan kegiatan pertanian di Sulawesi Utara, terus dimonitor dan ditelusuri Wowiling, mengantisipasi kondisi anomaly iklim. Beberapa waktu lalu, beliau melakukan panen padi di Dumoga. Lahan sawah ratusan hektar dengan bantuan alat panen, diratakan dan diambil hasilnya. Tidak hanya disitu, belaiu dan tim Pertanian Sulawesi Utara melakukan penanaman padi di daerah yang masih berair dengan luas 125 ha.

Menyikapi daerah yang mulai kekurangan air, petani diarahkan untuk melakukan penanaman tanaman horti seperti Tomat, Mentimun Cabe dan lainnya. Sri Kasman PPL di Dumoga Utara menjelaskan ada beberapa tempat masing-masing 1 ha yang ditanam. Selain tanaman, juga ada tanaman tinggal dirawat dan difasilitasi airnya.

Sementara di kepulauan Talaud tepatnya pada Poktan Makataraya ,Kelurahan Makatara Timur Kec.Beo Utara Kab.Talaud, melakukan panen Bawang Merah. Menurut PPL Monica Gumansalangi, SP. bahwa karena petani ingin sekali tanam Bawang Merah, maka beliau membelikan varietas local (Lansuna) di Pasar Bersehati. Demikian dengan daerah-daerah lain di Sulawesi Utara, masih sibuk dengan panen bawang, cabe, tomat, jagung, padi dan terus menanam dalam kondisi cengkraman panas.

Yusuf, dari Balitbangtan BPTP Sulawesi Utara (bukan Yusuf dari Mesir), mengungkapkan bahwa. Sebagai institusi sumber inovasi teknologi di daerah, beliau terus menggerakkan para peneliti dan penyuluh, untuk menghilirkan inovasi teknologi sambal mengidentivikasi fenomena iklim lapangan.

Lanjut Yusuf, bahwa saat ini pihaknya sedang melakukan perbanyakan benih Inpari-31 di kabupaten Minahasa dalam luasan 2 ha. dan siap panen Desember. Ini diharapkan untuk penuhi ketersediaan benih padi periode 2020. Dan diperkirakan padi dihasilkan 7 ton untuk disebarkan ke petani di Sulawesi Utara.

Menurut Dr.Ir.Yusuf,MP. Sulawesi Utara, saat ini memang lagi melakukan panen untuk tanaman pangan dan sebagaian Hortikultura. Baru-baru ini beliau juga menghadiri panen bawang merah varietas Lansuna dan Brebes di Minahasa Utara. Kata beliau saat memberikan sambutan: agar kondisi panas saat ini, kita harus cermat menangkap perubahan iklim dan memanfaatkanya. Karena bila kita tidak menangkap dan memanfaatkanya perubahan akan memanfaatkan kita.

Lanjut Yusuf, Balitbangtan BPTP Sulawesi Utara, dalam menangkap dan memanfaatkan perubahan iklim, dengan mendorong  jawab kegiatan  litkaji, untuk antisipasi dengan sistim pengairan. Lakukan koordinasi didaerah dengan teman-teman pelaku pertanian, serta lakukan pelaporan terus fenomena terjadi dilapangan.

Untuk kegiatan di kantor, kata Yusuf, telah menugaskan penanggung jawab Obor Pangan Lestari (Opal) mendukung program Taman Agro Inovasi (Tagrimart) untuk lebih optimal manfaatkan sumberdaya di lingkungan kantor dengan melakukan penanaman keragaman tanaman pangan, horti, ikan dan ternak. Rencanakan dengan memanduani Juknis Opal, serta lakukan panen dan pasarkan hasil pada pegawai di kantor.

Dalam kondisi iklim panas, seperti dialami daerah-daerah lain di Indonesia, Sulawesi Utara masih terus melakukan panen dan menanam di daerah-daerah sentra. Dan diharapkan walau cuaca kurang bersahabat dengan keterpaduan pelaku pertanian terus berkomunikasi dan doa kita bersama, semoga kita dilewatkan dari kondisi ekstrim ini. (*artur)

 

 

Takdir Mulyadi: Jadikan Jagung Hibrida Balitbangtan Sebagai Raja di Negerinya Sendiri.

