JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Mengenal Tanaman Sumber Gula Alternativ

Tanaman Stevia (Stevia rebaudiana Bertoni)

Oleh: Arnold C.Turang,SP. dan Janse Tutu,SPd.

Tanaman stevia sangat potensial dikembangkan sebagai bahan baku gula (pemanis) alami, pendamping gula sintetis. Pengenalan tanaman Stevia akan menambah wawasan dan motinasi dalamn usaha pengembangan  dan pelestarian komoditas tersebut.

Plasma nutfa (germ plasma) tanaman stevia, berasal dari Amambay dan Iguaga, yaitu daerah sub tropis Mato Grosso. Daerah ini berada di perbatasan antara Brasil, Paraguay dan Argentina (Amerika Selatan).

Jenis Tanaman Stevia yang ditemukan di daerah asal tersebut adalah Stevia rebaudinana Bertoni M. (Eupatorium rebaudianum). Dalam perkembangannya, selanjutnya ditemukan pula jenis Stevia ovata, yang tumbuh di daerah Meksiko.

Pemanfaatan tanaman Stevia sebagai bahan pemanis, telah lama dikenal oleh penduduk asli di Amerika. Pada mulanya, tanaman ini hanya dikembnagkan di Brasil dan Paraguay. Namun, beberapa tahun kemudian juga dikembangkan di Jepang dan selanjutnya berkembang di negara-negara Asia, misalnya di Malaysia,Philipina, Papua New Guinea, Korea Selatan RRC dan Taiwan.

Tanaman Stevia diperkirahkan masuk ke Indonesia pada tahun 1977, atas kerjasama pengusaha Jepang dan Indonesia. Pada waktu itu, tanaman Stevia merupakan komoditas yang mempunyai peluang besar untuk dibudidaya. Namun, dalam perkembangnya selanjutnya, budidaya tanaman Stevia tersendat-sendat sehingga pada tahun 1980 tanaman Stevia mulai dilupakan orang. Hal ini disebabkan oleh para pengusaha dalam negeri hanya bergantung pada pasar eksport ke Jepang. Selain itu, Inonesia belum memiliki pabrik pengolahan Stevia.

Pada tahun 1990, PT.Graha Geotama Perdana, merintis pabrik pengolahan Stevia di Indonesia, dengan kapasitas sebanyak 2.000 ton/tahun. Daerah pengembang  tanaman stevia antara lain Nusa Tenggara Timur (NTT), Sumatra Utara, Bengkulu, Tawangmangun, Jawa Timur, dan Sulawesi Selatan. Meskipun sudah hampir dilupakan, tanaman Stevia layak dijadikan komoditas unggulan dalam pengembangan agribisnis dan agroindustri ke depan.

Taksonomi dan Morfologi

Dalam sistimatika (Taksonomi) tumbuhan, kedudukan tanaman Stevia diklasifikasikan sebgaia berikut:

Kingdom                          :        Plantae (Tumbuh-tumbuhan)

Devisi                                :        Spermatophyta

Kelas                                 :        Dicotyledonae

Ordo                                  :        Campanulatae

Famili                                :        Compositae (Asteraceae)

Genus                               :        Stevia

Spesies                             :        Stevia rebaudiana Bertoni M. ; sin Eupatorium rebaudiana

Di daerah-daerah asalnya, tanaman Stevia, disebut cae ehe, Ca-enhem, atau azucacaa. Kerabat dekat tanaman Stevia, antara lain Stevia ovata Wild. Dan Stevia sp. Stevia ovata yang berasal dari Meksiko ditemukan tumbuh liar di daerah Selabinata, Sukabumi (Jawa Barat).

Hasil identivikasi para ahli botani, menunjukkan tanaman Stevia ovata merupakan tanaman terna yang tumbuh tegak, memiliki banyak percabangan, memiliki ketinggian antara 30 cm-90 cm, dan berbunga sepanjang tahun. Stevia rebaudiana dapat mencapai ketinggian antara 60cm – 90cm.

Batang tanaman Stevia berbentuk bulat lonjong dan berbulu halus. Daun berbentuk lonjong langsing sampai oval, bergerigi halus dan terletak berhadapan. Bunga Stevia merupakan bunga sempurna (hemaphrodite) dengan mahkota berbentuk tabung.

Perakaran tanaman Stevia, merupakan akar serabut yang terbagi menjadi dua bagian, yaitu perakaran halus dan perakaran tebal. Tanaman ini memiliki daya regenerasi yang kuat sehingga tahan terhadap pemangkasan.

Jenis atau koln tanaman stevia cukup banyak. Pusat penelitian Pertanian Kebun Bogor dan PT> Garsela, telah menghasilkan sejumlah klon pilihan dari hasil seleksi terhadap 10.000 tanaman stevia yang berasal dari Jepang. Identifikasi klon Stevia didasarkan pada Kriteria produksi daun tinggi, pembungaan yang  lambat, pertumbuhan yang baik dan kadar pemanis yang tinggi.

Sumber: Kanisius 2003.