JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение
 

OPSIN dan LTT Adalah Nafas Kita

‌Manado,11 Juni 2018---Opsin dan LTT adalah Nafas kita !, demikian Dr.Ir.Hiasinta F.J. Motulo, MSi., ketika memberikan arahan ipada ttim kerja internal BPTPBalitbangtan Sulut, yang ditugaskan mengkoordiner  di daerah yang telah di SK kan oleh Badan SDM.

Beliau berharap agar tim kerja intenal ini untuk segera berkoordinasi dengan daerah yang dikoordnier, sesuai dengan tupoksi.

Setelah pertemuan internal, secara maraton BPTP Balitbangtan Sulut menggelar Rakor Percepatan Opreasional Mesin (OPSIN) Pertanian di dua tempat; tanggal 7 Juni 2018 di Ruang Pertemuan BPTP Balitbangtan Sulut, dan tanggal 8 Juni 2018 di Aula Kodim 1303 Bolaang Mongondow, dengan mengefisienkan waktu sebelum Jumatan teman-teman yang menjalani puasa

Inti dari Rakor ini adalah selain untuk mendapatkan data riil jumlah dan kondisi Alsintan yang ada, mendapatkan umpan balik dan permasalahan lapangan. Juga dalam rangka mensosialisasikan kebijakan terbaru Kementan terkait OPSIN.

Dalam sambuan Kadis Pertanian melalui Kabid PSP, mengapresiasi gerak cepat Dr.Ir.Hiasinta J.F.Motulo,MSI. segera melakukan koordinasi dengan teman-teman di daerah. Untuk itu kita bangun hubungan kerjasama yang baik diantara para mantri tani, Danramil, Dinas Pertanian Kabupaten Kota serta BPTP Balitbangtan selaku Penanggung Jawab Alsintan Sulut.

Sementara PJ Alsintan Sulut Dr. Ir. Hiasinta F.J. Motulo, M.Si menekankan kembali apa yang disampaikan Mentan pada acara serupa di tingkat pusat bahwa Alsintan harus dikelola dan dimanfaatkan secara optimal untuk kesejahteraan petani dan bukti riilnya tergambar pada capaian luasan LTT yang dikerjakan di lapangan di lahan sawah, ladang dan kegiatan pertanian lainnya.

Hiasinta melanjutkan, bahwa setelah lebaran nanti tim kerja akan turun lapangan untuk melakukan identivikasi lapang pemanfaatan Alsin, serta pertemuan koordinasi dengan wilayah kepulauan Manado Minahasa Utara dan Kota Bitung (@arnold #acturang)

 

Gubernur Olly Gemakan Padi Merah (Inpari-24) di Sulawesi Utara

Manado, 20 April 2018---Padi Inpari-24, adalah jenis padi yang berwarna merah. Sesuai dengan deskripsi dari padi ini, termasuk padi yang diseleksi dari Bio 12 – MR-1-4-PN-6/ Beras Merah golongan cere.Setelah ditanam oleh Gubernur Sulawesi Utara dan didampingi oleh BPTP padi ini makin deras di masyarakat. Karena pak Gubernur selalu dalam setiap kesempatan, membicarakan keunggulan padi ini.

Sehingga dalam satu kesempatan, pak Gubernur ditawari beras merah lokal yang sering di pesan beliau, beliau tidak suka lagi beras yang ditawarkan, sambil berujar “ kita so ada beras merah, yang ada panen di kita pe kobong. Itu enak dan nyanda keras. Ngoni punya keras. Ambe itu, kong tanam, napa tu BPTP yang ada kawal itu padi “ Saya=Pak Gub. Sudah ada beras merah, yang dipanen di sawah pak Gubernur. Itu enak dan tidak keras, ambil itu dan di tanam, ini BPTP yang mengawal padi itu, tuturnya. Kebetulan saat pak Gubernur sedang dalam satu pertemuan bersama kepala BPTP Sulawesi Utara Dr. Ir. Hiasinta J.F. Motulo, MSi.

Gema Gubernur direspons oleh petani dari langowan yang menjadi langanan beliau untuk mendapatkan beras merah lokal yang keras, kata beliaua. Petani segera menemui BPTP dan segera ditindak lanjuti dengan kegiatan perbenihan Padi Merah Inpari 24 di Desa Sumaraya Langowan Timur Kabupaten Minahasa.