Minahasa-Remboken, 12 September 2019.--- Keberhasilan usahatani Jagung petani, sangat ditentukan oleh benih yang ditanam. Produktivitas Jagung tidak maksimal dan pendapatan juga kurang maksimal. Sementara hasil-hasil penelitian terkait benih yang baik dan berkualitas oleh para peneliti di Kementerian Pertanian sudah banyak tersedia.

Mencermati fenomena ini, Kementerian Pertanian melalui Direktorat Jenderal Tanaman Pangan melaksanakan Pengembangan Perbenihan Tanaman Pangan Berbasis Koorporasi. Program ini lebih focus pada penyediaan benih unggul bersertivikasi dan mudah diakses petani.

Sulawesi Utara salah satu daerah yang menjadi perhatian dan dipercayakan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan untuk melaksanakan perbanyakan benih Jagung Hiberida. Program ini diperkenalkan pada petani di Sulawesi Utara, oleh Direktur Perbenihan Tanaman Pangan Takdir Mulyadi dan tim kerjanya di Kabupaten Minahasa, tepatnya di kecamatan Remboken kabupaten Minahasa.

Menurut Takdir, inovasi teknologi Produksi Balitbangtan Kementerian Pertanian, harus kita dukung. Kita terpadu mengawal dalam pengembangannya agar “dia” Jagung Hibrida hasil anak bangsa, menjadi “Raja” di negerinya sendiri.

Pengawalan terpadu; menurut Takdir, adalah semua unsur terkait. Mulai dari institusi penelitinya. Tentunya yang menghasilkan tetuanya yaitu Balit Serealia, teknologi budidayanya, pendampingan bagi petani oleh penyuluh serta Dinas Pertanian melalui Balai Pengawasan dan Sertivikasi Benih (BPSB).

Peran besar dari Dinas Pertanian untuk hilirkan, yaitu pengembangannya dalam skalah luas, tentunya sangat penting. Dengan demikian keterpaduan ini akan memperkuat dan memantapkan kedudukan Jagung Hibrida hasil anak bangsa ini, menjadi “Raja” di negerinya sendiri, tutur Takdir.

Ditempat yang sama, Peneliti penghasil tetua dari Jagung Hibrida Nasa-29, yang adalah Kepala Balai Penelitian Serealia Dr. Muhamad Azrail, SP.MP., memberikan apresiasi kepada Dirjen Tanaman Pangan, khususnya Direktur Perbenihan dan team, yang mempercayakan Sulawesi Utara, untuk pengembangan Jagung Hibrida Nasa 29.

Dengan hadirnya kegiatan ini, petani di Sulawesi Utara akan ada petani penghasil dan produsen benih unggul Jagung Hiberida. Prospek pasarnya sangat baik. Selain sulawesi Utara luas wilayahnya, juga dapat mem suplay benih Jagung ke Gorontalo,Palu, Maluku sampai Papua.

Lanjut Azrail, di Sulawesi Utara akan kita jadikan salah satu sentra pengembangan benh jagung hibrida untuk mensuplay kawasan Timur Indonesia, selai Sulawesi Selatan. Pada tahap awal ini, Sulawesi Utara akan dikembangkan 100 ha. dan Demplotnya 5 ha di Minahasa Utara.

Terkait dengan pengawalan inovasi teknologinya, sudah siap keterpaduan Balitbangtan BPTP Sulawesi Utara, Dinas Pertanian dan Peternakan dan Direkur Perbenihan.

Sementara Dr.Ir. Yusuf, MP. Kepala Balitbangtan BPTP Sulawesi Utara, menjelaskan bahwa: sebagai sumber inovasi teknologi spesifik lokasi di daerah, beliau sudah melakukan adaptasi varietas yang akan dikembangkan dan sudah dikemas dalam paket inovasi teknologi siap diimplemetasikan.

Lanjut Yusuf, tahun 2018 dan 2019, pihaknya Balitbangtan BPTP Sulawesi Utara sudah melakukan demplot produksi Jagung Nasa 29 di dua tempat di Sulawesi Utara,masing-masing di Minahasa Utara bersama petani penangkar, dan di Minahas bersama para Penyuluh Pertanian.

Hasil kegiatan ini mendapat sambutan dari pelaku utama (petani) dan pelaku antara (penyuluh pertanian) serta pelaku usaha. Bahkan pihaknya sudah melakukan kerjasama untuk diperoduksi bersama pihak swasta seperti perusahaan tambang emas, bersama petani binaannya.

