JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Beberapa Hama Penting Menyerang Padi Inpari 24 di Minahasa

Manado, 28/06/2018---Salah satu faktor penyebab menurunnya produksi padi adalah serangan hama dan penyakit pada tanaman saat tanaman dalam proses pertumbuhan. Ketika menghadapi permasalahan seperti ini, petani sebagai pelaku utama usahatani, bingung. Karena petani rata-rata kurang mengetahui jenis hama dan penyakit yang menyerang tanaman, serta cara kendalikan seperti apa. Hal ini menyebabkan terjadi salah mengendalikan seragan hama pada tanaman yang diusahakan petani.

Untuk memudahkan petani dalam mengambil keputusan saat ada serangan hama dan penyakit, maka perlu dilakukan program ter struktur pengamatan tanaman di WKBPP. Dengan program ini yang dikerjakan secara terintergrasi antara Penyuluh Pertanian di Lapangan (PPL), Petugas POPT dan Petugas BPTP dan petani, niscaya permasalahan petani terkait serangan pengganggu tanaman dapat dikelola bersama.

BPTP Balitbangtan Sulawesi Utara pada tahun 2018 melaksanakan kegiatan produksi benih sumber padi sawah kelas benih ES. Varietas yang ditanam adalah: Inpari-24 dan Inpari-31. Kegiatan ini dilaksanakan di tingkat petani di desa Sumarajar, kecamatan Langowan Timur, kabupaten Minahasa  untuk varietas Inpari-24 dan di Desa Tincep kecamatan Sonder Inpari-31.

Program terstruktur ini, diatur bersama dalam rembuk tim kerja di lapangan, berdasarkan program tanam yang dilakukan petani. Tujuan dari kegiatan pengamatan bersama mengacu pada Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) padi sawah yang dikembangkan kementerian Pertaniaan.

Pengamatan Perkembangan Tanaman Padi

Pada fase tanaman berumur 52 hari setelah tanam ( 26/4/2018) pada petani Edi Irot luas 1 hekto are. Setelah dilakukan pengamatan oleh koordinator lapangan pada tanggal 20 Juni 2018 jam 05.56 wita. Pada performa tanaman ada ganguan yang menyebabkan tamana terganggu. Banyak daun yang menggulung, pada beberapa tanaman ada warna menguning. Sehingga sebagai koordinator lapangan segera melaporkan dan membuat rencana pengamatan dengan peneliti yang berkopeten terkait hama dan penyakit.

Pada tanggal 21 Juni mengajukan rencana pengamatan pada penanggung jawab kegiatan, dalam hal ini kepala BPTP Sulawesi Utara. penanggung jawab dan kepala BPTP, segera mengeluarkan surat tugas nomor: B-471/TU.040/H-12.19/06/2018 atas nama Arnold C. Turang,SP. Selaku korlap dan Dr.Freddy Lala,SP. MSc. yang berkopeten terhadap hama dan penyakit tanaman.

Tim kerja segera melakukan pekerjaan pengamatan tanaman di lokasi produksi benih tepatnya di Desa Sumarayar. Bersama dengan kepala BPP Langowan Timur Anneke Turangan,SP. Segera melakukan pengamatan tanaman pada tanaman padi pak Eddy Irot.

Hasil Pengamatan dan Anjuran Pengendalian

Program Produksi Benih Sumber Padi Klas ES, kegiatan Pengamatan Hama n Penyakit. Hari Jumat (22/6) telah dilakukan pengamatan HPT pada tanaman padi sawah. Padi Sawah Inpari 24 umur 2 bln ( 52 hst) di Desa Sumarayar, kec. Langowan Timur, kab. Minahasa.

Jenis hama teridentifikasi yaitu.

  1. Ulat Penggulung/ Pelipat Daun, Cnaphallocrosis medinalis(Surtikati, 2016)

Gejala Serangan

Daun tanaman yang diamati sudah melipat/ menggulung. Ketika dibuka, dalam sisa lipatan atau gulungan ada kotoran hama. Daun terlihat menguning, karena telah dihisap cairannya. Pada daun yang menguning, selanjutnya menjadi warna kelabu karena proses mengering. Dari kejauhan bila diamati secara saksama, warna daun padi nampak kelabu dan mengering. Hama ini umumnya menyerang saat pertumbuhan vegetatif dan akan menghilang setelah dilakukan pengendalian.

Pengendalian

Pengamatan populasi, melalui aktivitas penerbangan imago (kupu-kupu putih) di tanaman padi. Jika presentase gejala serangan hama sudah melebihi 20% di pertanaman padi. Jika presentase gejala serangan hama sudah melebihi 20%, dapat menggunakan insektisida berbahan aktif klorantraniliprol dan tiametokan.

  1. Wereng Hijau, Nephotettix virescens

Gejala Serangan; daun berwarna kuning orage, mulai dari ujung daun meluas ke pangkal daun. Tanaman nampak kerdil dan jumlah akanan sedikit. Malai pendek dan bila sudah pada fase berbuah,malai pendek dan hampa. Gejala tersebut disebabkan oleh virus batang Rice Tungro Bacilliform Virus (RTBV) yang dibawa (carier) oleh serangga wereng hijau.

