JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение
 

Teknologi Budidaya Padi di Kabupaten Minahasa

DUKUNGAN LITBANG PERTANIAN UNTUK PRODUKSI PADI DI
KABUPATEN MINAHASA

Inventor: Arnold Turang, Ben Kumontoi, Jeaneke Wowiling, Bahtiar.

Ikuti Juga Video SL-PTT D Minahasa :

http://youtu.be/emeeWonYcac

http://youtu.be/EHNLTlcjbcA

Dukungan Badan Litbang Pertanian mensukseskan Program P2BN, adalah ketersediaan inovasi teknologi pertanian spesifik lokasi sesuai dengan daerah.

Setelah melakukan beberapa kajian di Kabupaten Minahasa, tim pengkaji mengajurkan untuk budidaya padi sawah, perlu mengacu pada teknologi budidaya yang telah di kaji di Kabupaten Minahasa. Anjuran dalam teknologi produksi ini telah diadaptasikan dengan Kalender Tanam (KATAM) hasil Inovasi Badan Litbang Pertanian.

Bila mengikuti anjuran dalam teknologi ini, produksi dapat dirai petani. Teknologi anjuran itu berupa:

No

URAIAN

REKOMENDASI

1.

Persiapanlahan

- Bajak tanah sempurna

- Genangi petakan sawah sambil menunggu bibit siap tanam

- Keluarkan airnya kemudian semprot dengan herbisida pengendali biji sejenis Logran degan dosis 20-25 gr/ha, genangi lagi setinggi 1-3 cm

- 3-5 hari kemudian  air dibuang , Lahan siap ditanami

2.

Penggunaan VUB

-Varietas Inpari  , 10 ,19,20 cigeulis, ciherang, ciliwung

-Untuk lokasi yang endemik tungro dianjurkan varietas Inpari 7,8,9

3.

Pesemaian

Benih ditabur agak jarang (40-50 gr/m²), agar tumbuh sehat dan batang lebih besar,  luas pesemaian 400-500 m² untuk luasan tanam 1 ha, satu minggu kemudian dipupuk dengan N-P-K Phonska dengan dosis 20 gr/m²

 

 

Waktu tanam

Kecamatan

Waktu Tanam

MT I/MH

MT II/MK I

MT III/MK II

Eris

Des. II-III

April II – III

-

Kakas

Des. II-III

April II – III

-

Kakas Barat

Des. II-III

April II – III

-

Kawangkoan

Des. II-III

April II – III

-

Kawangkoan Barat

Des. II-III

April II – III

-

Kawangkoan Utara

Des. II-III

April II - III

-

Kombi

Jan. I -II

Mei I - II

-

Langowan Barat

Des. II-III

April II - III

-

Langowan selatan

Des. II-III

April II-III

-

Langowan Timur

Des. II-III

April II-III

-

Langowan Utara

Des. II-III

April II-III

-

Lembean Timur

Des. II-III

April II-III

-

Mandolang

Des. II-III

April II-III

-

Pineleng

Des. II-III

April II-III

Remboken

Des. II-III

April II-III

 

4.

Cara Tanam

Legowo 2:1 atau 4:1, 1-2  batang per rumpun, umur bibit 15 -21 hari

5.

DosisPemupukan

-Kompos 2 ton/ ha diberikan bersamaan dengan pengolahan tanah terakhir.

-Pemupukan anorganik mengacu dari  perangkat uji tanah sawah (PUTS).

Apabila tidak ada PUTS maka dosis pupuk dapat mengacu dari dosis pupuk berikut ini:

-    Jika sistem tanam tanam jajar legowo 2:1 NPK Phonska 300 kg/ha  diberikan 2 kali,  ½ dosis diberikan sebagai pupuk dasar yaitu pada umur satu atau paling lambat sepuluh hari setelah tanam  dan sisanya diberikan sebagai pupuk susulan pertama ditambah 25 % Urea  ( 50kg), pada umur satu bulan atau satu minggu sejak pemupukan dasar. Tambahan  Urea 75-100 kg/ha  pada pupuk susulan dua atau pemupukan ketiga dilakukan  jika hasil pengamatan dengan bagan warna daun  (BWG) mengindikasikan kurang Nitrogen.