Tidak ada yang mustahil, bila kita bangun komunikasi dan komitmen serta keterpaduan bersama.  “bila kita belum bisa hasilkan yang besar, mari kita hasilkan yang kecil dulu, dengan cara yang besar” Niscaya Jagung Hibrida Nasa-29, akan jadi Raja di negerinya sendiri, tutup Yusuf.

Kegiatan sosialisasi yang dihadiri oleh pihak Dinas Pertanian dan Peternakan Sulawesi Utara, didalamnya BPSB, Dinas Pertanian Kabupaten Minahasa, Penyuluh Pertanian di Tondano Raya, Remboken Kakas dan Kawangkoan, Balitbangtan BPTP Sulawesi Utara, Kelompoktani Suka Maju dan Penagkar Benih. (*artur)

Musim Boleh Panas Syukur Minahasa Utara Panen Bawang Merah Lansuna dan Brebes

Minahasa Utara, 11 September 2019.---Musim panas mulai membakar tetanaman se antero negeri, namun demikian Minahasa Utara bersyukur karena masih melaksanakan panen Bawang Merah Varietas Lansuna dan Brebes. Dalam cengkraman panas, kerja keras kelompok tani Pamuli Jaya di bawah pimpinan ketua kelompok Jootje Pangkey, dan Kepala BPP Wori Jefri Kolibu, membuahkan hasil.

Menurut Jantje Pangkey, memang ini harus di syukuri, karena saudara-saudara kita di tempat lain tidak dapat melakukan panen (Puso), sementara kami masih ada panen. Jadi apa yang kami kelompok upayakan didampingi Balitbangtan BPTP Sulawesi Utara dapat dinikmati, tuturya di lokasi pelaksanaan panen.

Kepala Balitbangtan BPTP Sulawesi Utara Dr.Ir. Yusuf, MP. apresiasi upaya kelompok tani yang dapat bekerjasama melaksanakan demplot Teknologi Budidaya dan Pasca Panen Bawang Merah, walau di petak petani produksi masih kurang maksimal banding di petak contoh. Namun ini luar biasa karena dalam cengkraman iklim seperti ini, kita dapat melakukan panen.

Yusuf, begitu apresiasi karena satu bukti kongkrit bahwa kehadiran Balitbangtan BPTP Sulawesi Utara menjadi solusi bagi petani, bertalian dengan Inovasi Teknologi. Lanjut Yusuf, kehadiran Balitbangtan BPTP Se Indonesia (Selindo) adalah upaya Kementerian Pertanian untuk lebih mendekatkan teknologi hasil Penelitian Pengkajian ke pengguna Inovasi teknologi, termasuk di Sulawesi Utara.

Awalnya,memang BPTP masih terbatas pada beberapa provinsi. Artinya ada beberapa provinsi yang masih digabungkan, itu diperkirakan pada tahun 1995 ahir. Dan kita berbangga, karena saat ini BPTP sudah ada di 34 provinsi termasuk di Sulawesi Utara, yang dulunya gabung dengan BPTP Biromaru-Palu Sulawesi Tengah.

Masih menurut Yusuf, di dunia barang kali hanya kita di Indonesia yang ada BPTP, sebagai sarana percepatan adopsi Inovasi Teknologi. Kehadiran BPTP, adalah percepatan hilirisasi inovasi teknologi ke pengguna (user). Sebagai upaya untuk menghadapi lambatnya inovasi hasil para peneliti dan pengkaji, itu bermuara di tingkat pengguna. BPTP sebagai “Jembatan penghubung” antara pengguna dan Inovasi Teknologi itu sendiri.

Peran ganda Balitbangtan BPTP, disamping dia melakukan penelitian dan pengkajian juga melakukan diseminasi inovasi teknologi itu ke pengguna. Yang menarik adalah mandate dari Balitbangtan BPTP itu sendiri, yaitu: menyiapkan. Karena yang menyiapkan inovasi teknologi bukan hanya Balitbangtan satu-satunya, juga ada perguruan tingi dan lembaga swasta lainnya.

Balitbangtan sebagai induk dari BPTP, ada Balai-Balit Penelitian (Balit) komoditas dan Pusat Penelitian (Puslit) yang melakukan riset inovasi teknologi. Dan dilakukan BPTP adalah melakukan adaptasi spesifik lokalita, hasil-hasil penelitian Balit,Puslit dan Universitas serta Swasta lainnya. Kongkritnya Bawang Brebes ini, harus dilakukan uji adaptasi dulu, baru dihilirkan.

