JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Bolaang Mongondow Melakukan Kegiatan Temu Teknologi Pembuatan Pupuk dan Pestisida Nabati

Manado, 01 April 2019---Kelangkaan pupuk terjadi saat tiba waktu memupuk, menjadi masalah petani. Ini dapat memicu gab di tingkat pelaku utama (Petani) dan pelaku antara  PPL (Penyuluh Pertanian Lapangan) dan menjadi  faktor penting yang mempengaruhi produksi dan produktifitas usahatani. Dipihak lain, seperti terungkap dari pertemuan dengan Kadis Pertanian  Sulut, beberapa waktu lalu bahwa: serapan pupuk sesuai target di setiap daerah tidak tercapai. Fenomena ini aneh tapi faktanya memang ada. Dan ini menjadi pekerjaan untuk ditatalaksana oleh pengambil kebijakan.

Permasalahan ini, menjadi pelajaran penting oleh Dinas Pertanian Bolmong, sehingga untuk memiliminer akan permasalahan tersebut, pihak Dinas Pertanian mengambil langkah proaktiv dengan merancang kegiatan Temu Teknologi. Ini menjadi sarana pembekalan bagi para pelaku utama, dengan teknologi pembuatan pestisida nabati dan pupuk organik. Kegiatan ini, menghadirkan BPTP Balitbangtan Sulawesi Utara sebagai narasumber utama.

Bertempat di Gedung Serba Guna Dinas Pertanian Bolaang Mongondow (28/03), Pelaku Utama (Petani) sekitar 60 orang, berkumpul dan mendapatkan penderasan terkait teknologi pembuatan pestisida Nabati dan Pengolahan pupuk organik.  Teknologi ini menggunakan bahan baku dari limbah pertanian di sekitaran kegiatan usahatani.

Pada temu teknologi tersebut, materi yang disampaikan meliputi: teknik pembuatan pestisida nabati yang dibawakan oleh: Meivi Lintang,SPT.MSi dibantu oleh Supratman Siri. Demonstrasi pembuatan pupuk organik oleh Ir. Derek Polakitan,MSi. dibantu oleh Denny Mamesa.

Lintang, dalam pemaparan materi menguraikan tanaman-tanaman potensi untuk berkontribusi untuk pengendalian pengganggu tanaman utama pada padi jagung dan kedelai. Tanaman-tanaman tersebut adalah tanaman yang spesifik di daerah dan sudah dilakukan uji kaji pembuatan dan penggunaan serta dosis yang dapat dianjurkan.  Lanjut Lintang, tanaman-tanaman spesifik yang dimaksud yaitu: tanaman cengkeh, buah mitung, sirsak, gamal, jahe, Mimba, Sereh Wangi, Tembelakan atau rumput macan.

Ditempat yang sama, Polakitan mengawali dengan teknik pembuatan Micro Organisme Lokal (MOL) bahan baku bonggol pisang. Bongol pisang dihaluskan dan dicampur dengan testes tebu atau gula mera dan air cucian beras dan air kelapa. Setelah difermentasi sekitar 14 hari, adonan sudah dapat digunakan. 

Untuk pembuatan pupuk organik, berbahan baku lokal dari jerami padi, kotoran ternak , abu sekam dan MOL. Diadon dan digunakan dalam tumpukan jerami padi yang sudah disiapkan. Dengan teknik menumpukkan jerami pada wadah yang sudah dibuat ukuran 100 cm x 200 cm x 100 cm. jerami padi dimasukkan dalam wadah ini setiap ketebalan 20 cm, disiram basah oleh mol yang sudah dicampurkan pada air.

Kadis Pertanian Bolaang Mongondow melalui sekretaris Dinas Nyoman Sukra, mengapresiasi pemaparan dan simulasi yang dipaparkan tim kerja BPTP Balitbangtan Sulawesi Utara terkait dengan teknologi yang lebih akrab lingkungan dan berbahan baku di sekitar lingkungan kegiatan usahatani.

Tentunya kami menyambut baik penderasan ini, dan berharap agar para petani dapat mengikuti kegiatan ini dengan baik. Karena kegiatan seperti ini, sengaja dirancang untuk mengatasi permasalahan kelangkaan pupuk yang menjadi momok petani ketika beraktivitas dalam usahatani. Lanjut Sukra bahwa ini bagain dari dukungan kegiatan #Bekerja Kementerian Pertanian.

Di tempat yang sama, Syanne Kumendong selaku kepala bidang Penyuluhan menjelaskan bahwa:  kegiatan ini, sebagai upaya untuk meningkatkan kapasitas dari para petani, agar permasalahan kelangkaan pupuk dapat diatasi dengan teknologi spesifik yang ada di sekitar usahatani. Demikian dengan permasalahan penggunaan pestisida yang semakin masif, agar dapat ditekan dengan menggunakan produk nabati yang lebih akrab lingkungan (*Artur).