JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Disiplin Aparatur Sipil Negara (ASN) dan Kinerjanya

Berbicara disiplin pasti muaranya berimbas pada hasil kinerja. Baik itu dilingkungan pemerintahan ataupu swasta. Khusus di lingkungan pemerintahan, baik pusat atau daerah, masalah disiplin menjadi perhatian dan masalah serius.

Jangan heran bila setiap kali melakukan apel atau upacara, kehadiran setiap aparatur sipil negara (ASN) menjadi prioritas perhatian pimpinan.

Seperti terlihat pada Senin (04/01) usai liburan Natal dan Tahun Baru, memang di tingkat Provinsi tingkat kehadiran seperti dilaporkan cukup membanggakan, tidak demikian dibeberapa kabupaten kota yang tingkat kehadiran ada yang di bawah 50%.

Memang begitu memiriskan, namun itulah kenyataan yang terjadi, tingkat kesadaran kinerja relatif masih rendah. Padahal sebagai abdi negara yang digaji dari uang masyarakat, penting berbenah diri untuk meningkatkan kinerja pelayanan pada masyarakat.

Demikian dengan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Sulawesi Utara. Sebagai instansi pusat yang berada di daerah. Dalam apel kerja di awal tahun, kehadiran pegawai mencapai 99%, karena ada pegawai yang langsung mengikuti rapat di tingkat pusat.

Menurut Kepala Seksi Kerjasama Pengkajian, ketika mewakili kepala Balai, dalam memimpin apel bahwa “Disiplin harus menjadi nafas dalam aktivias setiap pegawai”, namun masih harus terus didorong untuk lebih menyadari akan tugas dan tanggung jawab sebagai abdi negara dan masyarakat.

Karena Disiplin di era reformasi saat ini, harus diikuti dengan dorongan dari atasan serta penting untuk diikuti dengan kegiatan nyata Punisment dan reword bagi pegawai. Karena gaya PNS yang telah membudaya masa lalu, hanya menunggu dan menunggu, tanpa ada “inovasi” dalam mencermati tugas dan kerja sesuai dengan Surat Keputusan Pengangkatan Pegawai yang bersangkutan.

Sekretaris daerah Sulawesi Utara, Ir. Rahmat Mokodongan dalam sambutan apel perdana (04/01), mengajak dan mendorong para abdi negara (ASN) agar melakukan gebrakan, atau “Inovasi” semangat baru di tahun 2016. Maksudnya, realitas kinerja dan pengalaman di sepanjang tahun 2015 lalu, dapat dijadikan titik tolak melakukan langkah kerja dan nyata semakin baik.

Seiring dengan semangat peningkatan kinerja dan upaya melakukan pembenahan terhadap sikap pegawai (ASN), harus menjadi perhatian upaya Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Birokrasi dan Reformasi. Menteri Yuddy Chrisnandi, dalam sebuah pernyataan di media, sedang mengkaji rencana pemangkasan 1 juta pegawai. Ini merupakan upaya untuk efektif dan efisien pegawai yang melakukan pelayanan pada negara.

Masih catatan media, bahwa dengan pemangkasan 1 juta pegawai, dapat menghemat anggaran negara sebesar 3 trilliun rupiah setiap bulan. Ini hanya dirata-rata dari gaji PNS yang 3 juta plus tunjangan setiap bulan di kalikan 12 bulan. Menurut menteri dalam setahun dapat menghemat triliunan setiap tahun.

Catatan ini harus dicermati oleh setiap abdi negara yang bukan lagi “tanpa pabri’ seperti pejuang bangsa masa lalu. Mereka berjuang untuk negara tanpa pertimbangkan besarnya gaji atau upah. Hanya semata kecintaan akan bangsa Indonesia. Tidak demikian dengan ASN saat ini yang bekerja sudah dengan pabri.

Penting saat ini semua ASN sudah merancang dan mencatat apa yang akan dikerjakan saat ini dan mengerjakan apa yang dicatat untuk dikerjakan. Mengingat dengan berbagai fasilitas yang diberikan bagi setiap ASN apa lagi yang sudah remunerasi.

Akhirnya, bersama kita saling mendorong dalam ber INOVASI mengisi kemerdekaan yang telah di perjuangkan dengan TANPA PAMBRI oleh pendiri bangsa Indonesia. Karena kita di massa kini berjuang untuk mengentaskan kemiskinan menuju kedaulatan bangsa DENGAN PAMBRI yang diterimakan pada kita setiap bulannya.(*art)

Sumber: Komentar 6 Januari 2015