JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение
 

Memotret Pulau Terluar Sulawesi Utara: Kajian Inhouse Pengembangan Pangan Lokal

Awal Mei tahun 2017 Kementerian Pertanian melalui Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Balitbangtan Sulawesi Utara melakukan Pengkajian Inhouse Pengembangan Pangan Lokal Daerah Perbatasan Sulawesi Utara di Kabupaten Kepulauan Sangihe di desa Kawio dan desa Marore Kecamatan Marore.

Kajian pangan Lokal daerah perbatasan dilakukan untuk mendapatkan informasi karakteristik pangan lokal dan peluang pengembangannya, informasi kelembagaan usahatani dan informasi pola konsumsi pangan.  Dari data kajian yang diperoleh akan diformulasikan untuk menghasilkan paket teknologi spesifik lokasi pengembangan pangan lokal daerah perbatasan.  Kajian dilakukan oleh tim Peneliti, penyuluh dan teknisi BPTP Sulut berjumlah 12 orang bersama – sama dengan penyuluh lapangan kecamatan Marore selama kurang lebih 3 hari.

Desa Kawio secara administrasi merupakan bagian dari kecamatan Kepulauan Marore yang berbatasan langsung dengan negara tetangga Philipana, dengan jarak tempuh kurang lebih 37 mil laut. Untuk menjangkau desa tersebut dibutuhkan perjalanan kurang lebih 2 hari dari Manado ibukota Propinsi Sulawesi Utara dengan menggunakan Pesawat atau Kapal malam dan kapal cepat yang dilanjutkan dengan menggunakan Kapal Sabuk Nusantara.  Cara lain untuk mencapai pulau ini menggunakan Kapal Ferry dari pelabuhan Amurang ke desa Marore dilanjutkan dengan naik Perahu Pambut ke Kawio.

Kampung atau desa Kawio merupakan 92 pulau terluar Indonesia dan juga termasuk dalam kategori pulau kecil yang berpenghuni.  Berdasarkan PP No 38. Tahun 2002, maka pulau Kawio berada pada posisi 40’ 15,99’’ Lintang Utara dan 1250 25’ 41,02’’ Bujur Timur, berupa tanda batas Negara.  Kampung Kawio memiliki 3 gugusan pulau yaitu Pulau Kawio, Pulau Kemboleng dan Pulau Dokole.  Dengan luas pulau sekitar 140,1 ha dihuni oleh penduduk laki-laki 256 jiwa dan perempuan 210 jiwa, pulau ini menyimpan pesona potensi Pariwisata Pertanian, Perikanan dan bahari.  Penduduk desa ini bermata pencaharian utama adalah nelayan dan pekerjaan sampingan sebagai petani.

Selama penelitian, tim mengeksplorasi potensi Kampung Kawio baik di Pulau Kawio dan Kemboleng melalui beberapa kegiatan yaitu kegiatan Forum Group Discussion, PRA desa, survey usahatani dan kelembagaan, survey preferensi dan pola konsumsi pangan serta melakukan karakterisasi tanaman lokal yang existing tumbuh dan dikembangkan oleh masyarakat. Berbagai tanaman yang dieksplorasi yaitu jeruk atau lemon cui, pisang, kelapa, sagu dan umbi lokal.

Selain survey dan karakterisasi Tim juga membuat demplot penanaman pisang dengan pengaturan jarak tanam yang ditumpangsarikan dengan cabai dan ubi kayu.  Selain itu BPTP Sulawesi Utara juga melakukan Pelatihan pengolahan hasil berbagai produk dari umbi lokal seperti tepung dan produk turunan seperti mie, stik dan kue serta pengolahan keripik pisang. Pelatihan lainnya adalah pembuatan pupuk organik, dengan memanfaatkan sumberdaya lokal yang ada di desa, pelatihan penyemaian sayuran dan pemanfaatan pekarangan. Para petani dan masyarakat di desa Kawio amat respon dengan pelatihan dan teknologi yang diperkenalkan oleh BPTP Sulut.

