JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Teknik Pengambilan Contoh Tanah Komposit

TEKNIK PENGAMBILAN CONTOH TANAH KOMPOSIT UNTUK UJI TANAH
Arnold C. Turang , Rouna Moningka , Ben Kumontoi,Sudarti.

Pendahuluan

Tanpa pupuk kimia, penduduk akan berusaha merambah lahan-lahan marginal untuk dibudidayakan. Mempercepat penyusutan hutan yang masih ada. Membudidayakan lahan-lahan terjal yang berpotensi erosi dan mempercepat desertifikasi yaitu proses kemunduran secara terus menerus dalam produktivitas biologi, yang mengakibatkan rusaknya susunan tanah sehingga sulit dipulihkan. Karena telah terjadi degradasi lahan berupa penurunan daya dukung lahan untuk memenuhi pemanfaatan khusus. Karena itulah sekitar 5% dari total GDP kerugian akibat turunnya produktivitas lahan. Ini merupakan suatu kerugian, karenanya mendapatkan perhatian, walaupun angka tersebut tidak termasuk kerugian. akibat banjir, kerusakan ekosistem perikanan (laut dan darat), pencemaran dari penggunaan pupuk yang tidak berdasarkan pada tingkat kebutuhannya, pestisida dan kehilangan jiwa. Untuk kenaikan dalam produksi pangan, harus dengan teknik peningkatan hasil panen, yang harus menggunakan input mahal yang memberatkan belanja negara. Karena kendala yang dihadapi adalah hasil produksi pangan banyak, tapi membutuhkan banyak pupuk dan pestisida, serta rentan pada cekaman lingkungan. Usaha untuk lebih mengoptimalkan produktivitas tanah dan tanaman pertanian, serta efisiensi penggunaan pupuk sudah dan sedang digalakan oleh kalangan pertanian. Namun masih menemui kendala dalam aplikasi untuk mencapai maksud tersebut diatas. Usaha ini perlu didukung dengan satu pemahaman tentang pemupukan berimbang. Sehingga perlu diketahui teknologi pemupukan berimbang yang dikombinasikan dengan penggunaan pupuk organic. Pemahaman pemupukan berimbang secara teori sudah diketahui oleh petani bahkan sudah diaplikasikan petani dalam usahatani, namun tekniknya relative masih keliru. Yang berakibat pada kegagalan panen atau usahatani petani statis. Dari hasil wawancara langsung dengan beberapa petani di desa Wolaang dan Amongena Agustus 2005, bahwa dari pengetahuan petani tentang anjuran pemupukan berimbang dan teknik pemupukan sangat memahami. Bahkan ada petani pernah mengikuti pelatihan. Tapi setelah ditanya penerapan terakhir dalam usahatani ternyata tidak dilakukan seperti teknik yang dianjurkan, dengan alasan repot, makan waktu dan kurang tenaga kerja. Lebih keliru lagi rekomendasi yang di anjuran masih menggunakan rekomendasi umum, tanpa mengetahui keadaan lahan yang di kembangkan. Jadi pemahaman pemupukan berimbang adalah cara pemberian makan pada tanah, untuk mencapai status terpenuhi dan seimbang, untuk meningkatkan produksi dan mutu hasil pertanian secara berkelanjutan, ramah lingkungan dan lestari. Pemberian pupuk pada tanah tanpa mengetahui secara jelas kandungan nutrisi dalam tanah akan berdampak negative bagi tanah dan tanaman. Bahkan lebih para lagi mengganggu, merusak tanah dan lingkungan tumbuh tanaman. Pengetahuan akan kandungan unsure dalam tanah, dapat diketahui dengan melakukan analisa tanah. Dan analisa tanah dapat dilakukan bila ada contoh tanah. Pengambilan contoh tanah dan analisa tanah dapat menghubungi instansi berwenag seperti Puslit Tanah atau BPTP yang memiliki tenaga khusus untuk pengambilan contoh tanah. Untuk memudahkan petani dan pengguna jasa usahatani dalam mengetahui hasil analisa tanah, maka tulisan ini akan membahahas teknik pengambilan contoh tanah untuk bahan analisa tanah.