Pada lahan luas 3 ha, BPTP melakukan perbanyakan benih Inpari-24 bersama petani penangkar binaan BPTP. Kegiatan ini sudah masuk pada fase semai dan siap tanam.

Dengan kegiatan produksi benih komoditas program strategis Kementerian Pertanian, menjadi titik ungkit kebersamaan membangun dan menggerakkan pertanian di Sulawsi Utara.

Ketika dicanangkan oleh pak Kepala Dinas Pertanian saat tebar benih Inpari-24 bersamaan dengan kegiatan temu teknis gerakkan tanam panen/ brigade alsintan di desa Sumarayar, kepala Dinas Pertanian Sulawesi Utara Ir. Novly Wowiling, MSi., berharap agar para penggerak pertanian di Sulawesi Utara semakin pro aktive dalam merespons permasalahan petani di Sulawesi Utara.(acturang).

 

Selaras dan Sinergikan Program Strategis Kemtan Dan Stakeholders di Daerah: Rapat Pembahasan Matrik Kegiatan 2019

Suasana Pertemuan dan Beberapa Kegiatan Lapang

Ruang Pertemuan BPTP Balitbangtan Sulut, 22 Mei 2018---Dalam rangka memantapkan kegiatan litkaji dan diseminasi BPTP Balitbangtan Sulut, telah dilaksanakan rapat pemantapan program litkaji 2019 di BPTP Balitbangtan Sulawesi Utara (22/05).

Tujuan kegiatan ini, menurut koordinator PE Dr. Ir. J.B.M.Rawung, agar nantinya kegiatan yang dilakukan selain mengacu kepada program strategis Kementan, juga harus selaras dan sinergi dengan program dan kegiatan yang ada di stakeholders.

Kegiatan diawali dengan membacakan arahan kepala BPTP: “Kegiatan In House berdasarkan kebutuhan teknologi yang didiskusikan pada saat kegiatan APTEK.  Kegiatan diperbanyak pada diseminasi teknologi hasil kajian yang memang sudah Given. Kegiatan apa saja yang akan di diseminasikan dalam skala luas/ demfarm. Dan harus diingat, setiap demfarm harus menghasilkan benih, terutama pajale.

Kegiatan Bio-Industri harus menghasilkan produk, terintegrasi dan berkelanjutan dalam kawasan. Harus dibahas agar kegiatan Bio-Indistri menjadi Core bisnis poktan kooperatornya”.

Rapat yang dipimpin Koordinator PE, Dr. Ir. Jefny B M. Rawung, M.Si,  diikuti oleh peneliti, penyuluh, PPK, dan dari KSPP BPTP Balitbangtan Sulut. (#acturang)

Sumber: Koordinator PE, KSPP.

Wolaang Berkontribusi Untuk Cadangan Beras Bulog

Minahasa,09/03/'18---

Wolaang kemarin memberikan sumbangan 1 ton untuk cadangan beras pemerintah. Ketika tim kerja Sergab berkordinasidi wilayah Langowan, berhasil mendapatkan 1.000 kg beras dari gilingan pak Fransye Rewa.

Dari penelusuran tim, memang relatif menemui kesulitan, karena gabah petani dijemput langsung oleh tengkulak di sawah. Seperti yang dialami langsung tim kerja BPTP dan PPL di Langowan Timur. Ketika bersua dengan pak Boy Mumu, yang sedang melakukan panen. Pihak gilingan telah melepas karung dengan harga pembelian gabah Rp.380.000/ karung. 1 karung setara dengan 80 kg sampai 90 kg. Bila konversi ke baras sekitar 60 kg beras. Dan yang dipanen sekitar 15 karung.

Menurut petani, bila harga seperti saat ini, sebagai petani berterima kasih pada pemerintah, karena gabah dijemput tengkulak di sawah dengan harga cukup lumayan. Sehingga kata petani, bila pembelian gabah terus diatas Rp.350.000 per karung, petani berjaya. Tapi bila pembelian dibawah harga Rp.350.000, petani hanya pas-pasan saja pendapatannya. Tapi saat ini cukup lumayan, karena dijemput langsung pihak gilingan dan semoga akan terus lebih baik lagi kedapan.

Venomena ini, sedikit menyulitkan tim Sergab karena harga Bulong, sedikit dibawah pembeli lain. Karena Bulog cadangan yang harus disimpan lama. Beda dengan pembeli lain yang harus melayani konsumen dan tidak begitu lama disimpan, sudah disalurkan.

