JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Komponen Teknologi Padi Sawah Spesifik Lokasi di Kota Tomohon

KOMPONEN TEKNOLOGI PTT PADI SAWAH SPESIFIK DI KOTA TOMOHON
oleh: Arnold C. Turang, Bahtiar, Ben Kumontoi, Louis A. Matindas, Max Runtu, Rudi Sela

Komponen utama teknologi dari model Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) Padi Sawah
adalah :
  1. Varietas unggul baru yang saat ini tersedia dan sudah diintroduksi di Sulut adalah inpari-1 sampai 13 dengan menerapkan prinsip Spesifik lokasi.
  2. Benih bermutu
  3. Penggunaan pupuk kompos sebagai sumber pupuk organik (dosis 2 t/ha)
  4. Pemupukan sesuai dengan kondisi hara tanah (dilakukan analisis tanah dengan alat puts (perangkat uji tanah sawah)
  5. Pengaturan populasi tanaman yang optimal (menerapkan sistem tanaman legowo 2 ; i; 3 ; i dan 4 : 1)
  6. Umur bibit mudah (kurang 20 hari)
  7. Jumlah bibit per lobang tanam 1-2 bibit
  8. Pengendalian hama dengan konsep PHT.
  9. Panen tepat waktu.
BUDIDAYA PADI SAWAH DENGAN PENDEKATAN MODEL PTT
Pengolahan Tanah
  • Pengolahan tanah sebaiknya dilakukan 3 kali , agar betul-betul sempurna yaitu; 1 kali bajak dan 2 kali garu (pelumpuran).
  • Pengolahan tanah ini dapat dengan bajak sapi atau dengan traktor.
  • Pengolahan tanah pertama (pembajakan), sebaiknya dilakukan sebelum padi disemaian atau segerah setelah pesemaian. Setelah tanah dibajak sawah direndam selama ± 3 atau 4 hari kemudian dikeringkan lagi selama ± seminggu dengan tujuan untuk merangsang biji gulma atau biji padi yang jatuh pada waktu panen untuk tumbuh, agar setelah pindah tanam nanti tidak ada biji padi yang tumbuh dan mengganggu varietas baru yang kita tanam.
  • Pengolahan tanah ke 2 (pelumpuran I), segerah dilakukan setelah biji-bijian gulma / padi tadi tumbuh.
  • Selanjutnya sawah direndam lagi seperti yang pertama, setelah itu dikeringkan lagi untuk merangsang biji gulma terutama biji padi yang mungkin belum sempat tumbuh pada tahapan pertama.
  • Empat hari sebelum menanam, aplikasi racun rumput pra tumbuh
Perlakuan Benih

Sebelum disemai benih perlu diberi perlakuan agar supaya bibit yang diperoleh dari benih itu adalah bibit yang berkualitas. Perlakuan benih yang dimaksud adalah,
  • Benih direndam dalam air garam (30 gr garam/ltr air), maksudnya adalah agar benih yang hampa / kurang baik akan mengapung dan dibuang, sehingga benih yang nantinya kita rendam dan akhirnya disemai adalah benih yang betul-betul bernas yang jika tumbuh menjadi bibit sangat berkualitas.
  • Benih yang mengapung yang kurang baik itu dibuang, jika kita semai juga akan tumbuh, namun biasanya pertumbuhannya kurang baik atau tidak normal, misalnya bibit tidak mengeluarkan anakan sama sekali.
Pencabutan Bibit
  • Bibit padi dicabut sehari sebelum penanaman atau berbarengan tanam tergantung dari ketersedian tenaga kerja. Jika tenaga kerja cukup, dapat diatur sedemikian rupa sehingga orang yang melakukan penanaman tidak sampai kehabisan bibit sehingga tenaga kerja khususnya yang menanam menjadi tidak efektif. Perbandingan jumlah tenaga yang menanam dengan yang mencabut bibit adalah 5 : 2 yaitu 5 orang yang menanam dan 2 orang yang mencabut bibit., atau tergantung juga dari ketrampilan tenaga kerja yang menanam. • Untuk menghindari kerusakan bibit ( bibit putus ), sebaiknya bibit dicabut satu persatu, jangan seperti kebiasan para petani , terutama jika diborongkan, biasanya bibit dipegang banyak -banyak kemudian dicabut sehingga persentase bibit putus sangat tinggi yang secara otomatis mengurangi jumlah bibit. Hal ini, juga sangat mempengaruhi cara menanam para tenaga yang menanam, misalnya menanam bibit dalam jumlah yang banyak karena menutupi bibit yang tidak berakar.
Penanaman
  • Sementara bibit dicabut, keringkan petakan sawah agar saat penanaman sawah dalam keadaan macak-macak.
  • Gunakan sistem tanam jajar legowo misalnya jajar legowo 2:1 , 3 : 1 atau maksimal 4 : 1. Tujuan dari penanaman jajar legowo ini adalah untuk memanipulasi jarak tanam, sehingga seolah –olah semua tanaman padi yang ditanam menjadi tanaman pinggir, karena biasanya tanaman pinggir itu tumbuh lebih baik dibanding tanaman tengah.
  • Untuk memudahkan penanaman dan agar tanaman teratur buatlah garis tanam dengan menggunakan alat bantu pembuat garis tanam berupa caplak.
  • Jarak tanam yang digunakan adalah 40 x20 x10 cm, dimana 40 cm adalah jarak antar baris legowo, 20 cm antar baris tanaman dan 10 cm jarak tanaman dalam baris.
Pemupukan
  • Dosis pupuk disarankan mengacu dari hasil analisis tanah dengan menggunaan perangkat uji tanah sawah (PUTS). Saat ini pupuk dasar yang umum digunakan petani adalah pupuk phonska.
  • Pupuk phoskasebaiknya diberikan 2 kali yaitu pada pemupukan dasar dan sebagian lagi pada pemupukan susulan I ditambah satu bagian urea.
  • Tambahan pupuk urea berdasarkan pengamatan bagan warna daun (BWG).
  • Penggunaan urea yang berlebihan akan berdampak buruk terhadap pertumbuhan tanaman (menjadi rentan terhadap serangan hama/penyakit).
  • Pupuk dasar : diberikan paling lambat 1 minggu setelah tanam yaitu setengah dosis phonska tanpa tambahan urea.
  • Pupuk ke 2 atau pupuk susulan I, diberikan setelah tanaman berumur 25 atau 30 hari setelah tanam atau 3 minggu dari pemupukan dasar, dengan dosis 1/3 bagian urea ditambah sisa pupuk phonska.
  • Pupuk 3 atau pupuk susulan II diberikan pada saat fase primordia yaitu sisa dosis urea atau tergantung dari hasil pengamatan warna daun (BWD), apakah diberikan, ditambah atau tidak diberikan