JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение
 

Tanam Serentak...?

Kalasey,---Dua istilah banyak diperdebatkan ada yang ingin istilah serentak dan ada juga yang ingin istilah serempak. Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi kedua yang diterbitkan Departemen Pendidikan dan kebudayaan (Balai Pustaka, 1999) menunjukkan bahwa  serempak (synchronously)  adalah kata benda diberi arti bersama-sama  atau serentak, berhubungan dengan saat yang sama dan tiba-tiba.  Serempak dikaitkan dengan serangan serempak, datang serempak, maju serempak.

Serentak (simultaneously) adalah kata benda yang berarti bersama-sama  tentang gerakan atau waktu dan serentak diartikan juga serempak, seketika itu juga dilaksanakan secara spontan, misal mereka serentak meninggalkan pekerjaannya atau hadirin serentak menjawab tanda setuju.  Di lain pihak  serentak (congregation) adalah kata benda yang diberi arti bersama-sama, misal solat serentak.  

Dua kata serempak dan serentak adalah reversible dapat diartikan bolak-balik sama kata serentak lebih condong kepada gerakannya dalam ruang dan waktu, sedangkan istilah serempak mirip dengan istilah serentak. Namun demikian serentak mempunyai nilai yang lebih dari dua istilah terdahulu, yaitu tersirat ikatan jamaah antar stake holder yang didalamnya mengandung keserempakan dan gerakan serentak. Oleh karena itu istilah serentak untuk tanam bersama-sama.

Memaknai kedua istilah diatas, dalam hubungan dengan kegiatan usaha pertanian, bahwa: ini dikandung maksud untuk menghasilkan satu kegiatan yang bersama, sehingga dapat menghasilkan satu keluaran dimana dengan bersama, dari menanam sampai panen akan menekan serangan hama dan penyakit yang berpotensi mengganggu tanaman.

Pengalaman dalam pendampingan penyuluhan di tanah Minahasa, dalam pengalaman sejarahnya, istilah serempak menanam atau (ma'wali-wali tu manen), itu diatur dalam adat budaya. Sehingga para petani tidak sembarangan merencanakan untuk menanan. Itu diatur melalui tetua adat, dan dibuat dalam waktu khusus. Sehingga pada waktu itu, terhindar dari kegagalan panen.  

Tanam padi serentak sudah dilaksanakan sejak Prima Tani tahun 2007 dan tanam padi serentak terstruktur sebagai terobosan baru pengendalian hama dan penyakit yang dimulai setelah (KLB) serangan WBC tahun 2009 di Jalur Pantura. 

Tanam padi serentak didasarkan kepada berpikir normatif, masa depan bangsa dan pemecahan masalah produksi padi menghadapi ledakan jumlah penduduk. Kenapa hama meledak, jawabnya adalah adanya waktu tanam padi yang tidak beratur/bersamaan karena petani saling mendahului yang menyebabkan hama selalu ada sehingga terjadi akumulasi populasi hama pada tanam padi yang tidak serentak.

 

Falsafah Tanam Padi Serentak

Secara teori mudah mengendalikan hama dan penyakit pada tanaman padi serentak karena semua teknologi sudah tersedia, tapi kenyataannya sangat sulit mengendalikannya apalagi WBC yang terus mengancam target peningkatan produksi padi.  Apa ada yang salah,  tentu dan pasti ada yang salah, yaitu ketidak disiplinan para petani dan kurangnya perhatian petugas lapangan  terhadap kondisi di lapangan, tidak dapat menertibkan para petani yang saling berlomba dan mendahului bertanam padi  bagaikan lari maraton yaitu siapa cepat dapat hadiahnya. Petani dan petugas perlu memahami bahwalari maraton yang untung hanya perorangan. Kita harus ingat berada dalam satu negara yang mengapresiasi orang banyak, dari kelompok tani, gabungan kelompok tani sampai masyarakat petani.  Banyak yang dilupakan bahwa tanam padi serentak sebagai bagian dari karakter bangsa yang berhati nurani dan berazas kerja gotong royong.

Dalam Good Agriculture Practice (GAP) semua produk pertanian harus dapat ditelusuri sampai ke lahan petani dimana produk itu dihasilkan.  Catatan harian usahatani (farm record keeping) ditempatkan pada pasal paling awal yaitu petani harus menyimpan dan menjaga catatan yang ada untuk membuktikan bahwa semua aktifitas produk telah sesuai dengan standar, hal ini untuk membantu menelusuri riwayat produk dari lahan produsen ke konsumen (EUREP, 2001). Catatan ini memuat lokasi lahan, jenis tanah, varietas yang ditanam, cara pemuliaannya (konvensional, hibrida, PTB, hasil tenaga atom, atau hasil rekayasa genetik-transgenik). Demikian juga perlu catatan pupuk yang dipakai, kapan, dan takarannya, serta bahan kimia yang dipakai, waktu aplikasi untuk hama atau penyakit apa saja, hingga waktu panen dan pengemasan sampai transportasi. Catatan itu menjadi sangat penting untuk penelusuran bila produk itu dibutuhkan konsumen karena kualitasnya atau sebaliknya produk tersebut mengganggu kesehatan konsumen, sehingga konsumen dapat mengklaim produsennya.(*art)

Oleh Sudarti,SP. Arnold C.Turang,SP.