JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Rakor Upsus Sulut di Bolmong: Secara Nasional Kementan Bersama TNI Bangun Gerakan Upaya Penanggulangan Kekeringan

Bolmong, 6 September 2019.---Secara marathon Penanggung jawab Upaya Kusus (Upsus) Padi Jagung dan Kedelai (Pajale) di Sulawesi Utara, yang juga Kepala Pusat Ketersediaan dan Kerawanan Pangan Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian Dr.Ir. Andriko Notosusanto, SP. MP. setelah melaksanakan Rakor Upsus tingkat provinsi (5/9), hari ini di wilayah Bolmong.

“Secara Nasional Kementerian Pertanian dan semua terkait dengan pertanian termasuk Tentara Nasional Indonesia (TNI), bangun gerakan bersama upaya penanggulangan kekeringan, yang mulai melanda Nusantara”, tutur Notosusanto saat pertemuan di Wilayah Kerja Balai Penyuluhan Pertanian (WKBPP) Bolaang Timur.

Dalam pemaparan beliau didampingi oleh kadis Pertanian dan Peternakan Sulut Ir. Novly Wowiling, MSi. dan kepala-kepala bidangnya, kepala Balitbangtan BPTP Sulawesi Utara serta Dr.Tri Martini Patria, SP.MP. Kepala Bidang Informasi dan Jaringan Laboratorium di Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian.

Lanjut Notosusanto, tujuan dari gerakan bersama yaitu: yang sudah tertanam atau standing crop diamankan dari ancaman kekeringan. Artinya aman sampai panen hasilnya. Selanjutnya yang terdampak, artinya sudah ditanam ada kemungkinan kurang air, diupayakan jangan sampai gagal atau tidak panen (puso). Dengan kata lain, hidup dengan bantuan fasilitas pendukung yang telah diberikan, hingga dapat panen.

Upaya mengantisipasi kekeringan mengutip hasil Rakor tingkat provinsi (Klik ini) dimana hasil identifikasi lapang titik-titik kekeringan dan daerah-daerah yang masih ada air, sudah ditindak lanjuti dengan penyaluran fasilitas pendukung oleh Dinas Pertanian dan Peternakan provinsi, itu diberdayakan agar tidak sampai gagal panen (puso).Untuk itu terus melakukan koordinasi terpadu, dan saling memberikan informasi terkait setiap kejadian di lapangan.

Titik-titik yang tidak terjangkau dan ada potensi sumber air dangkal, kedalaman kurang dari 50 meter dapat dipercepat usulkan. Dan yang mendesak dipercepat adalah daerah potensi ada sumber air ada tapi tidak terjangkau karena jauh dan harus di alirkan. Atau sudah ditanam berpotensi kekeringan tapi dekat sumber air, kita arahkan pompanya ke sana dan kita fasilitasi oprasionalnya.

Saat ini penting bagi kita yang ada di wilayah khatulistiwa, bangkitkan jiwa nasionalis kita. Bersama kita dorong petani untuk tingkatkan Luas Tambah Tanam (LTT). Kita di daerah masih ada air, untuk dapat mengkompensasi di wilayah yang saat ini sudah kering dan puso.

Mantan Kapus SDM Pertanian, mengapresiasi kinerja para pelaku antara (penyuluh pertanian) sebagai ujung tombak pembangunan pertanian dan mengajak agar terus mendorong petani melakukan penanaman, agar LTT dan panen dapat diwujudkan. Untuk itu LTT terus dilaporkan. Jangan sampai LTT Pajale tidak dilaporkan, karena itu adalah rapot pembangunan pertanian.

Pertahankan surplus Bolmong, pesan Notosusanto, tetap berjuang, #KerjaKerjaKerja #terusberinovasi sambal menjaga kesehatan tutup beliau mengahiri pemaparannya.

Ditempat yang sama Dr. Ir. Yusuf,MP. kepala Balitbangtan BPTP Sulawesi Utara menjelaskan. Sebagai sumber inovasi teknologi di daerah, pihaknya terus melakukan pendampingan teknologi dan konsultasi via Whats Apps terkait inovasi teknologi dan permasalahan lapangan.

Masih menurut Yusuf, pihaknya saat ini membuat demplot dan kegiatan Peningkatan Indeks Pertanaman (IP) di wilayah Bolmong. Dikandung masksud, agar petani dapat melihat dan menerapkan inovasi teknologi pertanian yang diterapkan dalam kegiatan peningkatan IP.

Gerak marathon Kapus Ketahanan dan Kerawanan Pangan, dilanjutkan dengan peninjauan lapangan dan melihat dari dekat kegiatan panen di Desa Tapandaka kecamatan Dumoga Tenggara. Pada luas panen 1878 ha dari luasan 2066,5 ha varietas padi Serayu yang adaptif spesifik lokasi di daerah Bolmong. Di lokasi panen, Notosusanto dan tim, mencoba menggunakan combine harvester, bantuan pemerintah dengan kemampuan panen 2-3 jam per hekto are (ha). (*Artur)