JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Kajian Peningkatan Produktivitas Kambing, Sistem Pemeliharaan Terkurung dengan Introduksi Pakan Ampas Sagu Fermentasi dan daun Gamal

Arnold C.Turang, Agustinus Kairupan, Derek Polakitan.
(Tim Pengkaji di BPTP Sulut)

PENDAHULUAN

Pemeliharaan ternak kambing di Sulawesi Utara umumnya masih dilakukan secara konvensional yaitu sistem ekstensif tradisional dengan tingkat adopsi teknologi yang masih rendah sehingga belum dapat memberikan hasil yang baik secara kuantitas maupun kualitas. Kecepatan pertumbuhan kambing pada pemeliharan tradisional hanya sekitar 30 g/ekor/hari dengan rata-rata pertumbuhan per tahun 4,11%. Salah satu permasalahan spesifik di Sulawesi Utara yaitu memiliki iklim ekstrim kering yang panjang sehingga menyebabkan kurangnya ketersediaan pakan hijauan sepanjang tahun dan pada kondisi yang demikian maka peternak yang memelihara kambing secara tradisional (ternak kambing dilepas bebas dan mencari makan sendiri di mana-mana) akan mengalami kekurangan dan kesulitan dalam mencari makan sebagai kebutuhan hidupnya sehingga pada akhirnya produktivitas ternak kambing menjadi rendah. Untuk mengatasi hal tersebut diperlukan suatu terobosan introduksi teknologi dengan memanfaatkan sumber-sumber pakan ternak lokal yang tahan terhadap kekeringan dan dapat tersedia sepanjang tahun. Ampas sagu merupakan salah satu limbah pertanian dihasilkan dari pengolahan tepung sagu yang saat ini belum banyak dimanfaatkan sebagai pakan ternak. Potensi luas tanaman sagu di Sulawesi Utara 23.400 ha, dengan produksi 113.485 ton. Ampas sagu sebagai sumber energi, mengandung karbohidrat relative tinggi dengan kadar BETN 82,54% yang merupakan RAC (Readily Available Carbohidrates) (Hamid. 1984). Gamal (Glyricidia sepium), merupakan salah satu leguminosa pakan ternak yang tahan kekeringan sering ditanam sebagai tanaman peneduh, pagar hidup, dan reboisasi mengadung protein kasar 23%, tanaman ini tergolong pakan unggul karena kualitasnya jauh lebih tinggi dari rumput lapangan (Hartadi, 1980). Kajian ini diarahlkan pada studi komponen teknologi untuk pemeliharaan kambing secara terkurung meliputi introduksi ampas sagu fermentasi dan daun gamal sebagai tanaman pakan tahan kemarau. Petunjuk teknis (Juknis) ini membuat informasi/pedoman tahapan dalam melaksanakan kegiatan kajian lapangan.

RUANG LINGKUP KAJIAN

Pengkajian ini akan dititikberatkan pada komponen teknologi pakan yang berkualitas dan perkandangan yang lebih baik untuk meningkatkan produktivitas ternak kambing. Komponen pengujian teknologi meliputi : 1. Pemanfaatan ampas sagu sebagai pakan ternak. Pengolahan ampas sagu melalui proses fermentasi 2. Gamal sebagai tanaman pakan varitas unggul Gamal dibudidayakan sistem pagar pada tapal batas lahan yang dimiliki, lahan marginal agar aktivitas pertanian tanaman pangan relatif tidak terganggu. 3. Pemeliharan sistem perkandangan. Ternak dipelihara secara terkurung dalam kandang panggung yang terbuat dari bahan lokal