Sesuai deskripsinya Bawang Brebes untuk di daerahnya, produktivitasnya sampai 10 ton per hekto are (ha). Dan hasil kita lihat disini hanya mencapai 4,5 ton. Bisa jadi penerapan teknologinya masih kurang maksimal di tingkat petani. Ditambah lagi karena barangkali petani kurang ulet dalam tata cara budidayanya. Karena cara mencapai produktivitasnya, memiliki persyaratannya. Untuk capai angka potensinya, tentunya harus ikuti persyaratan produksinya, tutur Yusuf.

Sulawesi Utara, menurut Yusuf, harus bangga. Karena kita memiliki Bawang Lokal yang telah menjadi milik Nasional, yaitu Bawang Merah Lansuna. Ini unggul local yang sudah milik Nasional, sejak tahun 2016. Varietas ini memiliki keunggulan hasil tinggi dan besar siungnya. Dalam deskripsinya Bawang lansuna di dataran tinggi 9-14 ton di tingkat petani, dan di dataran rendah di Minahasa Utara mencapai 12 ton, demikian dataran menegah di kota Tomohon 17, 5 ton di tingkat demplot Penyuluh.

Mengahiri sambutan Yusuf mengajak agar terus dan terus lakukan pengembangan Bawang Merah. Dan jangan malu melakukan konsultasi, terus buka komunikasi. Balitbangtan BPTP Sulawesi Utara sudah saya tegaskan pada para pengkaji, untuk membuka diri 24 jam layanan Litkaji. Peneliti melakukan Kajian dan Penyuluh menderashilirkan Inovasi Teknologi ke pengguna.

Di tempat yang sama, Kadis Pertanian Minut yang diwakili oleh Kepala Bidang Hortikultua Joice Tamboto,SP., mengapresiasi Balitbangtan BPTP Sulawesi Utara, yang menempatkan Demplot Bawang merah di Minahasa Utara. Memang di Minahasa Utara untuk tahun 2019 mendapatka bantua pusat 20 ha., tahun 2018 kita hanya mendapatkan 10 ha. untuk bawang Merah.

Lanjut Tamboto, Minahasa Utara berusaha untuk mengembangkan bawang merah, karena daerah kami termasuk cocok untuk pengembangan bawang merah seperti rekomendasi tim dari IPB yang pernah melakukan survei di Minahasa Utara. Karena bawang merah sudah banyak dikembangkan juga di beberapa tempat di Minahasa Utara, seperi di Kema.

Joice memang mengakui, bahwa produktivitas masih kurang optimal dilakukan petani. Namun beliau optimis, dengan adanya Balitbangtan BPTP Sulawesi Utara, sebagai sumber teknologi dan selalu terbuka dengan kami, maka kedepan pasti akan lebih baik.

Sementara penanggung jawab kegiatan kawasan pertanian basis koorporasi Dr.Ir. Jefni B. Markus Rawung, MSi., menjelaskan bahwa: kegiatan ini dilaksanakan di daerah Minahasa Utara, karena daerah ini terpilih untuk pengembangan kawasan basis koorporasi. Kegiatan diarahkan di daerah ini,untuk mendukung kegiatan strategis Kementerian Pertanian.

Kegiatan budidaya bawang merah dilaksanakan di kecamatan Wori, sesuai arahan Dinas Pertanian, dan untuk memberikan contoh bagi petani dan stakeholder  yang mengembangkan bawang merah. Mengutip penjelasan Dinas Pertanian,bahwa Minahasa Utara ada alokasi kegiatan bawang merah. Untuk itu, kita dukung inovasi teknologinya. Seperti yang diperkenalkan saat ini ada 2 varietas masing-masing Vareitas Brebes dan Varietas Lansuna.

Rawung berharap, agar inovasi teknologi yang dihilirkan oleh Balitbangtan BPTP Sulawesi Utara, agar diikuti sesuai dengan petunjuknya. Dengan mengikutinya pasti hasil yang diharapkan niscaya akan digapai, tutup Rawung.

