JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Aplikasi Teknologi Pertanian di Desa Poopo Kecamatan Ranoyapo Kabupaten Minahasa Selatan

Poopo-Minahasa Selatan, 23 Mei 2017---Pertemuan Aplikasi Paket Teknologi Pertanian di Desa Poopo Minahasa Selatan, bertujuan untuk menderaskan paket teknologi hasil kajian yang diformulasikan secara sistimatis  oleh para pengkaji di Balitbangtan, agar mudah diintroduksi dan diadopsi pelaku utama, pelaku usaha dan stakeholders di daerah.

Teknologi yang dideraskan dalam Aptek ini  meliputi: 1).Program pengembangan ternak sapi di Kabupaten Minahasa Selatan oleh kepala dinas pertanian dan peternakan Minahasa Selatan Bpk. Frans Tilaar, SP.MSi.; 2). Peran BPTP dalam mendukung Program SIWAB oleh Dr.Hiasinta F.J. Motulo, MSi.; 3). Kelembagaan ekonomi di tingkat Petani oleh Ir.Jantje G. Kindangen, MS. 4). Pengolahan tenaman rempah kering oleh Ir.Payung Layuk,MP. 5). Penggemukan sapi dengan pakan murah oleh Ir. Paulus C. Paat,MP. Serta Inovasi Kalender Tanam oleh Ir.Hartin Kasim.

Pertemuan yang diikuti oleh para perwakilan kelompok tani, guru Sekolah Pertanian, Penyuluh, Pelaku usahaternak dan Peneliti, dibuka oleh Kadis Pertanian dan Peternakan Minahasa Selatan.

Kadis Frans Tilaar,SP.MSi, mengapresiasi kegiatan APTEK yang dilaksanakan di wilayah kerjanya. BPTP melaksanakan di Minsel karena Peternak yang menjadi lokasi pertemuan adalah binaan BPTP dalam pemeliharaan ternak sapi sistem tower, dan telah berhasil di Minahasa Selatan.

Lebih Lanjut dijelaskan Tilaar, dengan kegiatan ini telah membantu pemerintah Minahasa Selatan dalam pengembangan Peternakan dan Pertanian. Konkritnya, salah satu petani yang didampingi BPTP, dalam kurun waktu 3 tahun, berhasil menggemukkan ±100 ekor sapi. Petani yang dulunya kesulitan memelihara tanpa sentuhan teknologi, telah berhasil membeli 1 mobil Fortuner tanpa kredit. Dan saat ini usaha ini terus berjalan dengan baik.

Lebih lanjut dijelaskan Kadis, bahwa petani binaan BPTP telah menelorkan petani-petani peternak mandiri di desa Poopo, serta telah mengangkat Minahasa Selatan di tingkat Nasional dengan kehadiran petani menerima langsung dari Presiden penghargaan Teladan. Bahkan banyak daerah lain telah datang melihat dan belajar di Desa Poopo ini, seperti yang ada saat ini pelaku usaha dari Samarinda yang sedang menjalin kerjasama untuk melebarkan kegiatan peternakan sistem Tower. Sebagai apresiasi Ibu Bupati Minahasa Selatan, maka telah dialokasikan dana Desa (Dandes) untuk pengembangan peternakan di Desa Poopo sebesar 30 Juta.

Dalam Pemaparan materi, Tilaar sangat berharap agar teknologi Balitbangtan melalui BPTP akan lebih dideraskan di Minahasa Selatan. Dan setelah mendapat masukkan dari BPTP, terkait banyaknya teknologi namun keterbatasan dana untuk penderasannya, beliau mengapresiasi dan sudah memastikan pada pertemuan rutin triwulanan para penyuluh dan pelaku usaha, akan menghadirkan BPTP sebagai sumber teknologi inovasi. Sehingga para penyuluh dan pelaku utama mendapatkan informasi jelas dari sumber teknologi.

Sementara Peneliti Peternakan Ir.Paulus C.Paat,MP. Memaparkan,salah satu teknologi pakan untuk penggemukan sapi yang berbasis bahan lokal dengan harga murah dan mampu mempercepat pertambahan bobot badan harian (PBHH) per ekor sapi lokal hingga lebih besar dari 600-800 g per ekor. Pakan penggemukan sapi ini dinamakan FPS-01 yang telah dilakukan oleh poktan Batu Kurung di desa Poopo, sejak September-Oktober 2015.