Untuk itu, harus tetap berkoordinasi dengan tim dan menjalin kerjasama dengan petani dan Gilingan serta memberikan penjelasan standar pengelolaan gabah menjadi beras yang berkwalitas pada petani, agar harga lebih baik yang diberikan Bulog pada petani. 

Memang ketika petugas BPTP dan PPL mencoba untuk menawarkan harga pada petani, sedikit diatas pembeli lain denganharga Rp.390.000, dengan agak ragu petani beralasan “ya, gilingan so kase karung’, gilingan telah memberikan karung ke petani. Tapi petani agak ragu dan sudah mau menerima, bila kita langsung bayar. Tapi karena belum juga ada uang dan masih berkordinasi dengan TNI, tim belum jodoh dapat Gabah petani untuk Sergab, saat itu.

Lain disawah, lain ketika BPTP dan PPL ke Gilingan pak Fransye Rewa, bersama dengan TNI, melakukan neko dengan Fransye, dan beliau bersedia memberikan 1 ton beras miliknya dengan harga Rp.9.000. Setelah dilakukan pemeriksaan oleh Bulog, pembayaran dilakukan dan segera diangkut ke Gudang Bulog Manado oleh TNI.

Sergab Minahasa berhasil mendapatkan 1 ton beras Ciherang pada bapak Fransye Rewa. Terima kasih pak Rewa atas kesediaan mengisi lumbung untuk cadangan beras kita di Sulawesi Utara. Dan bila ada lagi yang akan di giling, segera hubungi Sergab.

Kegiatan Sergab yang berkoordinasi dengan pihak kepolisian, menjadi menarik bagi masyarakat sekitar, karena baru kali ini ada kegiatan TNI,Polisi, Petugas Pertanian, dan BPTP Balitbangtan di Desa Wolaang. Hadir saat itu; Pasiter Kodim Minahasa Kapt. Inf. Juris Sahese, KoramilLangowan H.M.Langi, Babibsa se Langowan, Ka.Polsek Langowan Ipda Tasman Mandak, Bripka Mugiyono, Aiptu J. Kaparang, BPTP Balitbangtan Sulut, BPP Anneke Turangan, Hukum Tua Wolaang. (@acturang)

 

"TARABAS" Varietas Padi Premium Kini Hadir di Sulut

Manado, 22 Mei 2018---Dalam rangka mendukung terwujudnya kedaulatan pangan Pemerintah  Indonesia menargetkan untuk menghentikan impor beras, termasuk untuk jenis beras-beras Premium yang selama ini masih diimpor oleh Indonesia antara lain beras tipe Japonica, Basmati dan beras lain dengan indeks glikemik rendah.

Padi varietas Tarabas merupakan salah satu padi tipe Japonica yang dihasilkan Badan Litbang Pertanian, Kementerian Pertanian. "Tarabas" berasal dari bahasa Sunda yakni "Terabas" yang berarti terobos.

Balai Pengkajian Teknologi Pertanian  (BPTP) Balitbangtan Sulawesi Utara saat ini sedang mengembangkan dan mendiseminasikan varietas padi ini melalui kegiatan Demplot PTT (Pengelolaan Tanaman Terpadu) Padi Sawah Varietas Tarabas pada Kelompok Tani Makaaruyen Woloan 3, Kecamatan Tomohon Barat Kota  Tomohon.

Saat ini umur tanaman padi Tarabas 14 hari (HSS) dengan penampilan tanaman yang baik.

Beberapa keunggulan dari padi varietas Tarabas :

  1. Memiliki tekstur nasi pulen, mutu beras premium dengan kadar amilosa rendah 17 %, dan tergolong sebagai sticky rice.
  2. Tahan terhadap penyakit Blas dan agak tahan terhadap Tungro
  3. Produksi 4 - 5 ton/ha.
  4. Tekstur nasi : sangat pulen.

Kelemahannya adalah kurang tahan terhadap Wereng Batang Coklat (WBC) dan Hawar Daun Bakteri (HBD)(kresek) sehingga perlu pengendalian OPT secara maksimal.

Sumber: Louise A. Matindas

Ikuti juga: Tarabas Luci dan Engkau Merah, Berkembanglah di Tomohon

Lansuna Berjaya Juga di Dataran Rendah

Setelah melalui beragan terpaan pada saudaraku “Lansuna” (Bawang Merah khas di Sulawesi Utara) ternyata, dapat juga memberikan hasil 12 Ton per ha.