Kegiatan yang dilanjutkan dengan Bimbingan Teknis yang di pandu oleh Olvi Tandi, SP. MSi., diikuti oleh sekitar 70 orang terdiri dari: petani anggota poktan Pamuli Jaya, petani sekitar, Penyuluh Pertanian Lapangan di Wilayah Wori serta dihadiri oleh para peneliti dan penyuluh di Balitbangtan BPTP Sulawesi Utara.(*artur)

Sumber: Arnold C. Turang/ Penyuluh Pertanian Ahli Pertama

Rakor Upsus Sulut di Bolmong: Secara Nasional Kementan Bersama TNI Bangun Gerakan Upaya Penanggulangan Kekeringan

Bolmong, 6 September 2019.---Secara marathon Penanggung jawab Upaya Kusus (Upsus) Padi Jagung dan Kedelai (Pajale) di Sulawesi Utara, yang juga Kepala Pusat Ketersediaan dan Kerawanan Pangan Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian Dr.Ir. Andriko Notosusanto, SP. MP. setelah melaksanakan Rakor Upsus tingkat provinsi (5/9), hari ini di wilayah Bolmong.

“Secara Nasional Kementerian Pertanian dan semua terkait dengan pertanian termasuk Tentara Nasional Indonesia (TNI), bangun gerakan bersama upaya penanggulangan kekeringan, yang mulai melanda Nusantara”, tutur Notosusanto saat pertemuan di Wilayah Kerja Balai Penyuluhan Pertanian (WKBPP) Bolaang Timur.

Dalam pemaparan beliau didampingi oleh kadis Pertanian dan Peternakan Sulut Ir. Novly Wowiling, MSi. dan kepala-kepala bidangnya, kepala Balitbangtan BPTP Sulawesi Utara serta Dr.Tri Martini Patria, SP.MP. Kepala Bidang Informasi dan Jaringan Laboratorium di Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian.

Lanjut Notosusanto, tujuan dari gerakan bersama yaitu: yang sudah tertanam atau standing crop diamankan dari ancaman kekeringan. Artinya aman sampai panen hasilnya. Selanjutnya yang terdampak, artinya sudah ditanam ada kemungkinan kurang air, diupayakan jangan sampai gagal atau tidak panen (puso). Dengan kata lain, hidup dengan bantuan fasilitas pendukung yang telah diberikan, hingga dapat panen.

Upaya mengantisipasi kekeringan mengutip hasil Rakor tingkat provinsi (Klik ini) dimana hasil identifikasi lapang titik-titik kekeringan dan daerah-daerah yang masih ada air, sudah ditindak lanjuti dengan penyaluran fasilitas pendukung oleh Dinas Pertanian dan Peternakan provinsi, itu diberdayakan agar tidak sampai gagal panen (puso).Untuk itu terus melakukan koordinasi terpadu, dan saling memberikan informasi terkait setiap kejadian di lapangan.

Titik-titik yang tidak terjangkau dan ada potensi sumber air dangkal, kedalaman kurang dari 50 meter dapat dipercepat usulkan. Dan yang mendesak dipercepat adalah daerah potensi ada sumber air ada tapi tidak terjangkau karena jauh dan harus di alirkan. Atau sudah ditanam berpotensi kekeringan tapi dekat sumber air, kita arahkan pompanya ke sana dan kita fasilitasi oprasionalnya.

Saat ini penting bagi kita yang ada di wilayah khatulistiwa, bangkitkan jiwa nasionalis kita. Bersama kita dorong petani untuk tingkatkan Luas Tambah Tanam (LTT). Kita di daerah masih ada air, untuk dapat mengkompensasi di wilayah yang saat ini sudah kering dan puso.

Mantan Kapus SDM Pertanian, mengapresiasi kinerja para pelaku antara (penyuluh pertanian) sebagai ujung tombak pembangunan pertanian dan mengajak agar terus mendorong petani melakukan penanaman, agar LTT dan panen dapat diwujudkan. Untuk itu LTT terus dilaporkan. Jangan sampai LTT Pajale tidak dilaporkan, karena itu adalah rapot pembangunan pertanian.

Pertahankan surplus Bolmong, pesan Notosusanto, tetap berjuang, #KerjaKerjaKerja #terusberinovasi sambal menjaga kesehatan tutup beliau mengahiri pemaparannya.

Ditempat yang sama Dr. Ir. Yusuf,MP. kepala Balitbangtan BPTP Sulawesi Utara menjelaskan. Sebagai sumber inovasi teknologi di daerah, pihaknya terus melakukan pendampingan teknologi dan konsultasi via Whats Apps terkait inovasi teknologi dan permasalahan lapangan.