Menurut Paat, bahan baku dari formula ini dari bahan lokal yakni: Jerami Padi sebagai hijauan, bahan kosentrat dari dedak padi, tepung jagung, mineral lengkap, dan Nitrogen (Urea). Jerami padi menjadi pakan basal tunggal yang diberikan secara tidak terbatas (ad libitum) dalam Tower Jerami Otomatis.

Analisis keuntungan usaha melalui usaha penggemukan sapi dengan teknologi pakan FPS-01 meningkatkan pendapatan sampai 19,50%.

Peran BPTP dalam mendukung program SIWAB, oleh Ka. Balai Dr. Ir. Hiasinta J.F.Motulo,MSi. menjelaskan Ada lima teknologi BALITBANGTAN dalam mendukung program SIWAB yakni:

  1. Pakan aditif Kalem (Kalsium lemak) diberikan setiap hari sebagai sumber energi sehingga meningkatkan bobot badan
  2. Pakan aditif Probiotik Bioplus serat diberikan satu kali /awal musim kemarau atau 2 bulan sebelum induk melahirkan dan meningkatkan efisiensi pakan dan BB,
  3. Pakan aditif Minoxvit diberikan setiap hari, (memperbaiki status reproduksi induk)
  4. Pakan aditif Zn-Biokompleks, diberikan setiap hari (dapat meningkatkan reproduksi induk)
  5. Penerapan Teknik Jam Biologis, yaitu : suplementasi leguminosa selama 4 bulan (usia kebuntingan 8 bulan sampai 2 bulan setelah melahirkan), pemberian Bioplus serat pada usia kebuntingan 8 bulan akan menghasilkan pedet dengan bobot lahir yang baik, mengurangi kehilangan bobot badan induk setelah melahirkan, dan mempercepat estrus kembali setelah lahi

Sementara dari materi kelembagaan yang disajikan oleh Peneliti Utama Ir.Jantje G. Kindangen,MS. mengajak pelaku utama dan usaha untuk memaknai potensi Minahasa Selatan dengan luas 148.944 ha dengan areal sawah irigasi 4.957 ha dan sawah tadah hujan 690 ha, tegal/ kebun 25.109 ha, ladang 16.736 ha. Perkebunan 38.808 ha yang ditanam pakan 20.000 ha hanya untuk 20 ekor/ha. Sapi di Minsel 5 tahun terakhir ada 17.000 ekor.

Ketersediaan Sumberdaya di Minsel tersedia, dengan dukungan dana pemerintah dana fiskal serta teknologi Balitbangtan yang telah bermuara di Minsel, namun mengapa relatif belum berhasil ?. Hal ini yang menjadi pertanyaan dan harus di selesaikan. Karena kelembagaan belum optimal, pelaku usaha masih parsial, walau ada poktan. Dan pembinaan relatif belum terintegrasi dan komitmen stakeholder relatih belum optimal.

Pentingnya membangun kelembagaan kelompok tani adalah untuk peningkatan produktivitas, peningkatan pendapatan dan peningkatan kesejahteraan.

Disarankan untuk membangun suatu kelembagaan yang profesional dan mandiri sebaiknya menggunakan dana moneter (Perbankan ) bukan dana Fiskal ( bantuan APBD).Nilai tambah usahatani yang dikelola secara kelompok dan intensif meningkat 25 % dibanding dikelolah secara individu.

Kalender Tanam Terpadu (Katam) merupakan pedoman bagi dinas pertanian , penyuluh dan petani dalam menetapkan pola dan waktu tanam yang tepat sesuaidengan kondisi iklim disetiap kecamatan.

Hasil olahan rempah dari umbi, biji, kulit batang, bunga, daun dan buah dapat dimanfaatkan  dalam industri pangan, parfum, farmasi, flavor, pewarna, dan lain-lain.

Pengolahan rempah ditingkat petani masih secara tradisional dengan mutu yang dihasilkan belum memenuhi standar.

Perbaikan mutu dapat dilakukan dengan introduksi alat pengering dan pongolahan lanjutan dalam bentuk bubuk  dan instant yang mempunyai kelebihan yaitu pemakaian lebih praktis, menghemat ruang penyimpanan mudah ditangani, lebih awet, intensitas rasa lebih kuat dibanding rempah segarnya.

Analisis finansial pengolahan rempah kering dalam bentuk bubuk dan instant layak diusahakan dengan tingkat keuntungan mencapai  276 – 461 persen.(*Artur17).