Terpaan yang dialami; dia harus bertumbuh baik, dalam kondisi off season kata penelitinya. Dimana kondisi itu tidak mengenakkan bagi saudarah “Lansuna”, untuk bertumbuh dan menghasilkan baik. Karena suasana itu bagi keluarga bawang-bawangan, suatu kondisi ekstra lebih kuat dalam motivasi hidup.

Kondisi itu, mereka akan mengalami cuaca ekstrim, dan saat menjelang panen lebih buruk lagi dengan kondisi hujan. Sehingga mereka terancam dengan serangan hama dan penyakit. Teknologi Inovasi Budidaya Bawang Merah, harus ketat dilakukan oleh pengawal, agar dapat merawat dengan baik Lansuna. Bagi pengawal yang mendampingi Lansuna harus juga kerja ekstra merawat Lansuna, agar dia sehat dan memberikan hasil seperti diharapkan.

Setelah melalui beragam kondisi yang mengancamnya, akhirnya setelah menjalani 62 hari, Lansuna dapat dipanen. Memang ada beberapa saudaranya yang tidak terlalu tahan terhadap goncangan alam sekitar, akibat cuaca. Mereka ada yang mati dan tidak dapat memberikan hasil baik.

Memang, sebelum lansuna ditanam, sudah beragam cobaan dialami. Dikatakan lansuna tidak akan jadi bila ditanam di daerah dataran rendah (sekitar 200 mdpl) . Kalau dia tumbuh baik, hebat. Namun semuanya ditangkis dengan keyakinan, bila kita perlakukan dengan baik Lansuna akan berikan yang kita harapkan. Kita harus memahami saudara Lansuna, seperti kita pahami diri kita. Kita berikan kebutuhannya, agar dia hidup dan memberi hasil dengan baik.

Setelah Lansuna memberikan hasil lebih dari 20 T per ha, di daerah 650-700 mdpl, dia juga dapat memberikan hasil baik 12 T di dataran rendah tepatnya di desa Kolongan kec. Kalawat kab. Minahasa Utara.

Selamat menderaskan kemampuan saudara Lansuna, Bawang Merah khas di Sulawesi Utara dengan kelebihannya. Bila kita merawatnya dengan baik, dalam 62 hari untuk dataran rendah, pendapatan kita bisa lebih dari Rp.200san juta. (acturang)

Minahasa Panen Terus: Produksi Benih Sumber Inpari-31 di Tincep Kabupaten Minahasa

Tincep 09 Mei 2018---Tahun 2018, Badan Litbang Pertanian menggerakkan dan menggalakkan kegiatan produksi benih. Karena benih sebagai titik ungkit utama teknologi inovasi dalam peningkatan pendapatan petani.

BPTP Sulawesi Utara, melalui kegiatan Produksi Benih Komoditas Program Strategis Kemtan melakukan produksi benih sebar kelas ES sebanyak 14 ton. Kegiatan ini dilaksanakan pada 3 titik pengembangan yaitu di Desa Tincep Kecamatan Sonder pada koordinat 10 16’ 30”, 1240 44’ 58” pada ketinggian 391,4 mdpl, Desa Sumarayar Kecamatan Langowan Timur  pada koordinat  10 10’ 24”, 1240 50’ 56” dengan ketinggian 716,7 mdpl Kabupaten Minahasa yang menurut pengalaman musim petani, masuk pada fase tanam gadu.

Dari hasil CPCL tim kerja, di Sulawesi Utara petani begitu menyukai varietas unggul baru (VUB) Padi Sawah Inpari-31 dan Inpari-24 beras merah. Varietas Inpari-24, kebetulan diperkenalkan pertama oleh Gubernur Sulawesi Utara Olly Dondokambey,SE. Dimana, setiap kunjungan kerja di daerah, Olly Dondokambey,SE. Selalu memperkenalkan beras merah yang pernah beliau tanam.  Memang yang pertama menanam varietas ini adalah beliau, yang dikawal dan didampingi langsung oleh BPPTP Sulut.

Pengembangan pembibitan dimulai pada tanggal 23 Pebruari 2018, varietas Inpari-31 ditanam bersama petani penangkar binaan BPTP di desa Tincep Kecamatan Sonder. Pada lahan luas 2 ha, ditanami dengan vaietas Inpari-31. Teknologi produksi benih langsung didampingi oleh BPTP Sulawesi Utara, dan BPSB Minahasa.