Pengendalian; Gunakan varietas yang tahan/ toleran tugro (spesifik lokasi) seperti; Varietas Inpari-8 atau Inpari 9), lakukan penanaman serempak. Bila dalam kondisi berat, pertimbangkan aplikasi insektisida bahan aktif: Bufrezin, Imidakkloprid, Karbofuran dan Tiametoksan

  1. Penggerek Batang Putih ( Scirpophaga innotata).

Gejala Serangan: “Sundep dan Beluk” adalah dua gejala tanaman padi sawah yang hkas terserang penggerak batang padi. Sundep merupakan gejala menguningnya daun tanaman yang dimulai dari ujung sampai pangkal, akibat larva yang memutuskan/ merusak jaringan xylem dan phloem dalam batang. Jika tanaman terserang pada fase promordia, maka tanaman akan menjadi hampa.

Pengendalian: tanaman terserang disabit/ potong serendah mungkin dari pangkal tanaman. Kemudian sisa tanaman disabit, digenang dengan air sampai tanaman membusuk.Amati puncak populasi penerbangan imago. Dosis pemupukan jangan berlebihan terutama nitrogen, pertimbangkan penggunaan insektisida dengan bahan aktiv Spinetoram, Dimehipo danKlorantraniliprol.

Hama Walang Sangit (Leptocorisa acuta). Hasil identivikasi di lokasi perbanyakan padi Inpari-24, adalah serangga pengganggu atau hama yang sering merusak tanaman budidaya, yaitu Walang sangit. Hama ini terdapat dan merusak pada hampir semua jenis tanaman. Namun dari sekian banyak jenis tanaman, yang paling disukai hama serangga ini adalah tanaman padi. Walang sangit memiliki bau yang khas dan sangat menyengat, karena baunya ini maka disebut walang sangit. Hama walang sangit akan mengeluarkan aroma khasnya jika ia dalam bahaya, aroma menyengat tersebut merupakan bentuk pertahanan diri dari ancaman predator. Di setiap daerah di Indonesia, hama walang sangit memiliki sebutan yang beragam, misalnya masyarakat Sunda menyebut dengan nama kungkang, masyarakat Sumatera menyebut dengan nama pianggang, masyarakat madura menyebut dengan nama tenangdan lain sebagainya.

Dampak dan Ciri Tanaman Diserang

  • Serangan walang sangit dapat menurunkan hasil 10-40%, tetapi pada serangan yang berat akibat populasi yang tinggi dapat menurunkan hasil sampai 100% atau puso.
  • Tanaman padi yang terserang walang sangit biasanya ditanam di sawah dekat hutan
  • Serangan walang sangit juga terjadi pada tanaman padi yang terlambat tanam
  • Walang sangit mengisap isi biji padi pada bulir matang susu (milk), bulir yang lunak (soft dough), dan bulir yang keras (hard dough)
  • Walang sangit tidak mengisap padi pada saat bunting atau masa pembungaan
  • Aktivitas walang sangit mengisap bulir padi selama 24 jam, tetapi waktu aktivitas yang paling banyak pada pukul 05-09 dan pukul 15.00-19.00.(Padi, 2016)

Cara Pengendaliannya

  • Membersihkan gulma di pematang, pertanaman, dan di sekeliling tanaman padi
  • Walang sangit datang di pertanaman sebelum tanaman padi berbunga, hidup pada gulma
  • Memasang bangkai binatang.  Walang sangit tertarik kapada bau bangkai, setelah berkumpul dapat disemprot dengan insektisida.
  • Menggunakan bahan kimia  (Decis, Regent, BPMC) bila populasi sudah mencapai ambang ekonomi 10 ekor/20rpn.
  1. Keong Emas, (Pomacea canaliculata).

Hama keong emas termasuk hama yang teridentifikasi dan sangat merugikan petani, ketika mereka menyerang tanaman padi. Tanaman padi rawan pada umur 1-15 hari setelah tanam (hst). Hama ini memotong tanaman muda, sehingga tanaman tidak dapat tumbuh dengan baik.

  1. Belalang (Acrididae). Gejala dominan yi. daun menggulung/melengket, berwarna kuning dan kelabu (mengering), prosentase serangan diatas 50% dgn intensitas kerusakan ringan sampai sedang.

Rekomendasi Pengendalian

Rekomendasi pengendalian yang dapat diberikan yaitu:  memelihara refugia untuk melestarikan musuh alami (Coccinelidae, Staphilinidae, Arahnidae, dll.). Dapat menggunakan insektisida yg bersifat kontak dan sistemik.

Pemupukan NPK tetap diberikan utk pemulihan daun tanaman yg dirusak hama penggulung.

Oleh: Arnold C. Turang,SP. Dr.Freddy Lala,SP.MSc dan Anneke Turangan,SP.