Masih menurut Yusuf, pihaknya saat ini membuat demplot dan kegiatan Peningkatan Indeks Pertanaman (IP) di wilayah Bolmong. Dikandung masksud, agar petani dapat melihat dan menerapkan inovasi teknologi pertanian yang diterapkan dalam kegiatan peningkatan IP.

Gerak marathon Kapus Ketahanan dan Kerawanan Pangan, dilanjutkan dengan peninjauan lapangan dan melihat dari dekat kegiatan panen di Desa Tapandaka kecamatan Dumoga Tenggara. Pada luas panen 1878 ha dari luasan 2066,5 ha varietas padi Serayu yang adaptif spesifik lokasi di daerah Bolmong. Di lokasi panen, Notosusanto dan tim, mencoba menggunakan combine harvester, bantuan pemerintah dengan kemampuan panen 2-3 jam per hekto are (ha). (*Artur)

Rakor Upsus Sulut: Mantapkan Komunikasi Tim Kerja Upsus Sulut Hadapi Dampak Kekeringan Panjang

Manado, 5 September 2019.---Menghadapi dampak kekeringan panjang, diprediksi BMKG sampai Oktober, daerah-daerah yang ketersediaan air masih lancar terus didorong untuk segera melaksanakan penanaman dan melakukan tindakan antisipasi proaktif terintegrasi, ungkap Ir.Novly Wowiling,MSi., kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Sulut saat membuka Rakor Upsus Pajale Sulawesi Utara.

Lanjut Novly, dari laporan yang sudah kami terima di kabupaten kota, rata-rata sudah dilanda kekeringan. Tingkat kekeringan dari Ringan 283,15 ha., Sedang 44 ha., Berat 22 ha., Pusso 65,5 ha total yang terlaporkan ada 414,65 ha.

Langkah antisipatif yang sudah dilakukan dengan menyalurkan pompa air sesuai dengan peruntukan dan ada 96 unit pompa air, terbagi masing-masing: Bolaang Mongondow 14 unit, Bolmong Utara 20 Unit, Bolmong Timur 7 unit, Bolsel 6 unit, Minahasa 10 unit, Minsel 10 unit, Minahasa Tenggara 14 unit, Minahasa Utara 11 , Kota Tmohon 3 unit dan Kota Bitung 1 unit.

Sementara untuk daerah beririgasi perpompaan sudah dibagunkan di Bolanng Mongondow di kecamatan Passi Timur 1 unit, Minahasa di desa Lombariri 1 unit, Minahasa Selatan ada 3 unit dan Minahasa Utara 2 unit. Demikian dengan irigasi konstruksi Embung/ Dam Parit, terbagi di Bolmong 3 unit, Bolmong Timur 2 unit, Bolsel 1 unit, Minahasa 1 unit, Minsel 2 unit, Minahasa Tenggara 2 unit dan kepulauan Sangihe 1 unit.

Masih menurut Novly, Pemerintah juga memberikan bantuan bangunan konstruksi irigasi perpipaan di Bolmong 1 unit, Bolsel 2 unit,Minsel 1 unit dan kepulauan Talaud. Demikian dengan bantuan konstruksi jaringan irigasi tersier di Bolmong untuk luasan 300 ha, Bolmut 200 ha, Boltim 200 ha, Minahasa 400 ha, Minut 200 ha, Minahasa Selatan 600 ha, Minahasa Tenggara 600 ha, Kepulauan Talaud 100 ha dan Kepulauan Sangihe 100 ha.,

Harap Wowiling, agar fasilitas yang telah diberikan dan sudah diterima, agar dimanfaatkan sesuai peruntukan serta lakukan perawatan. Semoga ini dapat membantu dalam kegiatan produksi, terutaman dalam menghadapi anomaly iklim yang di prediksi masih sampai Oktober.

Selaku Kadis Pertanian Sulut, saya apresiasi dan terima kasih atas atensi semua untuk UPSUS Sulawesi Utara. Keterpaduan kita untuk capai LTT Upsus dan Panen sesuai dengan target yang telah ditetpkan sudah memberikan hasil, walau kita harus berjuang mantapkan komitmen kita menghadapi cengkraman cuaca. Dengan rasa tanggung jawab, tentunya kita terus mendorong teman-teman di Dinas Pertanian Provinsi, untuk layani dan tanggulangi permasalahan lapangan terkait kekeringan yang melanda tanaman pertanian, dengan membangun komunikasi bersama, tutup Wowiling.