Pendampingan dimulai dari prosedur awal dimana melaporkan varietas yang akan dikembangkan sumber dan lokasi sampai pada tahapan-tahapan produksi dan pada fase prosesing. Ini dilakukan untuk benar menghadirkan benih yang betul-betul berkualitas pada petani saat memproduksi padi sawah.

Teknologi produksi mengacu pada Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) Padi Sawah. Mulai dari VUB, Penggunaan Bahan Organik Lokal, Sistim Tanam Jajar Legowo 2:1 setiap rumpun 1-2 tanaman, Pemupukan Tepat (Waktu, Dosis, Cara), Pengendalian Hama dan Penyakit (PHT), dan yang lebih penting keterpaduan pengelolaan sistim yang terkait dengan produksi mulai dari koordinasi internal tim dan eksternal di lapangan.

Dari hasil pengambilan sampel dan ubinan baik pihak Dinas dan BPTP, produksi dapat ditaksir untuk luasan 1 ha, petani mendapatkan hasil  8,1 ton. Ini diukur dalam sampel ubinan sebanyak 3 titik sampel , dan diambil nilai rataannya. (*#acturang)

BPTP Sulut Siapkan Bibit Cengkeh dan Pala: Mendukung Kejayaan Tanaman Rempah Indonesia

Manado, 15 Pebruari 2018---Kejayaan Tanaman Rempah Indonesia menjadi harga mati, untuk disukseskan. Dalam setiap kesempatan penderashiliran Kembalikan Kejayaan Tanaman Rempah Indonesia, terdengar berkumandang.

Derasnya upaya mengembalikan kejayaan Tanaman Rempah Indonesia (#KejayaanTanamanRempahIndonesia), telah ditindak lanjuti dengan kegiatan pendukungnya.

BPTP Balitbangtan Sulawesi Utara, telah menyiapkan 40 ribu bibit Cengkeh Unggul Lokal dari penangkar benih cengkeh. Kondisi saat ini, pertumbuhan baik dan diharapkan tahun ini sudah dapat tersalurkan pada masyarakat, sesuai dengan CPCL dari Dinas Perkebunan. Dari target 40 ribu bibit tanaman Cengkeh, dan saat ini ada ketambahan lagi untuk diperbanyak pada tahun ini.

Demikian dengan tanaman Pala. Dari target yang ditetapkan 22 ribu tanaman pala diharapkan dapat disalurkan pada tahun ini. (#acturang)

Teknologi Spelok Gerakkan Pertanian di Sulawesi Utara

Manado, 30 April 2018--- Bertempat di ruang  F. J. Tumbelaka kantor Gubernur Sulut, para penggerak pertanian di Sulawesi Utara mengikuti kegiatan yang di kemas BPTP Sulawesi Utara dalam kegiatan Temu Aplikasi Teknologi Pertanian.

Dalam upaya meningkatkan kompetensi dan kinerja penyuluh sebagai ujung tombak penyuluhan maka Kementan melalui BPTP Balitbangtan Sulut bekerjasama dengan Pemda Prop. Sulut melaksanakan kegiatan Temu APTEK .

Acara ini dihadiri oleh Kadistanak Provinsi Sulut beserta staf, perwakilan peneliti, litkayasa, widyaiswara, guru SPMA, dosen Unsrat, KTNA, petani maju, petani kooperator, Balitbangda, BPTPH, BPSB, dan BPTP Sulut.

Kepala BPTP Balitbangtan Sulut Dr. ir. Hiasinta F. J. Motulo, M.Si  dalam sambutan mengatakan bahwa: dengan penyelenggaraan APTEK ini diharapkan dihasilkan  bahan usulan Rekomendasi Teknologi Pertanian Spesifik Lokasi di Sulawesi Utara beserta umpan balik, masukan dan permasalahan pertanian guna perbaikan teknologinya.

Gubernur Sulawesi dalam sambutan yang dibawakan oleh Kadistanak Sulut Ir. Nouvly Wowiling, M.Si menyatakan bahwa: pemda sangat memandang penting acara ini karena yang dapat mengungkit peningkatan hasil petani adalah inovasi teknologi. Terutama teknologi spesifik yang telah dihasilkan oleh para pengkaji di Sulawesi Utara.

Teknologi merupakan kebutuhan, tanpa teknologi tak akan maju. Oleh karena itu, sejalan dengan kebijakan Distanak provinsi Sulut, maka model pertanian terintegrasi, berkelanjutan, yang modern sudah dilakukan Distanak Sulut yang dibangun berdasarkan koordinasi,  sinkronisasi, sinergitas dan komitmen bersama semua stake holder  lingkup pertanian Sulut.