METODE PELAKSANAAN KAJIAN

Materi dan Metode Kajian Kajian ini terbagi dalam tiga tahap; pertama tahap pendahuluan selama 14 hari, tahap kedua periode perlakuan selama 112 hari. Materi Kajian Dalam kajian ini digunakan dua belas ekor kambing lokal jantan dengan kisaran umur 6 – 8 bulan. Kandang Kajian Kandang yang digunakan dalam kajian ini adalah kandang individu dengan ukuran 100 x 75 cm sebanyak 12 petak kandang , berlantai panggung yang terbuat dari bahan lokal yaitu bambu, kayu dan beratap seng. Tinggi lantai kandang adalah 0,5 m dari atas tanah. Tempat Makan dan Minum serta Perlengkapan Lainnya Setiap petak kandang dilengkapi dengan tempat makan dan minum. Sebagai alat penimbang ternak digunakan timbangan dengan kapasitas 100 kg dengan skala terkecil 100 gr, dan alat penimbang ransum kajian digunakan timbangan berkapasitas 2 kg dengan skala terkecil 10 gr. Obat-Obatan Sebelum tahap pendahuluan dimulai, terlebih dahulu dilakukan pencegahan/pengobatan terhadap cacing dan scabies. Ransum Kajian Bahan pakan yang digunakan dalam kajian ini terdiri dari ampas sagu fermentasi dan daun gamal. Ampas sagu dan daun gamal yang digunakan diperoleh dari wilayah sekitar lokasi kajian. Ampas sagu sebelum digunakan sebagai ransum kajian, dilakukan proses fermentasi. Proses fermentasi dilakukan secara terbuka, dengan prosedur sebagai berikut : Tempat pengolahan harus ada naungan/atap agar terhindar dari hujan dan sinar matahari langsung. Tahap pertama, jerami padi dilayukan selama + 1 hari untuk mendapatkan kadar air 60%. Jerami yang sudah dilayukan tersebut dipindahkan ke tempat pembuatan dengan cara ditumpuk setebal 20 - 30 cm (setiap lapis + 100 kg jerami), kemudian ditaburkan bahan campuran (probion + Urea) dan air secukupnya, demikian seterusnya sampai mencapai 1 ton (ketinggian + 1,5 m). Tumpukan jerami dibiarkan selama 21 hari. Tahap kedua, setelah 21 hari tumpukan jerami dibongkar lalu diangin-anginkan atau dikeringkan. Setelah proses pengeringan ini, maka jerami padi fermentasi dapat diberikan kepada ternak ruminansia sebagai pakan penganti rumput segar Metode Kajian Rancangan yang digunakan pada kajian ini adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang terdiri dari 4 perlakuan dan 3 ulangan (kelompok). Pengelompokkan ternak berdasarkan bobot badan awal kajian. Perlakuan yang dicobakan dalam kajian ini yaitu terdiri atas 4 tingkat pemberian ampas sagu fermentasi, yang tersusun sebagai berikut : R0 = Ampas sagu fermentasi 0,0% dari Bobot Badan + Daun gamal 100% (Kontrol) R1 = Ampas sagu fermentasi 1% dari Bobot Badan + Daun Gamal ad libitum R2 = Ampas sagu fermentasi 1,5% dari Bobot Badan + Daun Gamal ad libitum R3 = Ampas sagu fermentasi 2,0% dari Bobot Badan + Daun Gamal ad libitum Pemberian ransum kajian dilakukan 2 kali sehari yaitu jam 10.00 pagi untuk pakan ampas sagu fermentasi dan jam 14.00 siang hari untuk pakan daun gamal. Data yang dikumpulkan dan Cara Pengukurannya 1. Produktivitas ternak kambing Parameter yang diamati : a. Pertambahan bobot badan harian Untuk menghitung pertambahan bobot badan ternak digunakan rumus sebagai : B – A ADG = L Dimana : ADG = Pertambahan bobot badan harian B = Bobot badan akhir A = Bobot badan awal L = Lama pemeliharaan Penimbangan ternak dilakukan setiap interval 15 hari kerja. b. Konsumsi ransum dihitung dalam bahan segar (kg/ekor/hari), yaitu selisih pakan yang diberikan dan sisa yang dimakan. Penimbangan pakan ditimbang pada pagi hari sebelum pemberian pakan berikutnya. 2. Nilai ekonomis Nilai ekonomis dihitung berdasarkan struktur biaya (Rp) dan penerimaan (Rp) Analisis Data. 1. Produktivitas ternak kambing dianalisis statistik dengan analisis varians (anova), selanjutnya apabila berbeda nyata akan dilakukan uji lanjut mengunakan analisis BNT/BNJ (Steel dan Torrie, 1995) 2. Nilai ekonomis dihitung berdasarkan analisis Return Cost Ratio, yaitu perbandingan antara penerimaaan dan biaya (Arikunto, 1998). PENUTUP Nilai tambah dari pengkajian ini meliputi (1) Pemanfaatan potensi hijauan pakan dan limbah pertanian secara optimal (2) Meningkatnya populasi ternak kambing di daerah sentra ternak (3) Umur dan berat badan ternak lebih cepat mencapai umur produktif dan umur permintaan pasar (4) Pemanfaatan tenaga kerja yang efektif dan efisien (6) Meningkatnya pendapatan dan kesejahteraan petani ternak.

DAFTAR BACAAN

Arikunto S. 1998. Prosedur Penelitian. Penerbit Rineka Cipta. Jakarta.

BPS Sulawesi Utara. 2010. Sulawesi Utara Dalam Angka Tahun 2010. Badan Pusat Statistik Sulawesi Utara. Manado

Hamid, H. 1984. Pengaruh Beberapa Tingkat Pemberian Ampas Sagu (Metroxylon sagus) terhadap Daya Cerna Bahan Kering Ransum pada Sapi Bali jantan yang Sedang Bertumbuh. Skripsi. Fakultas Peternakan Universitas Hasanuddin.

Hartadi, H., S. Reksohadiprodjo, S. Lebdosukoyo, A.D. Tillman, L.C. Kearl dan L.E. Haris, 1980. Tabel-Tabel dari Komposisi Bahan Makanan Ternak Untuk Indonesia. Int. Feedstuffs Inst., Utah Agric. Exp. Station, Utah State Uni. Logan,

Utah. Harsanto, B. 1980. Budidaya dan Pengolahan Sagu. Kanisius, Yogyakarta. Nitis, 1994. Pengembangan Sapi Bali Sistem Tiga Strata. Proc. Seminar Nasional Sapi Bali. Universitas Udayana Dempasar. Conggress, Bali 1 Juli 1994.

Paat, P.C., A. Prabowo, B. Sudaryanto, M. Sariubang, A. Tikupadang., 1993. Identifikasi Potensi dan Kendala Pola Usaha Penggemukan dan Pembesaran Kambing di Lahan Kering Sulawesi Selatan. Laporan Hasil Penelitian Sub. Balitnak Gowa.

Paat, P.C., P. Pongasapan dan Daniel Bulo., 1994. Penggemukan dan Pembesaran Kambing PE dengan Suplementasi Daun Leguminosa dan Sumber Energi. Laporan Hasil Penelitian Sub. Balitnak Gowa.