Di tempat yang sama, Dr.Andriko Notosusanto, MP. dalam pemaparan evaluasi LTT Upsus di Sulawesi Utara, beliau menjelaskan bahwa patut disyukuri di Sulawesi Utara walau saat ini iklim sudah kering, namun kita masih ada air. Untuk itu kita harus amankan produksi padi dan tanaman pangan lainnya, dari cengkraman iklim kering yang mulai panjang.

Mengutip pemaparan Kadis Pertanian Sulut, yang telah menyalurkan fasilitas pendukung ketika kekeringan, maka Notosusanto mengajak pelaku utama bersama semua yang terkait dengan Upsus Pajale di Sulawesi Utara termasuk TNI, kita berdayakan fasilitas ini untuk keamanan proses produksi pangan yang sudah diupayakan pelaku utama, termasuk kita yang didalamnya.

Lanjut Kepala Pusat Ketersediaan dan Kerawanan pangan Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian; untuk pengamanan produksi padi dan tanaman pangan lainnya, kita cermati prakiraan musim, monitoring deret hari kering sampai kapan dan melakukan upaya pengamanan apa yang sudah dikerjakan pelaku utama, agar tidak terdampak dengan anomali.

Untuk daerah yang sumber airnya masih cukup, percepat tindak lanjuti hasil CPCL, bantuan benih, optimalkan bantuan alsin sehingga proses tanam cepat dan yang penting, bangun komunikasi semua unsur terlibat di lapangan: pelaku utama, antara, usaha, masyarakat TNI, Pekerjaan Umum, Kelompok Tani dan semua terkait. Tidak ada pekerjaan yang berat, bila kita kerjakan dengan tulus dan ihlas untuk bangsa dan negara kita.

Jangan dilupakan, selain mengoptimalkan kegiatan di lapangan, tidak kalah penting kita mendorong pelaku utama dan kita semua menjadi “Pioneer” dalam ketahanan pangan. Menghadapi anomaly iklim, kita jangan melupakan bangun “lumbung pangan mini kita”, yaitu pekarangan di rumah kita. Kita ajak dan teladankan pada pelaku utama, memindahkan sedikit komoditas pangan di ladang, ke lumbung pangan mini kita, yaitu pekarangan.

Anomali iklim lanino, faktanya untuk usahatani lapangan relative terbatas. Dan itu kita ajak pindahkan ke pekarangan, yang mudah kita control dan atasi masalahnya. Hanya 3-5 menit kita berikan waktu untuk menyiram dan berdialog dengan tanaman pekarangan yang akan menjadi sumber kebutuhan keluarga. Selanjutnya, kita kembali ketugas utama kita, atau pelaku utama bisa istirahat atau kerjakan sampingan lain di rumah, tutup beliau.

Sementara Kepala Balitbangtan BPTP Sulawesi Utara Dr. Ir. Yusuf, MP. saat dimintai keterangan terkait dengan inovasi teknologi dan dukungan BPTP Sulawesi Utara, beliau menjelaskan bahwa: Pihaknya saat ini terus melakukan pemantauan dan layanan terkait Inovasi Teknologi mendukung Upsus Pajale di Sulawesi Utara.

Lanjut Yusuf, yang juga ketua Paguyuban BPTP Selindo, konkritnya saat ini BPTP Sulawesi Utara walau dalam kondisi panas, teman-teman LO di masing-masing daerah menggerakkan petani untuk memanfaatkan daerah yang masih ada air. Seperti hari ini di kabupaten Minahasa LO sedang mendampingi penanaman Padi varietas Inpari 31 kelas SS, untuk ketersediaan  benih tahun 2020, pada luasan 2 ha. Tutup Yusuf.

Ikuti juga: LO saat mendampingi...

Materi yang di paparkan dalam rapat koordinasi, juga diisi dengan beberapa materi dari TNI, Asuransi Pertanian, Penanganan Kekeringan, Penguatan Data Strategis, Verifikasi Lahan Basis Android. Peserta diikuti petugas terkait Upsus Pajale, LO Balitbangtan BPTP Sulawesi Utara Kadis Bolsel dan petugas data, Kadis Bolmong, serta media cetak dan on line local. (*Artur).

Subcategories

Subcategories