JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Petani Sulut Belum Sejahtera Penyuluh Harus Lebih Kencang di Lapangan Mendampingi Petani

Oleh: Arnold C. Turang,SP.

Kalasey,06/04/2017---Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) adalah ujung tombak pembangunan pertania. Keberhasilan petani, tidak lepas dari peran serta PPL dalam menderashilirkan teknologi inovasi. Entah melalui tatap muka langsung dan melalui media seperti: Media Cetak, Media Elektronik serta gabungan media basis Internet.

Kerja keras para PPL, yang bekerjasama dengan TNI di lapangan, adalah fokus pada peningkatan pendapatan pelaku utama. Sebagai contoh kongkrit kegiatan UPSUS (Upaya Khusus) padi jagung dan kedelai ditambah saat ini Siwab (Sapi Induk Wajib Bunting). Kesemuanya agar pelaku utama serta masyarakat secara umum sejahtera. Masyarakat sejahtera, kesenjangan sosial tereliminer, petani sibuk dan fokus kerja di kebun kerawanan sosial hilang.

Namun demikian idikator pengukur dengan muatan data dan informasi yang terpercaya seperti pemberitaan salah satu media lokal di daerah, sebagai berikut: Nilai Tukar Petani (NTP) di Sulawesi Utara (Sulut) pada Mare 2017 hanya 91,65 atau turun 0,89 persen dibandingkan bulan sebelumnya masih 92,47.

Penurunan indeks harga yang diterma petani sebesar 0,34 persen dan kenaikan indeks yang dibayar petani sebesar 0,65 persen menjadi penyebab turunnya NTP. Dan secara year on year (tahun ke tahun mengalami penurunan 4,27 persen.

Dikatakan Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sulut, Moh Edy Mahmud, sejak Agustus 2013 hingga saat ini, NTP Sulut masih berada dibawah 100, pada periode ini menunjukkan daya beli maupun kesejahteraan petani belum membaik.

“NTP adalah salah satu indikator untuk melihat tingkat kesejahteraan petani, dengan mengukur kemampuan tukar produk yang dihasilkan / dijual petani dan dibandingkan dengan produk yang dibutuhkan petani. Baik untuk proses produksi maupun untuk konsumsi rumah tangga petani. Jadi semakin tinggi NTP,maka kemampuan daya beli atau daya tukar relatif lebih baik dan tingkat kehidupan petani juga lebih baik,”

Selanjutnya kata, kata Mahmud, Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Petani (NTUP) juga mengalami penurunan 0,57 persen dari 103,32 pada bulan Pebruari menjadi 102,73 di bulan Maret 2017.

Untuk diketahui, di wilayah pedesaan Sulawesi Utara, mengalami inflasi 0,67 persen. Inflasi terjadi di semua kelompok pengeluaran rumah tangga, kecuali kelompok transportasi dan komunikasi yang mengalami deflasi. Inflasi tertinggi pada konsumsi bahan makanan 1,27 persen sedangkan kelompok transportasi dan komunikasi mengalami deflasi 0,12 persen (Harian Komentar Kamis, 6 April 2017).

Mencermati informasi tersebut, maka sebagai ASN Pertanian dan Penyuluh Pertanian, harus lebih kencang lagi menderaskan pada pelaku utama di pedesaan untuk lebih fokus pada pengembangan pertanian sesuai dengan teknologi anjuran, serta memberdayakan pekarangan dengan keragaman kebutuhan keluarga, untuk menekan belanja rumah tangga untuk kebutuhan keluarga.

Derasnya bantuan, saat ini seperti pada kegiatan Upsus, baik Padi Jagung dan Kedelai dan Sapi, harus menjadi titik ungkit keberhasilan dan harus didampingi dengan jelas dan tepat sasaran agar benar bantuan menjadi bermanfaat bagi masyarakat, terutama pertanian.

Ini informasi dan korensi kinerja sebagai PPL dan mitra pendamping lapangan, agar kita lebih kencang lagi melakukan penderashiliran dan pertajam informasi data di lapangan, serta berkordinasi dengan BPS terkait ketepatan sumber data, agar kedepan kesejahteraan juga termasuk kesejahteraan data dan informasi yang tepat.

Selain itu, penting untuk menderaskan pada pelaku utama untuk mengembagkan kelembagaan keuagan kelompok serta berbelanja sesuai kebutuhan, bukan keinginan.(art)