-   Jika sistem tanam jajar legowo 4:1 maka dosis pupuk phonska  350 kg,  tambahan urea dan cara pemberian pupuk  kurang lebih sama dengan diatas.

 

6.

PengendalianGulma

Kendalikan gulma sedini mungkin sebelum terjadi persaingan dengan tanaman padi. Kendalikan ketika gulma masih tahap perkecambahan,  Jangan menunggu besar. Padukan pengendalian gulma dengan herbisida pengendali gulma berdaun lebar dan sempit.  Jika sebelum tanam biji gulma sudah dikendalikan dengan herbisida pengendali biji, maka pada umur sekitar 15-17 hari setelah tanam perlu disemprot dengan herbisida pengendali gulma berdaun lebar dan sempit.

7.

Pengendalian Hama/Penyakit

Utamakan pengendalian lingkungan dengan sanitasi. PenggunaanPestisida adalah alternative terakhir.

-    Untuk mengendalikan Keong Mas : Secara mekanis dengan mengumpulkan keong, cara kimia  dengan moluscasida seperti; Saponin, Snail Down, Debestan atau yang sejenis dengan dosis sesuai label.

-    Untuk Ulat Grayak; genangi petakan sawah untuk mengendalikan ulat yang bersembunyi  dipangkal batang padi.  Cara kimia gunakan racun kontak dan perut, disarankan untuk menyemprot pada sore menjelang malam hari.

-   Untuk mengendalikantikus: Bersihkan pematang, bongkar lobang-lobang yang menjadi sarang tikus, lakukaan secara bersama-sama, jika memungkinkan pagar petakan sawah dengan plastik, buat lobang pada plastik untuk tempat masuk tikus dan pasang perangkap menghadap keluar. Cara kimia;  gunakan umpan  racun tikus secara serentak minimal pada satu hamparan.

-   Untuk mengendalikan penggerek batang; pasang perangkap lampu mulai jam 6 sore, cara kimia gunakan pestisida bersifat sistemik baik hambur ataupun semprot.

-    Untuk mengendalikan walang sangit: Pasang perangkap( buat dari botol bekas air mineral ), masukkan  umpan yang berbau busuk seperti terasi atau keong mati yang sudah membusuk kedalam botol. Cara kimia; semprotlah dengan pestisida yang dapat membunuh dan mencegah napsu makan walang sangit seperti Decis dengan dosis sesuai label.

-    Untuk mengendalikan wereng; gunakan varietas tahan tungro, seperti: Inpari 7,8,9 atau Tukad balian, Tukad Unda dan Tukad Petanu atau Bondoyudo.  Pasang perangkap lampu seperti mengendalikan penggerek batang. Cara kimia semprot dengan pestisida yang bersifat sistemik, kontak dan perut.

8.

Panen dan Pascapanen

-     padi sudah dapat dipanen setelah kuning  sekitar 80 %, untuk menghindari rusaknya gabah dalam tumpukan sabaiknya panen dilakukan secara bertahap terutama pada waktu hujan. Panen sebaiknya dilakukan secara berkelompok  ( 8-10 Orang) agar cepat selesai.  Padi yang sudah dipanen dikumpulkan pada satu tempat yang sudah disiapkan sebelumnya, sebaiknya langsung dilakukan perontokan agar kualitas gabah tidak menurun.

-    Padi yang sudah dirontok agar langsung dijemur, jika tidak tersedia lantai jemur dapat menggunakan terpal sebagai alas.  Keringkan gabah hingga mencapai kadar air 12-14 %, kemas dalam karung, simpan ditempat yang terbebas dari serangan hama tikus, apabila belum langsung di giling.