Sekilas Potensi Kampung Kawio 

Ubi kayu, umbi daluga, sagu dan pisang merupakan makanan pokok yang dihasilkan sendiri oleh masyarakat pulau ini. Komoditas ini menjadi tanaman subsistensi untuk mempertahankan kehidupan mereka dan telah dikonsumsi sejak dahulu kala. Tanaman berkabohidrat ini tumbuh di pekarangan ataupun kebun berukuran kecil yang menyatu dengan perkampungan. Untuk sumber protein, yaitu ikan didapatkan sendiri oleh penduduk yang 100% adalah nelayan.  Penduduk sebagian menghuni di pesisir pantai dan sebagian lainnya berada di atas bukit yang subur. Pekarangan masyarakat difungsionalkan untuk menghasilkan makanan pokok, rempah, sayuran dataran rendah, dan tanaman yang dapat menghasilkan sumber pendapatan keluarga. Rata-rata pengeluaran rumah tangga adalah Rp. 300.000- Rp. 500.000/bulan.

Pulau Kemboleng yang merupakan pulau yang berhadapan dengan pulau Kawio memiliki potensi pertanian lokal yang beragam terutama umbi daluga, sagu dan kelapa.  Pulau ini dicapai dari Pulau Kawio sekitar 15 menit dengan perahu sederhana dan dapat dilalui dengan jalan kaki apabila air laut surut. 

Tanaman Ubi kayu yang disebut mereka ‘makalu’ intensif dalam pengusahaannya tanpa menggunakan pupuk dan pestisida. Sistem budidaya yang dilakukan yaitu tanam-panen yang dibutuhkan-tanam yang telah dipanen.  Sementara umbi daluga tumbuh secara liar di rawa-rawa ditengah Pulau namun amat subur.

Masyarakat pulau ini juga memiliki tanaman yang menjadi sumber pendapatan mereka, yaitu lemon ikan (‘lemong sui’) dan kelapa. Hampir semua rumah memiliki tanaman lemon ini, dan merupakan tanaman unggulan desa. Seperti umbi-umbian, kedua jenis komoditas ini tidak dipupuk dan disemprot dengan pestisida. Untuk kelapa yaitu kelapa dalam lokal, selain dibuat kopra juga untuk konsumsi sehari-hari. Tanaman ini telah tumbuh sejak dahulu kala, namun kepemilikan rata-rata hanya 7-9 pohon di pekarangan dan sedikit luasan 1 ha di kebun dengan jumlah 100 pohon/ha. Introduksi teknologi berupa varietas lain ataupun sistem budidaya belum pernah dilakukan di kampung ini.   Meneliti pola konsumsi masyarakat  kampung Kawio tidak lah berbeda dengan  pola konsumsi masyarakat kepulauan yaitu makanan pokok adalah  pangan lokal  yang dimakan  bersama dengan beras, sehingga disaat musim ombak pangan lokal seperti umbi dan sagulah yang menjadi andalan.

Sekilas Potensi Desa Marore

Setelah 3 menyusuri wilayah kampung Kawio, tim melanjutkan penelitian di desa Marore. Sebagai pusat ibu kota Kecamatan, desa ini lebih ramai dan berkembang dibanding desa Kawio. Di desa ini terdapat tugu perbatasan dan kantor Border atau perwakilan dari Negara Filipina. Berbeda dengan desa Kawio, desa Marore disinggahi oleh Kapal Ferry seminggu sekali selain kapal sehingga keluar masuknya barang lebih cepat.

Di desa Marore, tim BPTP Sulawesi Utara melakukan pertemuan dengan unsur masyarakat desa Marore seputar kegiatan usahatani dan melakukan survey pola konsumsi pangan dan karakteristik usahatani.  Kedatangan tim BPTP Sulawesi utara seolah menjawab kerinduan masyarakat akan informasi teknologi pertanian.

Penduduk desa ini, sebagian besar berada di pesisir pantai sehingga pemenuhan kebutuhan pangan tergantung pada kebun yang ada areal perbukitan desa atau pasokan dari desa Kawio.  Pekarangan sulit ditumbuhi sayuran dan rempah. Mata pencaharian utama mereka adalah nelayan dan saat musim ombak mengusahakan kebun dengan penanaman ubi kayu karena rata-rata 4 hari/minggu mereka menangkap ikan.  Di desa ini juga masyarakat sudah beternak babi yang sumber pakannya adalah pisang.

Seperti Desa Kawio, penduduk Marore memiliki pola pangan yang sama yaitu ubi kayu dan beras. Namun demikian, tingkat kehidupan mereka terlihat lebih sedikit di atas masyarakat Kawio.   

Disamping berinteraksi dengan petani, juga tim melakukan pendampingan KRPL bagi TNI yang bertugas di menjaga daerah perbatasan dengan penanaman cabai.(*artur).

Sumber: Meivi Lintang, Joula Sondakh, Agustinus Kairupan, Arnold C.Turang, Sudarti,