Alat dan Bahan
Alat yang akan digunakan dalam pengambilan contoh tanah adalah :
1. bor tanah
2. plastik .
3.cangkul /skop
4. karet / tali
5. parang/ pisau
6. label
7. wadah / ember
8. pinsil / spidol
9. karung
10. buku catatan

Pengambilan Contoh Tanah dan Waktu
Tepat Pengambilan contoh tanah merupakan tahapan penting dalam uji tanah. Contoh tanah yang diambil harus mewakili lahan yang akan dikembangkan dan pengambilannya dilakukan dengan cara yang benar, sehingga penyusunan rekomendasi pemupukannya lebih tepat dan akurat. Pengambilan contoh tanah yang salah atau tidak tepat, akan merusak lingkungan sekitar dan rekomendasi yang salah. Pengambilan contoh tanah dapat dilakukan kapan saja. Yang penting tidak boleh dilakukan setelah melakukan pemupukan. Contoh tanah untuk lahan yang tidak intensif dapat dilakukan 4 tahun sekali. Sedangkan lahan yang intensif sedikitnya satu tahun sekali. Untuk lahan kering pengambilan contoh tanah dilakukan kira-kira tanah dalam keadaan untuk olah tanah. Sedangkan lahan sawah dalam kondisi lembab.

Teknik Pengambilan Contoh Tanah
Pengambilan contoh tanah untuk uji tanah merupakan contoh tanah komposit. Contoh tanah komposit adalah campuran dari 10-15 contoh tanah individu atau gabungan dari satu area pengambilan. Pengambilan contoh tanah individu, diambil dari dari lapisan olah atau lapisan perakaran yang diperkirakan 0 – 20 cm. Contoh tanah komposit harus mewakili lahan yang akan dikembangkan. Satu contoh tanah komposit mewakili areal yang homogen sekitar 10 – 15 ha untuk lahan datar. Sedangkan untuk lahan miring dan bergelombang, 1 tanah komposit mewakili areal 5 ha (sesuai kemiringan lereng).

Tahapan Pengambilan Contoh Tanah Komposit
  1. Identifikasi lapangan.
  2. Pengelompokan hamparan yang akan diambil contoh tanahnya kedalam kelompok sesuai keadaan hasil    identifikasi  lapang, sepert ; a). areal datar bawah, b). areal miring, c). areal datar atas (gbr.1);
  3. Bila lahan datar, tentukan titik pengambilan ra contoh tanah dengan cara sistematik, seperti bentuk diagonal,atau  zig-zag demikian juga pada lahan berlereng.
  4. Setiap areal diambil 10-15 contoh tanah. sebelum mengambil contoh tanah, lahan dibersihkan dari rumput dan batu atau kerikil sisa tanaman atau bahan organik lainnya
  5. Jika menggunakan bor tanah, langsung bor saja dan ambil tanah sedalam mata bor. bila tidak. lahan dicangkul sedalam lapisan olah.
  6. Hasil pengambilan contoh dalam setiap group (lereng atas, lereng bawah, atau dataran) dicampur merata dalam satu wadah, bersihkan dari kotoran keudian setiap contoh (group) diambil 1 kg.
  7. Setiap contoh dikemas dalam kantong plastik, bila analisa cepat dengan bantuan Alat Perangkat Uji Tanah Kering (PUTK) langsung di olah (akan dibahas khusus)
  8. Bila untuk dikirim ke laboratorium, sampel yang telah berada dalam kemasan plastik double kemas, diberikan label yang berisikan keterangan tentang lokasi, tanggal pengambilan, kode pengambilan, oleh siapa, nomor contoh tanah,Nama Desa, Kecamatan, Kabupaten serta berapa kedalaman contoh diambil.
  9. Lengkapi sketsa denah pengambilan.
Penutup
Pentingnya pengambilan sampel tanah untuk analisis tanah, karena dengan adanya hasil analisa tanah sebelum melakukan pemupukan, akan menekan pemborosan pupuk yang berdampak pada kerugian petani dan yang paling penting menekan pengrusakan alam serta sumbangan terhadap pengrusakan lingkungan.

Bahan Bacaan
Buku Ilmu Tanah karangan Prof Sarwono H.
Materi-materi diklat
Materi-materi kuliah Ilmu Tanah