Materi yang disampaikan pada acara ini adalah hasil-hasil Litkaji spesifik lokasi Sulawesi Utara seperti: Inovasi Teknologi Budidaya Padi produksi Tinggi, Inovasi Teknologi Perbenihan Jagung Hibrida, Diseminasi  Inovasi Teknologi Bawang Merah Varietas Unggul Lokal Lansuna, dan Inovasi Teknologi Kandang Tipe Tower Jerami.

Hasil Aptek ini segera dijawab Kadistanak dengan mencanangkan program kerja bersama dalam bentuk  Bimtek ke Kelompok-kelompok Tani di sentra-sentra produksi bawang merah, jagung dan kedelai.

Petani Cengkeh dan Pala Sulawesi Utara Apresiasi Menteri Pertanian: Kembalikan Kejayaan Indonesia Penghasil Rempah-Rempah Dunia

Talawaan Bantik, 28 Des 2017---Petani penangkar benih perkebunan Sulawesi Utara : Minahasa Utara dan Petani Minahasa apresiasi kebijakan Kementerian Pertanian, atas kebijakan membantu petani Cengkeh, Pala dan Kelapa,untuk kembalikan kejayaan Indonesia Penghasil Rempah-rempah Dunai.

Ini terungkap setelah Dr.Ir. Hiasinta F.J.Motulo, MSi., membuka kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) petani penangkar dan calom penangkar tanaman perkebunan. Hiasinta, tahun 2018, telah dicanangkan sebagai Tahun Perbenihan. Dimana BPTP Balitbangtan Sulut di Manado, ditugaskan untuk memproduksi benih/ bibit komoditas penghasil rempah-rempah Dunia.

Bibit Cengkeh dan Pala yang kita perbanyak di Kebun Percobaan akan kami bagikan pada petani. Untuk tanaman Cengkeh ada sekitar 40-50 ribu pohon yang disiapkan. Bibit Pala sekitar 20-25 ribu tanaman yang kita siapkan tahun 2018. Produksi ini dengan mengikuti persyaratan perbenihan, yang ditetapkan melalui Dinas Perkebunan Sulawesi Utara.

Agar program Kementan tersebut dapat berjalan lancar dan sukses di Provinsi Sulawesi Utara, kita perlu melaksanakan Bimtek Perkebunan ini. Bersama dengan Balai Pengujian dan Pengawasan dan Sertifikasi Benih Tanaman Perkebunan (BP2SB-TP), serta petani penangkar dan calon penangkar serta petani sekitar, kita diskusi terkait Sukseskan Tahun Perbenihan 2018. Agar produksi benih/bibit yang dihasilkan benar mengikuti aturan-aturan yang telah diatur pemerintah.

Sementara itu, Camat Wori saat membawakan sambutan, mengapresiasi kegiatan ini. Eduard Tahulending,SE. Menguraikan potensi yang dimiliki daerah yang dia pimpin. Dari potensi perkebunan yang masih banyak belum tertanami karena ketersediaan benih unggul tanaman perkebunan masih kurang jelas. Sampai ajakan dan memerintah masyarakatnya untuk mengikuti dengan baik kegiatan ini,agar kejayaan tanaman rempah-rempah ini kembali berjaya. Dan yang pasti kami mohon saat pembagian tolong diprioritaskan daerah kami yang ada KP-Pandu, imbuhnya.

Tiga materi yang disampaikan dan oleh pihak BP2BS-TP, oleh pengawas benih Syenny M.M. Goniwala,SP. Yang menguraikan terkait regulasi sertifikasi, Peneliti BPTP Sulut Ir. Ibrahim E. Malia,MAgr. terkait teknik produksi bibit cengkeh serta Ir. Jeaneke Wowiling tentang Perbanyakan bibit pala dan teknik perbanyakan generatif, untuk hasilkan pohon betina pala.

Kegiatan diikuti oleh sekitar 50-60 peserta, dari 25 peserta yang direncanakan tim kerja pembibitan tanaman perkebunan di BPTP Balitbangtan Sulut di Manado. Menurut data absensi peserta dan target tim kerja dimana: petani penangkar Cengkeh 10 orang direncanakan yang ada 11 orang, petani penangkar Pala, dari 10 direncanakan hadir 12 orang dan petani calon dan petani sekitar dari 4 orang direncanakan hadir 15 orang yang hadir. (#acturang).